BREAKING NEWS

Percakapan Olahraga dan Budaya Jelang Porprov 2026 --PORWIL 2027, Bareng Ketum KONI Sumbar Hamdanus//Catatan Budaya : Pinto Janir

 


Saya dan Hamdanus nan kandidat doktor nan juga Ketua Umum KONI Sumbar nan tun serta Riko, berdialog tentang  pikiran budaya dan olahraga dalam membangun peradaban yang berbudi daya. 

Cukup lama juga kami bercakap cakap di sebuah ruang teduh di bawah langit Jakarta,Selasa 14 Juli 2026.Hampir tiga jam kami mahota hota. Lah bagaleh galeh pulo kopi tandeh. 

Hasilnyo, catatan di bawah nan ko. 

Sanak, oi..!

Nan kami ota-an nan ko bukan hanyo sakadar membahas pikiran olahraga atau kebudayaan sebagai dua bidang yang berdiri sendiri namun sulit dipisahkan.

Bukan itu se. 

Jauh labih penting.

Nan jaleh, pikiran kami sepakat, bahwa budaya adalah jiwa. Sementara, olahraga adalah raganya. 

Kita manusia tidak cukup hanya memiliki kekuatan fisik. Akan tetapi, kita juga memerlukan karakter, etika, dan nilai. 

Budaya adalah kompas. Ia penunjuk arah. Sedangkan olahraga melatih disiplin untuk menjalankan arah tersebut.

Tanpa disiplin, kita berpotensi menemui arah yang salah. 

Kita tahu, bahwa prestasi olahraga lahir dari budaya yang kuat.

Menjadi sang juara tidak hanya dibentuk oleh latihan hingga mencuru peluh sagadang jaguang.

Akan tetapi juga oleh budaya kerja keras, kejujuran, tanggung jawab, rasa malu ketika bermalas-malasan, dan semangat pantang menyerah. Semua itu termaktub dalam kitab nilai budaya.

Oke! 

Inapkanlah baik baik semerenung renungnya inapan. Bahwa, pasti kita sepakat,olahraga merupakan ekspresi kebudayaan.

Bukankah begitu?

Yess! 

Ya, dialog di malam yang teduh itu makin berkembang. Makin asyik. Makin bersahut-sahutan dalam dinamika pikiran kami. Tapi, kami bercakap cakap tidak seperti debat kusir. Tidak saling menegangkan urat leher. Tidak pula saling manggadangkan mato. Tak marabo rabo kalau babedo di ruang pangana.

Kami berharap, dari dialog kadai  kopi ko lahir makna . 

Saya menangkap makna, ternyata seorang  Hamdanus Bagindo Rajo adalah pribadi yang tak saja paham dalam nilai nilai " pembangunan dan pembinaan keolahragaan " tapi juga sangat paham dan mengerti dengan nilai nilai budaya. Ia membangun dan membina prestasi olahraga Sumatera Barat dengan sentuhan budaya. 

Walaupun jo ameh sagalo kameh, tapi indak sadoalah persoalan kemasyarakatan salasai dek ameh babungkah. Picayolah. 

Adakalanya suatu persoalan nan semula bak paneh matoari garang, taduah dek karano disalasaikan jo caro kerja kerja budaya. Kerja kerja bersentuhan "raso" sehingga menyentuh nilai kemanusiaan, itu adalah salah satu bentuk "bertiupnya ruh budaya".

Ruh budaya, peneduh awan kehidupan kita. 

Dan... 

Saya mengangguk angguk, ketika calon doktor ini bicara tentang olahraga dan budaya. Saya juga mengangguk agak kagum senangin ketika melihat berlapis lapis kesibukannya menjelang pelaksaan Porprov Sumbar dan persiapan Sumbar yang dipercayai KONI Pusat selalu tuan rumah PORWIL 2027, tapi seorang Hamdanus tetap fokus dan konsen untuk kesuksesan dua helat akbar keolahragaan itu. 

Saya menyimak jalan pikiran Hamdanus dengan saksama. 

Ia bergerak dalam sentuhan budaya, sentuhan mana yang berdaya cipta, berdaya rasa dan berdaya karsa di ruang masyarakat yang berbudi. 

Setiap daerah memiliki cara tersendiri mendidik generasi mudanya melalui permainan tradisional, bela diri, hingga berbagai bentuk kompetisi. Karena itu, olahraga adalah bagian dari identitas budaya suatu bangsa. 

Klop sudah. 

Soal ini, kami benar benar sepakat. 

Lalu,kami juga se pandangan bahwa peradaban dibangun oleh manusia yang sehat jasmani dan sehat rohani.

Masyarakat yang sehat akan lebih produktif, kreatif, dan mampu melahirkan karya-karya besar. Kebudayaan memperhalus budi, sedangkan olahraga menguatkan tubuh dan mental.

Untuk kesekian kalinya, pandangan kami sama. 

Saya sampaikan, bahwa atlet itu secara tidak langsung,ia adalah duta kebudayaan.

Lihatlah,ketika seorang atlet tampil di tingkat nasional maupun internasional, yang dibawanya bukan hanya nama pribadi, tetapi juga martabat daerah dengan segala nilai-nilai budaya, dan kehormatan bangsanya.

Bagaimana caranya, supaya budaya prestasi harus menjadi gerakan sosial.

Harus jadi gerakan menyeluruh? 

Begini kata Hamdanus, "Prestasi olahraga  jangan hanya dipahami sebagai kemenangan sesaat. Ia harus menjadi budaya yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya melalui pendidikan, keluarga, sekolah, dan organisasi".

Kemudian saya timpali, bahwa ranah Minangkabau nan tacinto ini memiliki modal budaya yang kuat untuk melahirkan sang juara.

Mengapa? 

"Karena, nilai adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah, semangat merantau, gotong royong, kecintaan pada ilmu dan daya juang yang teruji merupakan fondasi mental yang sangat kuat bagi lahirnya atlet-atlet berprestasi. Dan, itu modal kita untuk menjadi sang juara".

Lalu, percakapan makin menyeluruh. Bahkan hingga menyasar ke ruang demokrasi 

Kami sepakat, bahwa olahraga mengajarkan cara cara "berdemokrasi" yang paling jujur dan paling sportif. 

Di arena pertandingan, yang dihormati adalah kerja keras, kemampuan, dan sportivitas. Mana pula ada kemenangan yang dapat dibeli tanpa usaha.

Dan sebenar benarnya, inti percakapan ini adalah, kita perlu membangun ekosistem budaya olahraga.

Prestasi olahraga tidak hanya menjadi tanggung jawab KONI semata, akan tetapi juga tanggung jawab sekolah, perguruan tinggi, seniman, budayawan, media massa, pemerintah, dan keluarga. 

Bukankah,dek basamo mangko manjadi. Lahirnya sebuah tuah, karano sakato. Kalau kita sibuk dan larut taruih basilang sangketo, habih waktu dek basilang kato, mako lanyok sagalo rupo tuah. Jangan berharap akan bertemu pada apa yang kita sebut sebut sejak lama, yakni : " Lawik sati, rantau batuah"

Kalau ingin nagari ini merebut berlapis lapis medali yang mengharumkan namo ranah bundo, mari kito saling menguatkan. Bukan sebaliknya, saling melemahkan.

Pada ujung kata sebelum bertemu muara, kami membahas apa dan bagaimana dengan peradaban berbudi daya dan olahraga itu. 

Tujuan akhir bukan semata mata menghasilkan atlet yang selalu meraih gelar juara atau melahirkan seniman yang hebat, melainkan membangun manusia yang berbudi, berdaya cipta, berdaya juang, dan berdaya saing serta bermata hati. 

Pelan pelan saya berkata: " Inilah makna dari peradaban berbudi daya. Peradaban yang bertumpu pada kecerdasan budaya, kekuatan karakter, kesehatan jasmani, dan prestasi yang bermartabat".

Tersebab bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang memiliki dan membangun stadion semegah entah atau gedung kesenian yang indah.Bukan sekadar itu saja, sanak. 

Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menjadikan budaya sebagai sumber karakter dan olahraga sebagai sekolah alam kehidupan untuk melahirkan  seorang "petarung" berbudi nan nasionalis di tengah dahsyatnya badai digital global! 

Saya berharap,budaya dan olahraga jangan berjalan sendiri-sendiri. Jangan lepaskan bimbingan tangan. Sangsai peradaban bekoh! 

Salam olahraga. 

Salam budaya. 

Salam cinta bangsa di ruang tenggang rasa yang tak pernah lenyap di dada. 

---Jakarta, 14 Juli 2026: Pinto Janir---

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image