Risalah Kebudayaan kepada Seorang Sahabat,untuk Uda Guspardi Gaus (Bagian Pertama dari Tiga Tulisan)//Catatan Budaya : Pinto Janir.
Uda Guspardi yang saya hormati…
Sebenarnya,sudah lama saya hendak menulis surat kepada Uda. Padahal kertasnya sudah saya siapkan. Pena sudah beberapa kali saya pegang.
Entah mengapa, setiap kali saya hendak memulai, selalu ada sesuatu yang menahan tangan saya. Bukan karena saya kekurangan kata-kata. Bukan karena itu Da… Justru karena saya terlalu banyak menyimpan kata. Dan saya tahu, tidak semua kata layak segera dituliskan. Hsrus saya timang timang dan mesti saya gumam-gumam dulu.
Terkadang Da, persahabatan mempunyai godaan yang halus. Ia sering membuat seseorang terlalu murah memberi pujian. Sebaliknya, jarak membuat orang terlalu mudah menjadi hakim. Saya tidak menghendaki keduanya itu, Da.
Saya ingin menulis sebagaimana seorang sahabat memandang sahabatnya sendiri: dengan hati yang tidak kehilangan kasih, tetapi dengan pikiran yang tidak pula kehilangan kejernihan.
Maka izinkan saya memulai surat ini bukan dari angka tujuh puluh yang kini melekat pada usia Uda. Angka hanyalah ciptaan manusia agar waktu dapat dihitung. Padahal waktu tidak pernah tunduk kepada bilangan. Ia hanya mengenal perubahan. Yang berubah menjadi tua bukanlah angka, melainkan batang tubuh kita. Yang bertambah bukanlah umur, melainkan pengalaman kita.
Dan yang sesungguhnya diuji bukanlah berapa lama seseorang hidup, akan tetapi apa yang berhasil kita tinggalkan ketika hidup itu perlahan-lahan bergerak menuju ujung senja.
Barangkali karena itu pula saya tidak pernah terlalu tertarik kepada ulang tahun. Apalagi untuk merayakannya. Yang selalu menarik perhatian saya justru perjalanan yang berada di belakangnya. Sebab usia tidak pernah berdiri sendiri.
Ia senantiasa membawa jejak. Jejak pergaulan, jejak pengabdian, jejak kesalahan, jejak keberanian, bahkan jejak keraguan yang pernah diam-diam kita surukkan dari banyak orang.
Pada Sabtu, 1 Agustus 2026, Auditorium Gubernuran Sumatera Barat akan menjadi tempat orang-orang berkumpul. Akan ada peluncuran dan diskusi panel tujuh buku. Akan ada pidato, sambutan, pertemuan para sahabat, para akademisi, para politisi, para budayawan, dan mereka yang selama ini mengikuti perjalanan hidup Uda. Semua itu adalah sebuah peristiwa yang patut kita syukuri, Da.
Namun, Da, saya percaya bahwa sesungguhnya yang sedang kita rayakan pada hari itu bukanlah sebuah acara semata.
Yang sedang kita rayakan adalah kesediaan seorang manusia untuk mempertanggungjawabkan segala jejak pikirannya kepada masyarakat yang pernah diwakilinya.
Di negeri ini Da, kita lebih sering menyaksikan jabatan diwariskan melalui foto-foto yang dipajang di dinding kantor. Tidak banyak orang yang meninggalkan percakapan. Padahal kekuasaan hanya bertahan selama masa jabatan, sedangkan pikiran dapat terus hidup selama masih ada orang yang bersedia membacanya.
Tujuh buku itu, bagi saya, bukan sekadar kumpulan berita, dokumentasi sidang, dialog radio, atau pandangan politik. Buku-buku itu adalah sebuah ikhtiar agar pengalaman tidak habis menjadi kenangan lalu tertimbun oleh waktu yang berdebu debu. Bukankah kenangan adalah milik pribadi, sedangkan catatan adalah milik kebudayaan?
Saya sering bertanya kepada diri saya sendiri Da, mengapa ada orang yang setelah selesai memegang amanah lebih banyak memilih diam. Sementara, ada pula yang merasa perlu menuliskan kembali perjalanan yang pernah dilaluinya. Sampai kini, pertanyaan itu tidak pernah memperoleh jawaban yang benar-benar tuntas di tengkorak kepala saya. Tetapi saya mulai memahami bahwa menulis bukanlah pekerjaan mengumpulkan kata-kata. Menulis adalah ikhtiar menyelamatkan segala ingatan yang pernah ada.
Bangsa yang kehilangan ingatan akan mudah kehilangan arah. Ia akan mengulang kesalahan yang sama, mengagungkan kegaduhan yang sama, dan terpesona oleh kilau yang sama. Sebab tidak ada bangsa yang runtuh hanya karena kekurangan gedung, jalan raya, atau teknologi. Banyak bangsa mulai rapuh ketika mereka berhenti merawat ingatan anak negerinya.
Di situlah saya memandang tujuh buku Uda itu.
Ia bukan sekadar dokumentasi perjalanan seorang anggota DPR RI.
Ia adalah usaha kecil, tetapi bermakna, untuk mengatakan kepada generasi yang akan datang bahwa di ruang-ruang sidang pernah ada orang yang berusaha meninggalkan bukan hanya suara, akan tetapi juga pikiran.
Kita orang Minangkabau memang sejak dahulu mempunyai cara yang sangat sederhana dalam memahami kehidupan ini. Kita tidak bertanya terlebih dahulu, "Berapa tinggi seseorang telah berdiri?".Karena bagi kita, setinggi tinggi orang bila sedang berdiri dan serendah-rendah orang bila sedang duduk , bagi kita sama. Yang menjadi pembeda bagi kita adalah , "Apa manfaat yang telah ia tinggalkan semasa duduk dan semasa berdiri?"
Pertanyaan itu memang terdengar sederhana. Tetapi sesungguhnya di sanalah seluruh filsafat hidup urang awak bermaqom.
Setinggi dan sejauh apa pun seekor bangau terbang, orang tua-tua kita selalu mengingatkan, “hinggoknyo ka kubangan juo”. Setinggi apa pun seseorang menempuh perjalanan hidupnya, ia akan kembali kepada tempat nilai-nilai pertama kali ditanamkan.
Kepada rumah gadang tempat ia belajar menghormati ibu. Kepada surau tempat ia belajar menundukkan kepala di hadapan Tuhan. Kepada sawah tempat ia belajar bahwa padi semakin berisi semakin merunduk. Kepada lapau tempat ia belajar bahwa perbedaan pendapat tidak harus memutus tali persaudaraan.
Barangkali karena itu pula saya selalu percaya bahwa kebesaran urang Minangkabau tidak pernah ditentukan oleh sejauh mana ia merantau. Kebesaran itu justru diukur oleh seberapa banyak nilai kampungnya tetap hidup di dalam dirinya ketika ia berada jauh dari kampung halaman.
Saya melihat ikhtiar itu pada diri Uda.
Uda merantau ke banyak ruang kehidupan. Dari ruang kuliah menuju dunia usaha. Dari dunia usaha menuju gelanggang politik. Dari politik daerah menuju parlemen nasional. Tetapi setiap kali saya memperhatikan perjalanan itu, saya tidak melihat seseorang yang sedang menjauh dari akar kebudayaannya. Uda tetap berminangkabau. Saya justru melihat seseorang yang sedang membawa akar itu ke mana pun ia melangkah.
Itulah sebabnya saya tidak pernah memahami perjalanan Uda semata-mata sebagai perjalanan politik.
Saya lebih senang memahaminya sebagai perjalanan kebudayaan.
Uda… Politik mempunyai musim.Kebudayaan mempunyai usia yang jauh lebih panjang. Pikiran politik sering bergantung kepada kemenangan.Pikiran budaya bergantung pada nilai,moral dan adab. Ia bertumpu pada keteladanan.
Politik dapat mengubah undang-undang.Tetapi kebudayaan perlahan-lahan mengubah watak manusia.
Saya kira, setiap manusia pada akhirnya akan memilih: apakah ia ingin dikenang karena pernah berkuasa, atau dikenang karena pernah berguna?
Pilihan itu tidak pernah diumumkan melalui pidato.Ia dibuktikan oleh kehidupan itu sendiri.
Da...
Saya menulis surat ini dengan satu kesadaran yang sangat sederhana.
Saya tidak sedang menulis riwayat hidup Uda. Saya tidak sedang menyusun testimoni. Saya juga tidak sedang menambah daftar pujian yang mungkin sudah terlalu banyak Uda dengar.
Saya hanya sedang mencoba membaca kembali sebuah perjalanan hidup dengan kacamata yang diajarkan kebudayaan Minangkabau kepada kita sejak kecil: bahwa hidup tidak pernah selesai pada diri sendiri.
Hidup selalu menemukan maknanya ketika ia menjadi manfaat bagi orang lain.Dan saya berharap, ketika orang-orang nanti meninggalkan Auditorium Gubernuran Sumatera Barat pada siang hari itu, mereka tidak hanya membawa sebuah buku.
Mereka membawa pulang sebuah pertanyaan.Apabila suatu hari umur kita sendiri genap tujuh puluh tahun, jejak apakah yang akan kita tinggalkan?
Sebab pada akhirnya, Da, yang paling lama hidup bukanlah manusia. Yang paling lama hidup adalah nilai yang berhasil ia wariskan.
(Bersambung)
