BREAKING NEWS

Manifesto Kebudayaan Musik Minangkabau (Kepada PAPPRI Agam yang Hendak Bermusyawarah) Catatan Musik : Pinto Janir

Salam musik.

Salam budaya.

Salam kebersamaan.

Yang saya harapkan benar adalah  kita dapat bersepakat untuk sama-sama maju, sama-sama berkembang, sama-sama hebat, dan saling  menjaga kebersamaan yang tidak mudah rapuh oleh perbedaan pandangan.

Dunsanakku para seniman musik…

Apa yang paling saya gamangkan dalam sebuah organisasi? Adalah ketika berteriak sekeras entah tentang  “sepakat pada ketidaksepakatan”. Kalau ini terjadi,itu artinya kita  gagal menemukan titik temu. 

Kawanku…

Kita semua paham, bahwa organisasi yang sehat bukanlah organisasi yang bebas dari perbedaan. Organisasi yang tumbuh sehat itu adalah organisasi yang  mampu mengolah perbedaan menjadi sebuah kekuatan bersama.

Karena itu, ayo  kita sungguh-sungguh bersepakat untuk menyulam persaudaraan yang menyatukan, bukan membelahnya tapi  menguatkan. Bukan memisahkannya, tapi memperbesar persamaan. 

Bukan juga untuk memperlebar jarak perbedaan yang dipisahkan oleh jurang dalam yang menganga. Ini menggamangkan. Bisa merumas perut kita dibuatnya karena sibuk menimang-nimang pertentangan. 

Sahabatku nan seniman, bahwa mana pernah ada pertentangan akan  melahirkan harmoni. Itu kerja yang ketidak-tidak saja itu. Mengapa? Karena, harmoni selalu lahir ketika setiap suara menemukan kesediaannya untuk saling mendengar. Bukan saling menutup telinga dan melengah saat orang lain bicara. Mana mungkin ada harmoni jika tidak ada kesediaan untuk saling mendengar?

Apakah kita telah sampai pada kesepakatan untuk saling mendengar dengan kesadaran persaudaraan, di ruang kreativitas yang lapang dan beradab ini?

Jika demikian, baiklah. Saya lanjutkan berpikir dan menuliskannya…

Sebelum kita saling menyimak dan mendengar, marilah kita mempertautkan terlebih dahulu berbagai persamaan yang kita miliki, sebelum mempercakapkan perbedaan-perbedaan yang ada. 

Dalam kamar demokrasi Minangkabau, perbedaan adalah sesuatu yang sangat lumrah. Sangat lazim.  Sebab, ketika kayu bersilang di dalam tungku, pada saat itulah api menyala dengan sangat kuatnya.

Namun api yang dimaksud bukanlah api yang menyala untuk menghanguskan, bukan pula api yang menyala untuk memanggang dan memusnahkan. Ia adalah api yang menghangatkan ruang pikiran kita.Ia adalah api yang  mematangkan kebijaksanaan, dan menerangi jalan menuju kesepakatan bersama.

Ketika keadaan itu tercapai, di situlah berlaku petuah adat yang berbunyi:

"Kok bulek lah buliah digolongkan, kok picak lah buliah dilayangkan."

Ini adalah sebuah simbol tentang telah  tercapainya mufakat setelah melalui proses musyawarah yang jujur dan bermartabat.

Kalau buleknya lah buliah  digolongkan dan picaknya lah buliah pula untuk kita layangkan, maka dengan begitu tidak ada lagi perbedaan yang menentukan di mana seseorang duduk dan di mana seseorang berdiri. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa kita sedang menjaga rumah yang sama.

Percayalah,sanak bahwa setiap perbedaan yang disikapi dengan kebijaksanaan akan menjelma menjadi kekayaan sekaligus energi yang saling menguatkan. Sebaliknya, persamaan yang diabaikan perlahan-lahan akan berubah menjadi jarak yang dipisahkan oleh jurang yang menganga. Ngeri saya dibuatnya. 

Dan,sekali lagi, ini benar yang menggamangkan saya

Baiklah, mari kita berbicara tentang PAPPRI…

PAPPRI bukan sekadar organisasi yang menghimpun penyanyi, pencipta lagu dan pemusik dalam satu wadah. Lebih dari itu, PAPPRI adalah rumah kebudayaan yang dibangun oleh kekuatan getaran rasa, kejernihan pikiran, kemuliaan budi, dan daya cipta manusia.

Ia adalah titik pertemuan antara cipta, rasa, dan karsa yang menjelma menjadi lirik, melodi, irama, dan nada.

Oke,klopkan?

Pada sisi lain di ruang yang lebih lain,walaupun saya telah menulis berlapis-lapis cerita, cerpen, cerita bersambung, esai, puisi dan berbagai bentuk karya sastra lainnya, serta menciptakan ratusan lagu, kini saya sampai pada satu kesimpulan sederhana bahwa : “Seratus halaman cerita kadang-kadang kalah oleh empat bait lirik lagu”.

Pendapat ini, pernah saya sampaikan kepada (alm) Uda Agus Taher ketika kami bercakap-cakap tentang budaya dan musik. Uda Agus, adalah salah seorang seniman tempat di mana saya mempercakapkan budaya dan kebudayaan. Karena Uda Agus, bukan saja seorang pencipta lagu Minang yang sangat popular. Beliau adalah juga seorang ilmuwan dengan gelar Doktor spesialis pertanian. Beliau juga seorang novelis dan penulis buku. 

Setahun menjelang beliau ke pulang, walau saya di Jakarta, kami intens bercakap-cakap budaya,sastra dan music. Kami bercakap-cakap melalui HP. Kalau kami sudah bercakap-cakap, durasinya paling cepat satu jam, paling lama hampir menjacapai dua jam. 

Beberapa lama menjelang Uda Agus berpulang,saya bersama budayawan, aktor,wartawan senior Alwi Karmena (alm)---jarak berpulang uda Agus dan Uda Alwi—kalau saya tak salah tak berbilang tahun---kami bercakap-cakap bertiga. Kali ini, fokus tentang bagaimana caranya supaya “lagu Minang” menjadi salah satu media untuk merawat bahasa ibu. Tak ada pilihan lain, kita perlu “membesarkan” PAPPRI Sumbar bersama-sama. Begitu,pikiran kami bertiga. 

Olala, sudah jauh topik pembicaraan kita, kembali ke soal kekuatan lagu. 

Dengan hanya empat bait, sebuah lagu mampu bercerita seperti ribuan halaman novel. Ia dapat menembus ruang dan waktu. Ia bahkan mampu membawa kita kembali ke lorong-lorong kenangan yang telah lama tertinggal. Ia sanggup membuka pintu-pintu batin yang tidak selalu dapat dijangkau oleh kata-kata biasa.

Karena itu, saya sering beranggapan bahwa lagu adalah novel paling pendek yang pernah diciptakan manusia, tetapi mampu menyimpan segudang atau sekambut buruk  cerita yang paling panjang dalam ingatan kita. 

Kawan…bahwa musik itu kuat. Sangat kuat,wan !

Kuat dalam pengaruhnya. Kuat dalam segala daya sentuhnya. Kuat dalam kemampuannya membentuk cara manusia memandang kehidupan ini. Makanya, salah satu alat propaganda yang paling kuat itu adalah musik.

Sadarilah, bahwa hidup kit aini, sesungguhnya tidak pernah jauh dari musik. Kehidupan dimulai oleh tangisan seorang bayi yang lahir ke dunia. Tangisan itu adalah bunyi pertama yang mengabarkan tentang kehidupan. Bila bayi lahir tanpa tangisan, itu pertanda ia menolak dan mungkin merasa  tak mampu bertahan hidup di atas dunia. Dan pada ujung perjalanan manusia, kiamat kubra ditutup oleh bunyi.Yakni bunyi terompet sangkakala. 

Berapa kali tiupan sangkakala? 

Terdapat dua pandangan utama di kalangan para ulama. Ada yang menyebutkan dua kali dan ada pula yang berpendapat tiga kali.Namun, sebagian besar ulama berpendapat bahwa sangkakala ditiup sebanyak dua kali.

Seberapa kuat bunyi sangkakala? 

Tiupan Pertama (Nafkhah ash-Sha'aq) menyebabkan kepanikan dahsyat sekaligus mematikan seluruh makhluk di langit dan di bumi, kecuali yang dikehendaki Allah. Tiupan pertama menjadi awal mula kehancuran total dan runtuhnya keteraturan alam semesta. 

Bumi dan gunung hancur lebur. Bumi akan diguncang dengan guncangan yang sangat hebat. Gunung-gunung yang kokoh akan diangkat, dibenturkan, lalu luluh lantak menjadi seperti tumpukan pasir atau bulu-bulu yang dihamburkan.

Keteraturan tata surya runtuh total. Langit akan terbelah, matahari akan digulung hingga kehilangan cahayanya, dan bintang-bintang akan saling bertabrakan lalu berjatuhan. 

Tiupan kedua? Ya, ketika bunyi sangkakala bergema, maka pada tiupan kedua Tiupan yang membangkitkan kembali seluruh makhluk yang telah mati untuk berdiri dan menghadap Allah SWT. 

Soal Kiamat Kubra, sudah saya tuliskan dalam sebuah lagu. Judulnya: Kiamat Kubra. 

E..mande ya…Kalau saya tak control-kontrol pikiran dalam menulis, saya bisa berpikir kemana-mana. Itu gawatnya. 

Oke,baiklah, mari kita kembali pada leptop !

Bunyi, suara, dan nada adalah bagian dari sejarah manusia sejak awal hingga akhir.

Karena itu, ketika lirik bertemu nurani, ketika melodi bersua dengan peradaban, dan ketika nada menemukan makna, maka di situlah  musik berubah menjadi bahasa yang mampu menjangkau wilayah-wilayah batin yang tak sanggup disentuh oleh percakapan biasa.

Musik, itu kawan,  bukan sekadar hiburan. Musik itu boro,  adalah pengetahuan. Musik itu sanak, adalah kebudayaan.Musik itu ‘Nco  adalah salah satu cara manusia memahami dirinya sendiri.

Maka tidak berlebihan sekiranya apabila saya mengatakan bahwa musik adalah kecerdasan yang menemukan bentuknya dalam tiap sudut keindahan.

Sebuah lagu selalu diawali oleh kesediaan untuk mendengar, bukan oleh keinginan untuk  saling mengalahkan.

Kalau ingin menumbuhkan dan mengembangkan organisasi, campakkan rasa dan perasaan si paling . Ya, merasa si paling senior,si paling popular,si paling hebat,si paling laku, si paling berjasa. 

Mengapa begitu?

Karena apabila perasaan-perasaan “si paling”  itu terus dipelihara, jangan berharap organisasi dapat tumbuh dan berkembang  menjadi rumah bersama.

Karena itu, marilah kita menyulam organisasi ini dengan benang kasih sayang, dengan simpul penghormatan, dan dengan jarum kebijaksanaan.

Jangan menyulamnya dengan benang prasangka.Jangan pula menenunnya dengan pertentangan yang kehilangan adab atau etika. Tetap santun dan saling menjaga rasa. 

Sebab,sanak oi,  sehelai kain menjadi indah bukan karena seluruh benangnya sama, tapi karena setiap helainya menemukan tempat yang tepat dalam satu tenunan yang utuh.

Demikian pula halnya dengan organisasi !

Kita tidak perlu harus seragam. Yang diperlukan adalah mampu hidup dalam harmoni dan bekerja bersama-sama. 

Dunsanakku,

Zaman telah bergerak jauh. 

Mulai  dari zaman rekaman musik fonograf ciptaan Thomas Edison (1877) dan gramofon Emile Berliner (1887),  hingga berkembang dari teknologi mekanik-akustik menuju pita magnetik, kaset, dan sistem multi-track yang merevolusi produksi musik pada pertengahan abad ke-20. 

Hingga memasuki  era digital, rekaman digital, CD, dan format MP3 . Abad ke-21 menghadirkan iPod, perangkat lunak rekaman (DAW), serta layanan streaming seperti Spotify dan Apple Music yang menjadikan musik sebagai data virtual yang dapat diakses kapan saja. Dari corong fonograf hingga streaming, teknologi terus berubah. 

Walau begitu, poinnya tetap satu. Yakni, musik selalu menjadi bahasa perasaan yang menghubungkan manusia dengan zamannya serta menjembatani masa lalu dan masa depan.

Kita hidup pada tahun 2026 lho, sanakku. 

Tak masanya lagi ego merasa paling berhak menjadi pusat segala keputusan.

Kawanku, peradaban menuntut kedewasaan. Sementara, kebudayaan menuntut kelapangan hati.

Yang patut kita wariskan bukanlah riuh perselisihan, melainkan jejak kebijaksanaan.

Ayo,kita jadikan PAPPRI sebagai ruang tempat di mana  para pencipta lagu, penyanyi, pemusik, dan pekerja seni saling memuliakan martabat satu sama lain.

Kalau kita bikinkan lirik marsnya, maka di sini, tempat kita berdiskusi tanpa merendahkan. Di sini, tempat kita berbeda tanpa bermusuhan. Di sini adalah tempat kita saling menguatkan tanpa saling meniadakan astu sama lain. 

Sanak, percayalah…bila  organisasi akan kehilangan makna apabila hanya menjadi tempat memilih ketua.

Namun begitu sebaliknya, organisasi akan menjadi peristiwa kebudayaan apabila mampu melahirkan kepercayaan, persaudaraan, dan harapan baru bagi perjalanan seni.

Tugas seorang ketua bukan sekadar memimpin organisasi. Ketua, bukan tempat gagah-gagahan. Bukan tempat merawat prestisius sosial. 

Tugasnya adalah menjaga nyala kreativitas agar tidak pernah padam, merawat para pencipta agar tetap berkarya dan melindungi hak cipta karyanya, membuka ruang bagi generasi baru, serta memastikan bahwa setiap insan seni merasa memiliki rumah yang dapat ia sebut miliknya sendiri.

Saudaraku, sepermusikan (walau berbeda genre dan lirik). 

Kita sudah lama mendengar, bahwa politik sering mengajarkan kita memilih salah satu pihak. Sedangkan seni mengajarkan kita menemukan makna.Politik dapat memisahkan pilihan. Namun,musik selalu mempertemukan rasa.

Budaya tidak bertanya dari mana kita datang. Budaya bertanya warisan apa yang hendak kita tinggalkan untuk generasi mendatang? 

Karena itu, begitu seseorang mengabdikan dirinya kepada musik, sesungguhnya ia sedang memasuki ruang peradaban. Percayalah,sanak. 

Di ruang itu, pikiran dituntun menuju kejernihan, hati dibimbing menuju kelapangan, dan jiwa diajak memahami bahwa nada yang paling indah itu  bukanlah nada yang paling nyaring terdengar, tapi adalah  nada yang mampu menyelaraskan banyak suara menjadi satu harmoni.

Selamat bermusyawarah, kawan-kawan.

Rapatkanlah persamaan, bukan perbedaan.

Pilihlah bukan semata-mata orang yang mampu memimpin organisasi, melainkan seseorang yang sanggup menjaga harmoni, memuliakan para seniman, menghidupkan kebudayaan, serta memastikan bahwa PAPPRI tetap berdiri sebagai rumah besar tempat musik bertemu dengan nilai-nilai kemanusiaan.

Sebab pada akhirnya, organisasi seni bukan hanya mengurus administrasi semata. Kita sedang merawat jiwa dengan lirik dan nada. Bahwa kita sedang menjaga ingatan kebudayaan.

Dan ia sedang menyalakan satu obor kecil agar peradaban tetap memiliki palito yang memberi terang di jalan kehidupan .

Kita jadikan  musik menjadi jalan menuju kebudayaan, persaudaraan, dan peradaban. 

Salam budaya,salam musik : Pinto Janir : Jakarta, 31 Juli 2026

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image