BREAKING NEWS

Firdaus HB : Menyulam Ranah dan Rantau, Lalu Menggerakkannya // Catatan Budaya Pinto Janir

Sudah lama benar saya tak ke Jam Gadang. Sudah lama pula saya tak mencicipi nasi kapau Hj. Ni Mes. Pasa Lereang dan Pasa Ateh pun sudah lama tak saya jelang jelang. 

Senin, 17 Agustus 2026, saya raun indah bersama bini. Seusai menikmati nasi kapau Hj. Ni Mes, kami main-main ka Pasa Ateh. Di tengah agak lengangnya Pasa Ateh, saat sedang berjalan-jalan, saya basarobok dengan Ir. Firdaus HB.

Maka, baiklah. Saya bercerita sedikit tentang Firdaus.

Firdaus HB adalah tokoh masyarakat dan pengusaha Minangkabau yang sejak lama menaruh perhatian pada satu perkara besar.Yakni, bagaimana menyambungkan kembali ranah dan rantau agar tidak hanya saling mengenang, tetapi saling menguatkan.

Lahir di Bukittinggi, 6 Maret 1968, Firdaus berdarah Lambah, Kabupaten Agam. Ia dikenal sebagai Ketua Forum Minang Maimbau (FMM) sekaligus salah seorang penggerak Forum Silaturahim Saudagar Minangkabau (FSSM), yang berkembang dari Temu Saudagar Minangkabau.

Bagi Firdaus, merantau bukan sekadar meninggalkan kampung untuk mencari kehidupan. Merantau, baginya adalah perjalanan menimba pengalaman, membangun jaringan, mengumpulkan kekuatan, kemudian kembali membawa manfaat ke ranah.

Ia berusaha mempertemukan perantau, pemerintah, pelaku usaha dan masyarakat nagari dalam berbagai forum yang diarahkan pada kerja nyata, bukan kerja ota. 

Yakni dengan penguatan ekonomi, investasi, pariwisata, kuliner dan jejaring usaha Minangkabau.

Firdaus juga mendorong potensi Kabupaten Agam agar tidak berhenti sebagai potensi yang belum terangkat ke permukaan ekonomi berbasis kampung. 

Nagari Kapau, misalnya, ia bayangkan sebagai destinasi wisata kuliner berbasis homestay dan ekonomi lokal. 

Di Ampek Koto, ia menggagas kolaborasi perantau dan tokoh daerah dengan mengintegrasikan kekuatan Lambah, Koto Gadang, Guguak, Balingka dan nagari-nagari lainnya.

Di situlah cara berpikir Firdaus terlihat. Ia paham, ranah memiliki tanah, alam dan kebudayaan. Sementara,rantau memiliki jaringan, pengalaman dan modal. 

Jika keduanya bertemu, yang lahir bukan sekadar kebanggaan, tetapi kekuatan ekonomi dan sosial.


(Firdaus HB bersama Boy Rafli, Irman Gusman dan Boy Rafli) 

Bersama Irman Gusman putra kebanggaan rang Guguak Tabek Sarojo, Yendra Fahmi dari Sianok VI Suku, Boy Rafli Amar dari Koto Gadang, dan Karni Ilyas dari Balingka, Firdaus turut menggagas terbentuknya Perhimpunan Perantau Kecamatan IV Koto, Kabupaten Agam. 

Salah satu arah gerakannya adalah pemberdayaan ekonomi kerakyatan berbasis kecamatan.

Dan pada Senin, 17 Agustus 2026, saya mendapati satu bukti lain dari cara berpikir itu.

Rupanya, Firdaus sudah tiga hari berada di kampung. Apa misinya? 

Ternyata, atas dukungan Dony Oskaria, Kepala BP BUMN yang berasal dari Sianok VI Suku dari garis ayah, serta para perantau asal Sianok Anam Suku lainnya, ia mempersiapkan langkah penyelamatan Tabiang Takuruang dari ancaman longsor yang berkepanjangan. 

Termasuk mengupayakan pengamanan rumah-rumah warga di sepanjang aliran Batang Sianok yang terancam longsor.

Ini bukan lagi soal forum. Bukan pula sekadar ruang pertemuan. Bukan juga sekadar nostalgia orang rantau terhadap kampung.

Ini adalah jawaban atas harapan masyarakat kepada dunsanak mereka di rantau.

Sebab bagi Firdaus HB, rantau tidak seharusnya hanya menjadi tempat mencari hidup. Rantau harus menjadi tempat menghimpun kekuatan untuk menghidupkan ranah.

Begitulah semestinya filosofi merantau bekerja,pergi untuk tumbuh, pulang untuk menguatkan.Bak kata pepatah "karatau madang di hulu, babuah babungo balun, marantau bujang dahulu di rumah baguno balun".

Ranah dan rantau tidak boleh berjalan sendiri-sendiri.Keduanya harus disulam menjadi satu kekuatan.

Lalu digerakkan..! 

Untuk nagari. Untuk masyarakat. Untuk Minangkabau.

Bumiku Minangkabau, langitmu Indonesia. 

Salam Budaya : Pinto Janir

17 Agustus 2026.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image