BREAKING NEWS

Risalah Kebudayaan Kepada Seorang Sahabat.Untuk Uda Guspardi Gaus (Bagian Kedua dari Tiga Tulisan)//Catatan Budaya : Pinto Janir


Oke Da, saya lanjutkan kembali menulis…

Dua gelas sudah kopi tandas selama saya menulis ini Da. Asbak rokok saya sudah bertumpuk-tumpuk oleh puntung. Saya cigap ke jendela, langit Jakarta sudah mulai gelap. Saya sangka,hari masih siang juga baru…

Begitulah adat saya kalau sedang menulis Da…bisa lupa banyak hal. Lupa makan. Yang tidak pernah terlupa adalah rokok dan kopi. Tanpa rokok, tanpa kopi, habis main saya dibuatnya. Susah saya mengajak imajinasi saya menari nari. Kalau pun ia menari, entah mana yang rentak, entah mana yang gendang. Kacau dan pincang jadinya.

Tapi , beri saya sebatang rokok dan segelas kopi maka akan saya balas dengan seribu batang puisi !

Dan,sesudah saya tadi menulis bagian pertama dari surat ini, saya kembali bertanya kepada diri sendiri: dari mana sesungguhnya jejak seorang manusia bermula?

Apakah dari jabatannya?Dari gelarnya?Dari banyaknya orang yang mengenalnya? Ataukah dari sesuatu yang jauh lebih sunyi, yang tidak pernah masuk ke dalam berita-berita surat kabar?

Semakin lama saya memikirkannya, semakin saya percaya bahwa perjalanan hidup seseorang hampir tidak pernah dimulai ketika masyarakat mulai mengenalnya. Ia selalu bermula jauh sebelumnya, ketika tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, dan tidak ada jabatan.

Begitulah saya membaca perjalanan hidup Uda.

Saya mengenal Uda bukan melalui ruang sidang DPR RI. Bukan pula melalui berita-berita televisi.

Saya mengenal Uda ketika kehidupan masih berjalan dalam irama yang lebih sederhana. Ketika saya masih menjadi wartawan muda yang sedang belajar mengenali wajah-wajah manusia. Dari pekerjaan itulah saya memahami bahwa ada orang yang mudah dikenal karena jabatannya, tetapi ada pula yang dikenang karena perangai eloknya.

Uda termasuk golongan yang kedua.

Persahabatan kita tidak dibangun oleh pertemuan yang setiap hari terjadi. Ia tumbuh oleh rasa saling percaya yang diam-diam bertahan melintasi waktu. Ada tahun-tahun ketika mana kita jarang bertemu. Ada pula masa ketika kesibukan membawa kita ke jalan masing-masing. Tetapi setiap kali nama Uda disebut-sebut banyak orang , ingatan saya tidak pernah menuju jabatan yang pernah Uda sandang. Ingatan saya selalu kembali kepada watak. 

Barangkali memang begitulah cara persahabatan bekerja.

Ia tidak menyimpan tanggal. Yang ia simpan adalah kesan .

Masih saya ingat ketika Uda mengundang saya menghadiri peluncuran tujuh buku di Senayan.

Jauh-jauh hari saya telah menyatakan kesediaan hadir. Bahkan dalam hati saya telah tumbuh sebuah keinginan yang sederhana. Saya tidak ingin acara itu hanya diisi oleh pidato-pidato resmi. 

Saya ingin membacakan sebuah puisi atau orasi kebudayaan. Saya membayangkan rabab mengalun perlahan, saluang mengisi ruang, lalu kata-kata berjalan bersama musik, sebagaimana orang-orang tua dahulu menyampaikan petuah melalui dendang.

Tetapi kehidupan mempunyai cara sendiri untuk mengatur langkah manusia. Saya baru pulang ke Padang tanggal 7 Agustus untuk mengurus prosesi pertunangan putri kami. Tiket sudah saya pesan Da. Sementara, acara Uda tanggal 1 Agustus 2026. Memajukannya beberapa hari, juga tidak mungkin rasanya Da. Karena ada beberapa kerja yang harus saya selesaikan dulu di Jakarta ini. 

Saya menyimpan rasa tidak enak yang lama. Saya kembali gagal memenuhi panggilan seorang sahabat.

Saya tidak tahu apakah itu sekadar kebetulan.

Tetapi saya percaya bahwa setiap kegagalan menghadiri sebuah pertemuan, sering meninggalkan ruang perenungan yang tidak kalah penting daripada pertemuan itu sendiri.

Barangkali karena ketidakhadiran itulah surat ini lahir.

Uda Guspardi Gaus yang saya banggakan…

Ada sesuatu yang selalu menarik perhatian saya ketika membaca perjalanan hidup Uda.

Banyak orang mengenal Uda sebagai politisi.Sebagian mengenal Uda sebagai pengusaha.Ada pula yang mengenal Uda sebagai orang yang pernah menjadi  anggota DPR RI.

Tetapi saya lebih dahulu melihat Uda sebagai seorang guru.

Saya membayangkan seorang dosen muda yang memasuki ruang kuliah pada pertengahan dekade 1980-an. Di hadapannya duduk mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar memahami hukum, agama, dan masyarakat. Barangkali pada masa itulah Uda belajar bahwa ilmu tidak boleh berhenti menjadi teori. Ia harus menemukan jalannya sendiri di tengah kehidupan nan fana ini. 

Mungkin karena pengalaman itulah Uda tidak pernah melihat politik hanya sebagai perebutan kekuasaan.Politik adalah kamar tempat di mana ilmu diuji oleh beragam kenyataan.

Sebelum masyarakat mengenal nama Citra Swalayan, Uda lebih dahulu akrab dengan rak-rak buku. Saya selalu menyukai kenyataan kecil itu.Seolah-olah kehidupan sengaja mengajarkan bahwa seseorang yang kelak membangun jaringan usaha justru memulainya dari dunia pengetahuan.

Pada tahun 1985 Uda merintis usaha toko buku.Delapan tahun kemudian lahirlah Citra Swalayan. Banyak orang hanya melihat hasil akhirnya: belasan gerai yang berdiri di Sumatera Barat dan Riau.

Tetapi orang sering lupa bahwa setiap bangunan besar selalu mempunyai masa ketika ia hanya berupa keyakinan yang belum dipercaya siapa-siapa.

Saya belajar satu hal dari perjalanan itu,Da. 

Keberanian tidak selalu berbentuk pidato.Kadang-kadang keberanian hanya berupa kesediaan membuka pintu toko pada pagi hari, sementara belum ada seorang pun yang datang untuk membeli.

Uda Guspardi... 

Dan. 

Buya Anwar Abbas pernah mengatakan bahwa keberhasilan Uda bukan hanya karena kecerdasan atau keluasan pergaulan. Ada doa orang-orang kecil yang ikut bekerja di dalamnya.

Kalimat itu terus tinggal di kepala saya.Sebab ia mengingatkan saya kepada petuah lama orang Minangkabau: “Lamak dek awak katuju dek urang”. 

Mana  ada keberhasilan yang lahir dari satu tangan.

Di balik setiap pencapaian selalu ada orang-orang yang namanya tidak pernah masuk ke dalam berita.

Ada karyawan, keluarga,sahabat,anak-anak yatim yang diberi kesempatan bekerja.

Ada doa seorang ibu. Ada harapan yang tidak pernah meminta disebut sebut. Barangkali memang demikianlah tangan Tuhan bekerja.

Ia sering menitipkan keberhasilan seseorang melalui tangan-tangan yang tidak pernah meminta untuk dikenang.

Oi uda denai... 

Ketika kemudian Uda memasuki DPR RI, saya tidak merasa sedang melihat seorang pengusaha yang berhasil menjadi politisi. Saya justru melihat seorang guru yang memasuki ruang kelas yang lebih luas.Ruang kelas yang  berganti menjadi ruang sidang. Mahasiswa yang berganti menjadi para menteri.

Papan tulis yang berganti menjadi meja rapat.

Sementang pun begitu, nan  tugasnya tetap sama.

Mengajukan pertanyaan.Menguji gagasan.Mencari jawaban !

Barangkali karena itu pula Ketua Komisi II DPR RI, Rifqinizamy Karsayuda, mengenang Uda sebagai anggota yang hampir selalu menjadi penanya pertama dalam setiap rapat.

Bagi sebagian orang, bertanya hanyalah bagian dari prosedur. Bagi saya, bertanya adalah tanda bahwa akal belum berhenti bekerja.Sebuah bangsa mulai mengalami kemunduran ketika orang-orang berhenti bertanya dan merasa cukup dengan jawaban-jawaban yang sudah tersedia. 

Saya membaca pula kesaksian-kesaksian yang disampaikan oleh Zulkifli Hasan, Edy Soeparno, Din Syamsuddin, Irman Gusman, dan tokoh-tokoh lain.

Mereka datang dari latar yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang berbeda. Tetapi anehnya, saya menemukan satu benang merah. Mereka tidak terutama berbicara tentang kemenangan politik.

Mereka berbicara tentang watak.Tentang ketekunan uda.Tentang keberanian uda.Tentang kesetiaan uda kepada gagasan.

Saya kira itulah penghargaan yang paling sulit diperoleh seseorang.

Sebab,bukankah  jabatan dapat diberikan melalui pemilihan?

Kekuasaan dapat berganti oleh pergantian zaman. Tetapi watak hanya dibentuk oleh perjalanan hidup yang panjang.Dan perjalanan itu tidak pernah dapat dipinjam dari siapa pun juga. (Bersambung)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image