Dari “Lubuak Basuang Denai Cinto” ke “Cerita Bumi”, Yasnaroza Menjadikan Lagu sebagai Ruang Belajar Anak
Indokatanews Lubuk Basung, Agam : Di tengah derasnya arus teknologi dan perubahan metode pembelajaran, Yasnaroza memilih jalan yang berbeda. Kepala SDN 15 Paritpanjang, Lubuk Basung, Kabupaten Agam itu menjadikan lagu sebagai media pendidikan untuk mendekatkan ilmu pengetahuan kepada anak-anak.
Setelah sebulan lalu meluncurkan lagu berbahasa Minangkabau berjudul “Lubuak Basuang Denai Cinto”, Yasnaroza kembali menghadirkan karya terbarunya, “Cerita Bumi”, yang dijadwalkan rilis melalui platform media sosial miliknya pada Rabu, 5 Agustus 2026.
Jika lagu sebelumnya bertutur tentang kerinduan dan kecintaan terhadap kampung halaman, karya terbaru ini mengusung misi yang berbeda. “Cerita Bumi” dirancang sebagai lagu edukatif yang memperkenalkan ilmu geografi kepada anak-anak melalui lirik yang sederhana, mudah dipahami, dan mudah dihafal.
Sebelumnya, Yasnaroza mendapat perhatian melalui lagu “Lubuak Basuang Denai Cinto” yang diluncurkan pada 22 Juli 2026. Lagu tersebut menggambarkan keindahan alam Lubuk Basung dan ikatan emosional seseorang dengan tanah kelahirannya.
"Lubuak Basung rancak alamnyo, dipandang dari Bukik Silayang, tambah sanang raso hatiko, Lubukbasuang kampuang tacinto den sayang," demikian penggalan lirik yang menggambarkan pesona alam daerah tersebut.
Dalam lagu itu pula tersirat rasa cinta yang mendalam terhadap Lubuk Basung.
"Cinto ka Lubukbasuang indak tabilang, tabayang-bayang di ruang mato, tacurah cinto jo kasiah sayang, Lubuak Basuang indak ka den lupo."
Kini, melalui “Cerita Bumi”, Yasnaroza membawa anak-anak menjelajahi dunia. Lirik lagu mengenalkan lima samudra, tujuh benua, hingga posisi geografis Indonesia di antara Benua Asia dan Australia serta Samudra Pasifik dan Hindia.
"Mari kawan kita hafalkan, agar kenal isi dunia. Mari kawan kita nyanyikan, nama samudra dan benua," demikian salah satu bagian chorus lagu tersebut.
Menurut Yasnaroza, musik memiliki kekuatan yang mampu membantu anak menangkap pelajaran lebih cepat dibandingkan metode hafalan biasa.
“Dengan lagu, murid lebih mudah memahami dan mengingat materi. Mereka belajar sambil bernyanyi dan bergembira,” ujarnya.
Guru yang juga gemar menulis prosa, esai, dan puisi itu mengatakan bahwa pendidikan tidak hanya bertumpu pada penyampaian materi di kelas. Seni, menurutnya, dapat menjadi jembatan yang efektif untuk menanamkan pengetahuan sekaligus membangun karakter peserta didik.
Karena itu, karya-karya yang diciptakannya tidak semata-mata bertujuan menghibur, tetapi juga mengandung pesan pendidikan dan kecintaan terhadap lingkungan, budaya, serta tanah air.
Di tengah dunia pendidikan yang terus berubah, langkah Yasnaroza menunjukkan bahwa kreativitas guru dapat melahirkan ruang belajar yang lebih dekat dengan kehidupan anak.
Dari lagu tentang kampung halaman hingga lagu tentang bumi dan geografi, ia membuktikan bahwa pelajaran tidak selalu harus hadir melalui buku dan papan tulis. Kadang-kadang, ilmu pengetahuan dapat tumbuh dari bait-bait lagu yang dinyanyikan dengan riang gembira oleh anak-anak.
Dengan hadirnya “Cerita Bumi”, Yasnaroza tidak hanya merilis sebuah lagu baru, tetapi juga menawarkan cara belajar yang menyenangkan,yakni dengan cara yang menggabungkan pendidikan, seni, dan budaya dalam satu harmoni yang mudah diterima oleh dunia anak-anak.
Selamat berkarya, Buk Roza ! (*)

