Lahirnya Dewan Kebudayaan Bukittinggi-Agam Patut Diapresiasi: "Antara Pelestarian Tradisi dan Kebangkitan Intelektual Minangkabau" // Oleh : Novita Sari Yahya
Terbentuknya Dewan Kebudayaan Bukittinggi-Agam patut diapresiasi sebagai sebuah langkah penting dalam upaya memperkuat kehidupan kebudayaan di Ranah Minang.
Inisiatif yang digagas oleh Pinto Janir, DR Indra Utama, Asraferi Sabri bersama sejumlah seniman dan budayawan lainnya menunjukkan bahwa masih ada kegelisahan intelektual dan tanggung jawab moral terhadap masa depan kebudayaan Minangkabau.
Di tengah arus globalisasi yang semakin deras, kebudayaan tidak lagi cukup dipahami sebagai pertunjukan seni, festival, atau perayaan seremonial semata. Kebudayaan adalah cara berpikir, cara memahami dunia, cara membangun peradaban, dan cara sebuah masyarakat menjaga identitasnya di tengah perubahan zaman.
Karena itu, lahirnya Dewan Kebudayaan Bukittinggi–Agam seharusnya tidak hanya dipandang sebagai terbentuknya sebuah organisasi baru. Lebih dari itu, ia harus menjadi momentum untuk merumuskan kembali arah kebudayaan Minangkabau di abad ke-21.
Minangkabau selama ini dikenal sebagai salah satu pusat intelektual terbesar di Nusantara. Kebesaran Minangkabau bukan hanya lahir dari kekayaan adat, rumah gadang, randai, saluang, tari tradisional, atau tradisi lisan yang diwariskan turun-temurun. Kebesaran Minangkabau juga lahir dari tradisi berpikir yang kuat.
Dari tanah Minang lahir sejumlah tokoh yang memberikan pengaruh besar terhadap perjalanan bangsa Indonesia. Nama-nama seperti Buya Hamka, Mohammad Natsir, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, dan Mohammad Hatta bukan lahir secara kebetulan. Mereka tumbuh dari lingkungan budaya yang menghargai ilmu pengetahuan, diskusi, perdebatan intelektual, tradisi membaca, dan keberanian berpikir.
Mereka lahir dari masyarakat yang menjadikan surau bukan sekadar tempat ibadah, tetapi juga pusat pendidikan dan pembentukan karakter. Dari lingkungan seperti itulah lahir para pemikir, negarawan, ulama, dan tokoh pergerakan yang mampu berbicara bukan hanya untuk Minangkabau, melainkan untuk Indonesia dan dunia.
Pertanyaan yang kemudian perlu diajukan adalah: apakah warisan intelektual tersebut masih menjadi bagian dari kehidupan generasi muda Minangkabau hari ini?
Apakah karya-karya Buya Hamka masih rutin dibedah dan didiskusikan di sekolah, kampus, komunitas pemuda, dan organisasi perempuan? Apakah pemikiran Mohammad Hatta tentang ekonomi kerakyatan masih dipelajari secara serius? Apakah gagasan Sutan Sjahrir mengenai demokrasi dan pendidikan politik masih menjadi bahan dialog publik? Apakah pemikiran Tan Malaka masih dikenalkan sebagai bagian dari sejarah intelektual bangsa? Apakah warisan pemikiran Mohammad Natsir masih menjadi referensi dalam memahami hubungan antara pendidikan, kebangsaan, dan pembangunan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi penting karena tantangan kebudayaan saat ini jauh berbeda dengan tantangan masa lalu.
Hari ini masyarakat hidup di tengah banjir informasi. Media sosial menghadirkan ribuan opini setiap hari. Namun banyaknya informasi tidak selalu melahirkan kedalaman berpikir. Sebaliknya, tidak sedikit yang justru terjebak pada budaya sensasi, perdebatan tanpa substansi, popularitas sesaat, dan kecenderungan untuk berbicara tanpa landasan pengetahuan yang memadai.
Fenomena yang dalam istilah Minang sering disebut sebagai bacaruik pungkang semakin mudah ditemukan di ruang digital. Banyak orang berbicara panjang lebar tanpa arah yang jelas. Banyak yang berkomentar tanpa memahami persoalan secara utuh. Tidak sedikit pula yang lebih mengutamakan pencitraan daripada pemikiran.
Dalam situasi seperti ini, kebudayaan tidak boleh hanya hadir dalam bentuk festival tahunan, lomba kesenian, atau pertunjukan seremonial yang berakhir dengan sesi foto bersama.
Kesenian memang penting. Festival budaya juga penting. Pertunjukan tradisional perlu terus didukung dan dilestarikan. Namun apabila seluruh energi kebudayaan hanya dihabiskan untuk kegiatan seremonial, maka ada risiko besar bahwa masyarakat kehilangan substansi intelektual yang justru menjadi fondasi kebesaran Minangkabau selama berabad-abad.
Dalam sejumlah tulisan sebelumnya, saya pernah mengkritik kecenderungan “ibuisme seremonial”, yaitu situasi ketika berbagai kegiatan lebih banyak berorientasi pada acara, panggung, dokumentasi, dan simbol-simbol representatif dibandingkan pada pencapaian tujuan substantif.
Kritik yang sama juga relevan dalam konteks kebudayaan.
Masyarakat perlu mengetahui secara jelas apa arah, visi, dan program kerja Dewan Kebudayaan Bukittinggi–Agam dalam lima hingga sepuluh tahun ke depan. Apakah fokus utamanya hanya pada pelestarian kesenian tradisional? Ataukah lembaga ini juga akan berperan sebagai pusat kebangkitan intelektual masyarakat Minangkabau?
Jika ingin memberikan dampak yang nyata, Dewan Kebudayaan perlu menyusun program-program yang terukur dan berkelanjutan.
Misalnya, membangun gerakan bedah buku tokoh-tokoh Minangkabau secara rutin di sekolah, kampus, dan nagari. Mengadakan forum diskusi bulanan mengenai sejarah, sastra, filsafat, dan pemikiran Minangkabau. Mendorong lahirnya komunitas membaca bagi generasi muda dan perempuan. Memberikan ruang bagi penulis muda, peneliti muda, dan pegiat literasi untuk berkembang.
Selain itu, perlu dibangun kolaborasi dengan pemerintah daerah, perguruan tinggi, sekolah, lembaga adat, organisasi perempuan, komunitas seni, media massa, dan sektor swasta. Kebudayaan tidak dapat bergerak sendiri. Ia membutuhkan ekosistem yang kuat.
Di era digital, Dewan Kebudayaan juga perlu memanfaatkan teknologi sebagai sarana penyebaran pengetahuan. Ceramah budaya, diskusi buku, dokumentasi sejarah lokal, dan karya sastra Minangkabau dapat dikemas dalam format digital yang mudah diakses oleh generasi muda, baik di kampung halaman maupun di rantau.
Sebab Minangkabau tidak hanya hidup di Sumatera Barat. Minangkabau hidup di seluruh Indonesia bahkan di berbagai belahan dunia melalui jaringan perantau yang sangat luas.
Karena itu, gerakan kebudayaan harus memiliki perspektif yang lebih besar daripada sekadar kegiatan lokal. Ia harus menjadi gerakan peradaban.
Pada akhirnya, keberhasilan Dewan Kebudayaan Bukittinggi–Agam tidak akan diukur dari banyaknya acara yang diselenggarakan atau banyaknya panggung yang dibangun. Keberhasilannya akan diukur dari sejauh mana lembaga ini mampu melahirkan generasi yang kembali mencintai ilmu pengetahuan, gemar membaca, kritis dalam berpikir, santun dalam berdialog, dan bangga terhadap identitas budayanya.
Minangkabau pernah melahirkan para pemikir besar yang memberi warna bagi perjalanan Indonesia. Tugas generasi hari ini bukan sekadar mengenang mereka, tetapi memastikan bahwa tradisi intelektual oleh Buya Hamka, Mohammad Natsir, Tan Malaka, Sutan Sjahrir, dan Mohammad Hatta tetap hidup.
Jika Dewan Kebudayaan mampu menjadi jembatan antara tradisi dan intelektualitas, antara adat dan ilmu pengetahuan, antara seni dan pemikiran, maka kehadirannya akan menjadi salah satu investasi peradaban paling penting bagi masa depan Minangkabau dan Indonesia.
*Tentang Penulis :
Novita Sari Yahya lahir di Padang, 1 November 1972. Ia merupakan alumnus SMA Negeri 1 Padang angkatan 1991 dan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FKUA) angkatan 1991.
Novita adalah putri dari dr. Enir Reni Sagaf Yahya, alumnus angkatan pertama FKUA tahun 1955, cucu dari dr. Sagaf Yahya, serta cicit Jahja Datoek Kajo, Angku Damang dari Koto Gadang, Kabupaten Agam. Saat ini ia aktif sebagai peneliti, penulis buku, dan pegiat gerakan kebudayaan.
Novita Sari Yahya adalah seorang dokter, penulis, peneliti, pendidik, dan aktivis literasi asal Padang, Sumatera Barat.
Ia dikenal aktif dalam bidang pendidikan, pemberdayaan perempuan, kebangsaan, serta dunia pageant (ajang kecantikan) internasional.
Beberapa hal yang membuatnya dikenal antara lain:
Menulis sejumlah buku bertema sastra, kebangsaan, perempuan, dan pengembangan diri, seperti Romansa Cinta, Padusi: Alam Takambang Jadi Guru, Novita & Kebangsaan, dan Self Love: Rumah Perlindungan Diri.
Novita aktif sebagai peneliti dan penggerak literasi yang mengangkat isu perempuan, keluarga, dan kebangsaan.
Menjadi National Director Indonesia untuk berbagai ajang kecantikan internasional dan membina peserta Indonesia di tingkat dunia.
Menggagas Yayasan Filantropi Padusi yang berfokus pada pendidikan, kebudayaan, dan pemberdayaan perempuan Indonesia.
Dalam sejumlah publikasi, Novita Sari Yahya juga dikenal sebagai sosok yang menggabungkan kegiatan literasi, penelitian, pendidikan, dan advokasi perempuan dengan semangat kebangsaan.
Salah satu karya Novita yang cukup dikenal berjudul Padusi: Alam Takambang Jadi Guru, yang mengambil inspirasi dari falsafah Minangkabau.
Quote: “Kebudayaan adalah pondasi berbangsa dan bernegara. Kebudayaan membentuk struktur berpikir masyarakat dan menjadi penanda peradaban.” — Novita Sari Yahya
