Risalah Kebudayaan kepada Seorang Sahabat. Untuk Uda Guspardi Gaus . Catatan Budaya (3 Tamat) : Pinto Janir
Uda Guspardi Gaus nan gagah…
Kini saya mulai mengerti mengapa tujuh buku itu penting. Bukan karena semuanya berbicara tentang Uda. Tentang apa dan bagaimana pikiran Uda.Melainkan karena di dalamnya tersimpan sebuah ikhtiar agar perjalanan hidup tidak berhenti menjadi pengalaman pribadi.
Ia berubah menjadi pelajaran bersama. Bukankah itulah tugas kebudayaan sejak dahulu, Da?
Mengubah pengalaman seseorang menjadi hikmah bagi banyak orang. Saya percaya, setiap manusia pada akhirnya akan meninggalkan sesuatu.
Sebagian akan meninggalkan harta. Sebagian meninggalkan jabatan. Sebagian lagi meninggalkan nama.
Tetapi hanya sedikit saja yang meninggalkan cara berpikir.
Dan saya berharap, Da, itulah yang akan dibaca orang dari tujuh buku itu.
Bukan semata-mata kisah seorang Guspardi Gaus.
Melainkan jejak seorang lelaki dari Minangkabau yang berusaha mempertanggungjawabkan hidupnya kepada masyarakat, kepada adat yang membesarkannya, kepada bangsa yang mempercayainya, dan pada akhirnya kepada Tuhan yang akan meminta pertanggungjawaban atas seluruh amanah yang pernah dipikulnya.
Sesudah saya menuliskan semua ini, saya menyadari bahwa sesungguhnya saya tidak sedang menulis tentang perjalanan hidup Uda.
Saya sedang menulis tentang perjalanan waktu.
Sebab waktu selalu mempunyai tabiat yang sama. Ia tidak pernah tergesa-gesa, tetapi tidak pernah pula berhenti. Di hadapannya, setiap manusia adalah musafir. Ada yang berjalan dengan langkah yang tergesa, yang takaja-kaja. Yang tagageh gageh. Ada pula yang melangkah perlahan, ada yang tersesat di persimpangan, ada pula yang sampai di tujuan tanpa pernah merasa telah menjadi siapa-siapa.
Barangkali itulah yang membuat saya selalu berhati-hati ketika berbicara tentang keberhasilan.
Keberhasilan bukanlah puncak kehidupan.Ia hanya sebuah persinggahan. Ya, hanya sebuah persinggahan yang tak akan tergenggam selamanya.
Yang menentukan bukanlah seberapa tinggi seseorang pernah berdiri, akan tetapi apakah ketika ia turun dari ketinggian itu masih ada tangan yang ingin menjabatnya, masih ada orang yang mengenangnya dengan rasa hormat, dan masih ada nilai yang dapat dipelajari dari jejak yang ditinggalkannya.
Saya kira, ukuran seperti itulah yang diajarkan orang tua-tua kita di ranah Minang ini.
Mereka tidak pernah terlalu silau kepada kebesaran nama. Mereka lebih tertarik kepada keluhuran perangai. Sebab nama dapat diwariskan oleh keluarga, tetapi martabat hanya dapat dibangun oleh kehidupan yang dijalani dengan sungguh-sungguh dan kesungguhan.
Ketika saya membayangkan Auditorium Gubernuran Sumatera Barat pada Sabtu pagi itu, saya tidak pertama-tama membayangkan panggung, mik, atau deretan kursi yang dipenuhi tamu undangan.
Yang saya bayangkan justru sesuatu yang tidak tampak oleh mata.
Saya membayangkan perjalanan seorang anak muda dari tanah Agam yang pernah berdiri di depan kelas sebagai dosen, yang merintis usaha dari sebuah toko buku kecil, yang membangun Citra Swalayan dengan kesabaran seorang perintis, yang memasuki dunia politik dengan bekal ilmu dan keberanian, lalu akhirnya menyusun kembali serpihan-serpihan pengalamannya ke dalam tujuh buah buku.
Bukankah itu sesungguhnya perjalanan yang utuh,Da?
Perjalanan ilmu.Perjalanan ikhtiar. Perjalanan amanah. Dan akhirnya, perjalanan pulang kepada dirinya sendiri.
Sebab menulis pada usia tujuh puluh tahun bukan lagi pekerjaan mengejar pengakuan. Menulis pada usia itu adalah cara seorang manusia berdamai dengan waktu dan berdamai dengan diri sendiri. Ia memilih menyusun kembali pengalaman hidupnya agar tidak tercerai-berai di dalam ingatan orang-orang yang pernah mengenalnya.
Di situlah saya memaknai tujuh buku Uda itu.
Ia bukan monument,bukan pula tugu penghormatan.Ia adalah titipan. Titipan seorang manusia kepada generasi yang belum sempat berjumpa dengannya.
Saya teringat sebuah petuah lama yang sering diucapkan para ninik mamak kita."Patah tumbuah, hilang baganti."
Banyak orang memahaminya sebagai pergantian generasi. Padahal, menurut saya, maknanya lebih dalam daripada itu. Apa yang tumbuh itu? Pendapat saya, bukan hanya manusianya saja yang tumbuh, melainkan adalah nilai-nilainya.
Yang sesungguhnya harus berganti bukan sekadar orang, melainkan tanggung jawabnya kepada zaman dan ruang masa.
Sebab tidak ada satu generasi pun yang berhak merasa telah menyelesaikan pekerjaannya.Setiap generasi hanya menerima estafet amanah, lalu menyerahkannya kembali kepada generasi berikutnya.
Begitulah adat menjaga dirinya.Begitulah kebudayaan bertahan melintasi zamannya.
Dan saya melihat tujuh buku itu sebagai bagian dari estafet itu. Bukan sekadar catatan seorang anggota DPR RI.Melainkan upaya agar pengalaman tidak putus pada pemiliknya.
Da...
Kita hidup pada sebuah zaman yang bergerak sangat cepat. Waktu serasa cepat berputar.Rasanya, baru patang ciek lai ko juo hari Jumat, kini sudah hari Jumat pula kembali.
Berita lahir pada pagi hari dan dilupakan menjelang malam. Perdebatan memenuhi layar-layar telepon genggam. Grup-grup WA Sebagian ada yang mamakak, sedikit sekali yang menduhkan dengan kabar-kabar kebahagiaan. Tak jarang kita dihantui kabar-kabar ketakutan,kecemasan dan kekhawatiran di akhir zaman.
Mengapa orang begitu mudah menghakimi, tetapi semakin enggan memahami? Sehingga kita bacakak tiap sebentar. Brisik.Ribut. Apakah begitu model kehidupan di era tekhnologi yang kian kencang ini?
Kita mempunyai ribuan saluran informasi, tetapi semakin sedikit ruang kontemplasi.
Di tengah zaman seperti itulah saya merasa bahwa pekerjaan menulis menjadi semakin penting.
Bukan karena tulisan akan mengubah dunia dalam sekejap.Tetapi karena tulisan mengajarkan manusia untuk mari kita berhenti agak sejenak, memandang diri sendiri, lalu bertanya: ke mana sesungguhnya perjalanan ini hendak kita bawa?
Mungkin itulah sebabnya bangsa-bangsa besar selalu meninggalkan perpustakaan sebelum meninggalkan monumen. Mereka tahu, batu akan lapuk dicacar cucuran air.Karang akan gerus dihantam gelombang.Perunggu akan berkarat. Gedung akan runtuh.
Tetapi bagaimana dengan gagasan? Ia mempunyai umur yang jauh lebih panjang daripada bangunan mana pun.
Dan selama masih ada orang yang membaca, sesungguhnya tidak ada pikiran yang benar-benar mati.
Saya bersyukur pernah mengenal Uda.Bukan karena Uda pernah menjadi anggota DPR RI.Bukan karena Uda seorang pengusaha.Bukan pula karena Uda dikenal banyak orang.
Saya bersyukur karena melalui persahabatan kita, saya belajar sekali lagi bahwa manusia tidak pernah benar-benar dinilai dari apa yang berhasil dikumpulkannya, tetapi dari apa yang rela dibagikannya.
Ilmu yang dibagikan menjadi pengetahuan.Rezeki yang dibagikan menjadi keberkahan.Pengalaman yang dibagikan menjadi pelajaran.
Dan kasih sayang yang dibagikan akan menjelma menjadi doa yang terus hidup, bahkan ketika nama kita kelak hanya tinggal sebuah kenangan.
Barangkali itulah sebabnya Buya Anwar Abbas mengingat doa para karyawan.Din Syamsuddin mengenang keberanian uda.Zulkifli Hasan berbicara tentang kematangan uda.Edy Soeparno mengenang ketekunan uda.Irman Gusman mengingat kelurusan dan kejujuran uda.
Mereka datang dari jalan yang berbeda, tetapi semuanya bertemu pada satu simpul yang sama: watak.
Dan watak, Da, tidak pernah bisa dibentuk oleh pidato.Ia ditempa oleh kesetiaan seseorang kepada nilai-nilai yang diyakininya.
Kini baru saya mengerti mengapa saya dua kali gagal memenuhi undangan Uda.
Mungkin Tuhan memang tidak menghendaki saya hadir hanya sebagai tamu.Barangkali Tuhan menghendaki saya hadir dengan cara yang lain.Melalui surat ini.Melalui percakapan yang tidak selesai ketika acara berakhir.
Melalui doa yang diam-diam saya titipkan di antara tiap kalimat yang saya tulis.
Saya percaya, persahabatan yang baik tidak selalu harus diukur oleh seringnya dua orang bertemu.
Ada kalanya persahabatan justru menemukan bentuknya yang paling jujur ketika seorang sahabat berusaha menjaga jejak sahabatnya di dalam ingatan.
Dan saya berharap, surat ini menjadi bagian kecil dari ikhtiar itu.
Uda Guspardi gaus yang elok…
Kelak, ketika cucu-cucu kita membuka kembali halaman-halaman tujuh buku itu, mudah-mudahan mereka tidak sedang mencari siapa Guspardi Gaus.
Mudah-mudahan mereka sedang mencari bagaimana menjadi manusia yang tidak selesai pada dirinya sendiri.Manusia yang memahami bahwa ilmu bukan untuk meninggikan diri, melainkan untuk menerangi sesama.
Bahwa kekuasaan bukan tempat menikmati kehormatan, melainkan ruang untuk memikul amanah.
Bahwa kekayaan bukan ukuran keberhasilan, melainkan kesempatan memperluas kemanfaatan.
Dan bahwa umur bukan sekadar hitungan tahun, melainkan kesempatan yang setiap hari diminta pertanggungjawabannya oleh Tuhan.
Itulah yang diajarkan adat kepada kita.Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah.
Sebuah kalimat yang sering diucapkan, tetapi hanya benar-benar hidup apabila menjelma menjadi perangai.Saya percaya, selama nilai itu tetap dijaga, urang Minangkabau tidak akan pernah kehilangan jalan pulangnya. Dan ia tahu kemana untuk kembali dan kapan untuk ke pulang.
Sebab jalan pulang bukanlah jalan menuju kampung halaman.
Jalan pulang adalah jalan menuju hati nurani.
Selamat menempuh musim ketujuh puluh, Uda Guspardi Gaus.
Semoga Allah SWT terus melimpahkan kesehatan, kejernihan akal, kelapangan hati, dan kekuatan untuk tetap menjadi mata air bagi banyak orang dan bukan menjadi air mata bagi lingkungan.
Semoga tujuh buku yang Uda tinggalkan menjadi amal ilmu yang terus mengalir, menjadi percakapan lintas generasi, dan menjadi pengingat bahwa kehidupan yang paling bermakna bukanlah kehidupan yang paling banyak dipuja puji, melainkan kehidupan yang paling banyak memberi manfaat dalam zona kehidupan nan rahmatan lil alamin.
Dan apabila suatu hari nanti perjalanan kita masing-masing sampai pada penghujungnya, saya berharap Tuhan memperkenankan kita pulang dengan membawa satu jawaban yang sederhana.
Bahwa umur yang dipinjamkan kepada kita tidak habis sia-sia.Bahwa amanah yang dititipkan kepada kita tidak kita khianati.
Dan bahwa jejak yang kita tinggalkan, sekecil apa pun, masih dapat menjadi palito bagi mereka yang datang sesudah kita.
Salam hormat dan doa saya:Pinto Janir.
Jakarta; Jumat 24 Juli 2026
