BREAKING NEWS

Hukum, Filsafat, Masyarakat dan Budaya dalam Pemikiran Kato Nan Ampek// Catatan Pinggir Sungai: Pinto Janir


Begitu usai solat Subuh di Minggu 9 Agustus itu, saya keluar bersama istri. Bukan untuk pergi jogging. 

Saya taragak mancari sarapan pagi dan ngopi di pinggir sungai Aiatawa yang tak jauh dari rumah kami. 

Istri saya terkejar kejar, karena di rumah, sanak sudaro kami sedang sibuk menyiapkan masakan untuk prosesi pertunangan putri kami yang akan dilangsungkan, siang ini sehabis solat zuhur. 

Ia meninggalkan saya untuk segera ke rumah. Saya tetap tinggal di lapau. Saya asyik mengopi di pinggir sungai, sendiri. Saya sedang menikmati muara, laut dan langit pagi yang masih membiaskan sisa sinar bulan tadi malam. 

Eh, tak berapa lama, datang maongkok ongkok dengan sepatu sport, training dan kaos seorang anak muda gagah. 

Saya mengenalnya. 

"Kama Zan?" sapa saya. 

"Pai jalan jalan pagi bang", ia menjawab sambil menghentikan langkah. 

Dan kami bersalaman. 

Zan yang saya sapa ini adalah tokoh muda di Sumatera Barat. Ia dulu, anak hukum Unand. Sama kuliah dengan adik saya, Wawa Janir . 

Saya mengenalnya, sejak ia jadi mahasiswa. Karena, Zan semasa mahasiswa, gemar melukis. Ia berkawan dengan Jeffenil Sutan Pandeka . Pelukis yang juga pengacara. 

Mereka sejak mahasiswa sudah dikenal kritis dan "penggerak".

Zan yang saya maksud, adalah Fauzan Zakir yang pernah menjadi 

Ketua Peradi DPC Padang. 

Fauzan kini sedang menyelesaikan studi S3nya. Fauzan salah seorang advokat terkemuka di Padang. Ia cukup sering mendampingi kasus kasus serius bermuatan berat.  

" Sabanta lai, wak tamaik bang! " kata Fauzan yang sosoknya tetap mempertahankan keramahan dan kesantunannya. 

Ia tersenyum tipis. 

" Duduklah wak dulu Zan, ngopi wak agak snek lu. Lah lamo wak indak maota-ota", saya persilakan Fauzan duduk di kursi karah pinggir sungai. 

Saya merabik urang lapau, " Ni, tambah kopi sagaleh lai ni".

Fauzan menyela, " Satangah se lah bang, awak lah ngopi tadi di rumah ".

Saya mengangguk angguk kecil. Kemudian kembali mangecek ka rang lapau, " Tambah lontong ciek lai Ni ha".

Lagi lagi Fauzan menyanggah, " Awak lah sarapan lo di rumah tadi bang! ".

" Lontong e lamak. Cubolah dek Fauzan.Iko rasanyo ha", saya hadapkan jempol saya pada tokoh muda yang menjadi pengurus di berbagai organisasi ini.

Ia haning. Diam saja. Mengiyakan tidak, mengangguk juga bukan. 

" Lontong sapiring luruih lai Ni! " saya menegaskan rang lapau. 

Ibaraik sebuah pantun:" dari Alai ka Siteba/Rang Lolong pai badendang/nan Kopi alah tiba/ nan lontolah lah tahidang".

Nah, sambil Fauzan menikmati lontong, kami tetap bercakap cakap pagi nan bagai rindu sehangat kopi. 

" Santiang lontong e bang! " Fauzan nan dosen di sebuah PTS ini mahangguk-angguk. 

Kami bicara luas, seperti hitungan panjang kali lebar. 

Apa yang kami percakapkan? 

Adalah soal hukum, filsafat, masyarakat dan budaya. 

" Perkara ke empat bidang ini, tak bisa kita lepaskan. Di Minangkabau, ia bisa kita semamangkan dengan kato nan ampek ", kata saya. 

Percakapan mengenai filsafat, budaya, hukum dan kemasyarakatan bersama calon doktor bidang ilmu " Hukum Islam" ini mulai bergulir dan sambung bersambung bak gerbong kereta api dan bak rokok yang saya salai. 

Percakapan itu bertukuk tambah. Saling melengkapi. 

Kami sama sama paham, bahwa filsafat itu pikiran yang mencari kebenaran.

Kami sama sama sepakat, bahwa budaya adalah nilai yang dihayati.Diresapi.Bidangnya bidang "raso" dari cipta, rasa dan karsa. 

Raso yang dimaksud bukan "rasa" tipis dalam pengertian kamus bahasa Indonesia. 

Ia lebih dekat ke filsafat, " Raso dibaok naik, pareso dibaok turun".

Klop, percakapan pagi. Kopi dicucup.Rokok dibakar. Fauzan, tampaknya ia tidak perokok. 

Giliran Fauzan. 

"Hukum itu nilai yang dilembagakan dan diberi kekuatan mengikat".

Sip. Saya sepakat pula soal ini. 

"Masyarakat adalah seumpama ruang tempat di mana semuanya diuji dan dihidupkan", ujar saya. 

Fauzan tak membantah. 

Keempatnya tak terpisahkan.Ibarat kuku dengan kulitnya. Bila dipaksa dicabut, sakitnya minta ampun.Pekik kita mungkin bisa sampai terdengar ke langit. 

Kemudian bersijadi,bersitungkin percakapan pikiran kami. 

Sementara pagi itu, orang tetap berlalu lalang berlari lari kecil. 

Kami sepakat menyimpulkan. 

Hukum tanpa filsafat menjadi kekuasaan. Hukum tanpa budaya menjadi aturan yang asing.

Budaya tanpa filsafat menjadi kebiasaan tanpa kritik.Masyarakat tanpa hukum mudah terjerembab ke dalam kekacauan.

" Zan, pendapat bang Zan,dalam berminangkabau, hubungan antara Hukum,filsafat,budaya dan masyarakat itu tercermin dalam Kato Nan Ampek: mandaki, manurun, mandata, malereng.Ini pikiran filsafat tentang bagaimana manusia menempatkan diri, menghormati sesama, dan menjaga keseimbangan hubungan selaku makhluk sosial".

Fauzan sependapat soal ini. 

Saya berkata: "Filsafat maagiah tahu ke awak kama arah nan kadituju. Samantaro nan budaya ko mambari  jiwa...!".

" Tapi bang",sela Fauzan, "hukum mambari bateh".

" Ya...",jawab saya mengulang kembali pendapat Fauzan", hukum mambari bateh, dan masyarakat memberi kehidupan...! ".

Konklusi kesepakatan pikiran kami adalah,"  keadilan bukan lahir dari hukum semata. Ia lahir  dari pertemuan pikiran yang benar benar, dalam kedalaman  nilai yang hidup, aturan yang adil, dan masyarakat yang beradab.. .! " 

Makanya, sebelum membangun  pisik, jiwanya dulu. 

Bicara jiwa, bicara budaya. 

Iyakan.. ? 

Fauzan mengangguk. Ia lihat langit. Matahari sudah tinggi. Ia menggeleng geleng sendiri. Panasnya sudah tak seteduh dua jam lalu, saat mana kami mulai bercakap-cakap. 

Kalau sekiranya saya punya kemampuan, sudah saya surukkan matahari di saku, saya biarkan bias bulan memberi terang seperti tadi sehabis subuh, biar Fauzan bisa melanjutkan lari lari pagi. 

Tapi, apa hendak di kata, matahari sudah telanjur meninggi. 

" Jogging a juo lai ko Zan, lah hangek garang hari ha ", kata saya. 

Fauzan tersenyum tipis. 

" Pulang wak lai...! "

Saya ajak Fauzan pulang. Rumah Fauzan dengan rumah kami, hanya beda satu jalan. Bersebelahan jalan. Fauzan di Parkit XIII, saya di Parkit IX. 

Tapi, rumah mertua kami, sama sama dipisahkan dengan dinding beton. 

Sambil pulang, saya berjalan sambil merokok, Fauzan berlari lari kecil seperti orang jogging! 

Salam budaya : Padang 9 Agustus 2026

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image