BREAKING NEWS

Guru SD di Agam Efnita Rilis "Rang Manggopoh", Lagu tentang Rantau, Identitas, dan Semangat Membangun Kampung


Indokatanews Lubuk Basung, Agam;  Guru SD asal Kabupaten Agam, Sumatera Barat, Efnita, S.Pd., SD., MM., meluncurkan singel berjudul "Rang Manggopoh", sebuah karya musik yang mengangkat nilai kerinduan perantau terhadap kampung halaman, ikatan budaya, serta semangat kebersamaan masyarakat Manggopoh.

Singel tersebut direncanakan diperkenalkan pada 8 Agustus 2026 melalui berbagai platform media sosial pribadi Efnita. Lagu ini menjadi bagian dari perjalanan kreatif seorang pendidik yang selama ini aktif dalam dunia pendidikan, literasi, seni, dan budaya.

"Rang Manggopoh" mengangkat filosofi kehidupan masyarakat Minangkabau tentang hubungan antara rantau dan kampung halaman. Lagu ini menggambarkan bahwa perjalanan seseorang sejauh apa pun tetap tidak dapat memutus keterikatan dengan tanah kelahiran, nilai budaya, serta kenangan yang membentuk identitas dirinya.

Efnita bukan nama baru dalam dunia pendidikan di Agam. Ia menyelesaikan pendidikan magister di STIE Indonesia Malang pada 2013 dan telah menjalani pengabdian panjang sebagai pendidik serta pemimpin sekolah.

Selama 16 tahun, ia dipercaya memimpin empat sekolah. Salah satunya SD 07 Sungai Jaring Lubuk Basung, tempat ia kini kembali mengajar setelah menyelesaikan masa tugas sebagai kepala sekolah selama delapan tahun.

Dalam kepemimpinannya, sekolah-sekolah yang dibina Efnita berhasil mengembangkan program kepedulian lingkungan dan meraih penghargaan sekolah peduli lingkungan Adiwiyata dari Pemerintah Kabupaten Agam dan Pemerintah Provinsi Sumatera Barat.

Baginya,pendidikan tidak berhenti pada proses pembelajaran di ruang kelas, tetapi juga membangun karakter, kreativitas, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial dan budaya.

Di luar aktivitas sebagai guru, Efnita dikenal sebagai sosok yang aktif berkarya. Ia tergabung dalam Komunitas Guru Inspiratif (KGI) Agam, wadah yang menghimpun guru-guru kreatif untuk menghasilkan berbagai inovasi dan karya.

Ia juga dikenal sebagai pembawa acara profesional serta memiliki rekam jejak dalam bidang seni. Efnita pernah meraih juara pertama lomba baca puisi antar guru se-Kabupaten Agam dan memperoleh prestasi dalam lomba baju kuruang basiba tingkat nagari, kecamatan, hingga kabupaten.

Dalam dunia literasi, ia menulis buku cerita berjudul "Penakhluk Pertemuan" yang diterbitkan oleh Insan Cendekia Mandiri, Solok, Sumatera Barat.

Kiprahnya di bidang musik juga telah dimulai sebelumnya melalui rekaman sejumlah lagu ciptaan Pinto Janir, di antaranya Salamaik Pagi Bu Guru, Agam Nan dicinto, Dalam Zikir, dan Cerita Kita.

Lagu "Rang Manggopoh" dibuka dengan lirik:"Ilau rabab sadiah mahimbau"yang menghadirkan simbol rabab sebagai suara kenangan. Dalam budaya Minangkabau, rabab bukan hanya instrumen musik, tetapi bagian dari tradisi tutur yang membawa cerita, perasaan, dan kebersamaan. 

Lagu ini menggambarkan kegelisahan seorang perantau yang jauh dari kampung halaman, namun tetap menyimpan ikatan batin  dan kerinduan yang mendalam dengan Manggopoh.

Kerinduan itu tidak hanya tertuju pada tempat, tetapi juga kepada orang-orang yang pernah menjadi bagian dari perjalanan hidup.

"Takana kawan samo gadang, antah di mano kini barado..." lirik ini menunjukkan kerinduan terhadap sahabat masa kecil yang telah menjalani kehidupan masing-masing. Manggopoh dalam lagu ini hadir sebagai ruang yang menyimpan sejarah pribadi, hubungan sosial, dan kenangan bersama.

Makna penting lagu ini terdapat pada bait:"Sajauh-jauh tabangnyo bangau, hinggonyo ka kubangan juo.Sajauh-jauh denai marantau, Manggopoh indak ka den lupo."

Efnita mengingatkan  bahwa merantau adalah perjalanan untuk berkembang, bukan perjalanan untuk melupakan asal-usul.

Pada bagian akhir, lagu bergerak dari kisah pribadi menuju pesan kolektif masyarakat.

"Rang Manggopoh saiyo sakato, mambangun kampuang baiyo iyo."

Lirik tersebut mengandung ajakan untuk memperkuat persatuan dan bersama-sama membangun kampung halaman.

Sementara, penyebutan semangat Siti Manggopoh menjadi simbol keberanian dan keteguhan masyarakat dalam mempertahankan nilai yang diyakini. Pesan itu dipertegas melalui ungkapan:

"Sakik surang padiah basamo."

Tampaknya Efnita ingin menggambarkan prinsip solidaritas sosial: kesulitan satu orang menjadi kepedulian bersama, dan keberhasilan seseorang menjadi kebanggaan masyarakat.

Melalui "Rang Manggopoh", Efnita menghadirkan karya yang mempertemukan pendidikan, seni, dan budaya. Lagu ini tidak hanya berbicara tentang sebuah daerah, tetapi membawa pesan lebih luas mengenai hubungan manusia dengan akar kehidupannya.

Sebagai seorang guru, Efnita menjadikan seni sebagai ruang pendidikan nilai. Ia menyampaikan bahwa menjaga budaya bukan hanya tanggung jawab seniman, tetapi juga bagian dari peran masyarakat, termasuk para pendidik.

"Rang Manggopoh" pada akhirnya menjadi catatan tentang perjalanan manusia: pergi untuk mencari pengalaman, kembali untuk mengingat asal-usul, dan bersatu untuk membangun masa depan. Selamat dan sukses selalu untuk buk guru, Efinta. Teruslah melahirkan karya yang mencerahkan ! (*)

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image