BREAKING NEWS

Budaya dan Kreativitas dalam Spirit Solidaritas Cinta Bangsa //Catatan Budaya ; Pinto Janir

Dengan segelas kopi hangat, kami bercakap cakap tentang budaya,karya dan kreativitas bermuatan cinta bangsa dalam spirit kasih dan sayang berbilik hati kemanusiaan, pada Senin pagi (3 Agustus 2026) yang cerah; bersama Endang Tirtana dan Ariyo Bimmo serta Wawa Riki Sukra. 

Konklusi Percakapan kami, saya susun dalam sebuah esai budaya. 

Selamat mengikuti! 

Nan sebenar benar kata, jejak batin peradaban itu adalah budaya. 

Pada kamar budaya, ada etalase  nilai, adab, keyakinan, dan kebijaksanaan yang diwariskan dari satu zaman kepada zaman berikutnya. 

Setiap generasi menerima jejak itu. Jejak yang terpikul itu sesungguhnya bukanlah beban. 

Ia adalah amanah yang berdinamika yang terus kita terjemahkan selaras denyut zaman. 

Sepakatilah, bahwa kebudayaan tidak tumbuh, lahir atau muncul oleh deras dan dahsyatnya putaran  waktu. 

Kebudayaan atau khazanah budi itu tumbuh dan hidup di batok kepala dan ruang hati manusia yang setia memelihara keagungan akal dan kesucian nurani. 

Pada zona kemuliaan akal dan kejernihan hati bermaqom wajah bangsa, di sanalah sebuah bangsa menemukan cermin dirinya, dan dari sana pula martabatnya memperoleh kemuliaan.

Bagaimana dengan kreativitas? 

Kreativitas adalah ruh yang  menghidupkan kebudayaan. Ia bukan semata kemampuan untuk melahirkan sesuatu yang baru. Bukan sekadar itu, bro! 

Kreativitas merupakan kecakapan. Kecakapan untuk merengkuh dan menyelami makna, untuk kemudian mengangkatnya menjadi karya yang memperhalus budi manusia. 

Sebuah karya yang berakar pada kebudayaan, tak mengejar sorak. Tak butuh tepuk tangan. Tak perlu puja puji. 

Mengapa begitu? 

Ya, karena karya yang lahir dari rahim kebudayaan tidak pernah gelisah oleh sunyi. Tidak pernah patah diterjang badai keras zaman yang makin menggila. 

Ia tahu, bahwa sorak, puja puji, tepuk tangan hanya menggetarkan telinga, sedangkan nilai mengguncang kesadaran. 

Tepuk tangan hanya akan berhenti di ujung jari. Sementara,kebijaksanaan melanjutkan perjalanan di dalam hati manusia. Ia berjejak! 

Klasikal kata, bahwa detiap karya yang lahir dari kebudayaan selalu meninggalkan jejak kebijaksanaan yang usianya bahkan lebih panjang daripada penciptanya.

Bagaimana dengan cinta bangsa? 

Cinta kepada bangsa bermula dari kemampuan mencintai manusia.

Percayalah, bro...Tak ada tanah air yang menjadi mulia apabila kasih sayang tercerabut dari kehidupan warganya. 

Tanpa kasih sayang, kita akan bacakak taruih. Batangka tiok sabanta. Pertentangan mengemuka. Akhirnya, yang lahir apa? Kebencian tanpa ampun. Atau dendam yang tak berkesudahan.

Perbedaan tak lagi dianggap energi. Tak lagi dianggap kekuatan. Berbeda, dianggap lawan! 

Padahal " basilang kayu dalam tungku, mangko api ka hiduik" . Perbedaan pendapat atau perdebatan dalam musyawarah, sejatinya dapat menghasilkan kesepakatan terbaik, dan persatuan antarmasyarakat akan membuahkan tujuan bersama. 

Begitulah.Api nan hiduik bukan untuak mamanggang. Api nyalo bukan untuak mahanguihkan. Tapi, untuk sepakat dengan kesepakatan. Bukan sebaliknya, sepakat dengan ketidaksepakatan! 

Serancaknya perbedaan itu kita perlakukan sebagai anugerah yang saling menyempurnakan dan saling melengkapi. 

Dalam hidup asyik di ruang sosial itu berlaku hukum tukuk tambah. Artinya,saling melengkapi.

Dan, ketika kebudayaan menjadi aksara persaudaraan, dan ketika kreativitas dipersembahkan sebagai pengabdian yang memperluas manfaat maka pada saat itulah cinta pada bangsa menemukan maknanya. 

Kita harus bersepakat untuk kesediaan merawat kehidupan bersama dengan hati yang teduh dan jiwa yang lapang. 

Nan pikiran diperjernih, nan hati diper bersih. Tuntas itu! 

Bro nan sabangso satanah air, pada akhirnya, kebudayaan, kreativitas, cinta bangsa, kasih sayang, dan kemanusiaan adalah satu tarikan napas yang utuh. 

Kebudayaan berpusaka nilai ini melahirkan kesadaran. Sedangkan kreativitas memberi bentuk kepada kesadaran. Dan, cinta bangsa mengarahkan pengabdian, kasih sayang memuliakan setiap langkah, dan kemanusiaan menjadi tujuan yang senantiasa menyaru perjalanan peradaban. 

Bangsa yang besar tidak dikenang karena keluasan wilayah atau rumah rancak gaduag batingkek oto bakilek, tetapi karena keluasan budinya dalam memuliakan manusia. 

Di situlah kebudayaan mencapai kehormatannya, ketika setiap karya berubah menjadi jalan yang mengantarkan manusia kepada martabat kemanusiaan.

Indonesia kucinta, semangat solidaritas tak pernah punah di dada! 

Begitulah kesimpulan percakapan pagi hingga siang menjelma di langit Jakarta yang terang. 

Namun begitu, nuklis kesimpulan tertata dalam aksara :

" Sorak mainan bibir, tepuk tangan berhenti di ujung jari, sedangkan kebijaksanaan melanjutkan perjalanan di dalam hati."

Dan, selamat siang. 

Salam satu bangsa. 

Salam budaya. 

Salam solidaritas nan babudi tenggang , nan sacioknyo bak ayam, nan sadanciangnyo bak basi. 


-Pinto Janir---

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image