Di Rantau, Bundo Kanduang Merawat Nilai, Menjaga Martabat Keminangkabauan
Indokatanews Jakarta: Mereka datang membawa cinta.Cinta kepada ranah bundo kanduang nan tak pernah reda-reda. Mereka datang tidak membawa sawah ladang atau rumah gadang, tapi membawa kerinduan di ruang ingatan yang tak lapuk dek hujan dan tak pula lekang dek paneh garang. Ingatan tentang adat. Tentang bahasa Minangkabau yang mulai tergerus zaman. Dan tentang cara hidup yang diwariskan dari ranah ke Rantau.
Di Hotel Balairung, Jakarta, Sabtu (7/2/2026), perempuan-perempuan dari Ranah Minangkabau itu berkumpul. Mereka melaksanakan Musyawarah Daerah. Tetapi bagi mereka, ini lebih dari sekadar Musda. Ini adalah ikhtiar menjaga rumah gadang biar tak runtuh dimakan zaman disapu kemajuan teknologi yang makin dahsyat.
Perkumpulan Bundo Kanduang Minangkabau (PBKM) Provinsi DKI Jakarta menggelar Musda ke-2. Forum ini menjadi ruang konsolidasi perempuan Minang di rantau. Ruang tempat bertanya: bagaimana adat hidup di kota besar tanpa harus melenyapkan identitas kita sebagai orang Minang? Bagaimana tetap mempertahankan nilai nilai berminangkabau di tengah arus zaman yang makin bergelombang?
Dari musyawarah itu, lahirlah satu kesepakatan. Dr. Rosita Medina, MM terpilih sebagai Ketua PBKM DKI Jakarta untuk masa bakti 2026–2030. Ia bukan wajah baru. Ia melanjutkan jejak kepengurusan sebelumnya, yang telah meletakkan dasar kuat bagi peran Bundo Kanduang di perantauan.
Ketua Panitia Musda, Erni Abas, SE, menyebut Musda ini berlangsung tertib dan penuh semangat kebersamaan. Bagi PBKM, musyawarah bukan sekadar prosedur organisasi. Ia adalah tradisi. Cara orang Minangkabau merawat mufakat.
Musda ke-2 ini juga dihadiri Ketua Bundo Kanduang Pusat, Prof. Dr. Ir. Raudah Taib. Kehadirannya mempertegas posisi PBKM DKI Jakarta sebagai bagian penting dari jejaring perempuan Minangkabau nasional.
Acara diawali dengan nyanyian. Vokal Grup Padusi PBKM Jakarta Timur melantunkan lagu-lagu Minang. Nada-nada itu mengalir pelan, menghidupkan kenangan. Di tengah gedung megah ibu kota, suara kampung halaman terasa dekat. Serasa, Minangkabau di ruang mato !
Dalam sambutannya, Rosita Medina menegaskan bahwa PBKM DKI Jakarta akan terus bergerak sebagai penjaga adat Minangkabau yang lentur dan adaptif. Menurutnya, adat tidak boleh diperlakukan sebagai benda museum. Ia harus hidup, berdialog dan menjawab kebutuhan zaman.
“Bundo Kanduang adalah limpapeh rumah gadang,” ujar Rosita. “Di rantau, kami menjaga nilai. Mendidik generasi muda. Merawat harmoni sosial.”
Ia mengapresiasi kepemimpinan PBKM periode 2022–2026 di bawah Suherny Syam, SE. Pada periode tersebut, PBKM DKI Jakarta aktif dalam kegiatan sosial, penguatan ekonomi perempuan, serta pelestarian budaya Minangkabau di ruang-ruang publik Jakarta.
Memasuki periode kedua, PBKM DKI Jakarta menempatkan kolaborasi sebagai kunci. Organisasi ini memperluas jejaring dengan pemerintah daerah, organisasi perempuan lintas etnis, komunitas pemuda Minang dan lembaga adat.
Tujuannya jelas: menjadikan nilai Minangkabau tidak hanya lestari, tetapi juga memberi manfaat nyata dalam pendidikan keluarga, pemberdayaan ekonomi dan penguatan identitas budaya di perantauan.
Musda ke-2 PBKM DKI Jakarta dihadiri sekitar 130 anggota Bundo Kanduang dari lima wilayah DKI Jakarta. Hadir pula tokoh masyarakat Minang, akademisi dan perwakilan organisasi perantau.
Bagi PBKM, Musda ini adalah penegasan peran perempuan Minangkabau di kota besar. Bahwa di tengah modernitas Jakarta, mereka tidak sekadar bertahan. Mereka berkontribusi. Menjadi penyangga nilai di ruang sosial yang terus berubah.
“Perempuan Minangkabau di rantau bukan hanya penjaga adat,” kata Rosita. “Mereka adalah pengikat sosial. Penjaga keseimbangan. Penyemai keteduhan.”
Musda pun usai. Tetapi tugas belum selesai.
Di rantau, rumah itu terus dijaga oleh perempuan-perempuan yang setia pada nilai dan berani menatap masa depan dalam spirit Minangkabau yang tak pernah lenyap di ruang dada dan pikiran ! (Agusmardi)
