BREAKING NEWS

Dari Ranah yang Kaya, Para Seniman Lahirkan Dewan Kebudayaan Bukittinggi Agam




Indokatanews, Bukittinggi :  Di sebuah kota yang tumbuh di lereng sejarah, di tanah yang sejak lama menyimpan jejak adat, sastra, seni, dan kebijaksanaan nenek moyang, para seniman dan budayawan berkumpul.

Kegiatan ini diinisiasi oleh Pinto Janir, Indra Utama dan Asraferi Sabri. 

Dan, apakah mereka sekadar datang untuk mahota-hota sambil mencacar  kopi hangat di udara malam Bukittinggi yang sejuk?

Bukankah lazimnya, seperti yang taralah.Di mana, bila tikar dibentang yang terhampar adalah "pertengkaran" dalam debat kusir yang bersikeras arang. 

Apakah begitu? 

Jika para seniman dan budayawan berkumpul, yang lahir adalah perdebatan panjang, silang pendapat yang berliku, bahkan kadangkala batangka yang tak kunjung selesai?

Begitukah? Tidak. Pertemuan malam ini menjadi pertemuan indah seperti bulan. Pertemuan malam itu berlangsung dalam kehangatan pikiran yang melahirkan kesepakatan saciok bak ayam sadanciang bak basi. 

Kali ini yang lahir bukan pertengkaran gagasan. Yang lahir adalah kesepakatan. Yang tumbuh bukan perdebatan tentang siapa yang paling benar, siapa yang paling hebat, siapa yang paling merasa gagah sendiri, melainkan kesadaran tentang apa yang harus diselamatkan bersama sama. 


Sebab, mereka datang membawa kegelisahan yang sama.

Mereka datang dengan satu pertanyaan yang menggantung di langit Bukittinggi dan Agam: mengapa daerah yang begitu kaya justru belum sepenuhnya menikmati kekayaan yang dimilikinya?

Dari pertemuan yang berlangsung di Labrazzo Cafe, Belakang Balok, Bukittinggi, Minggu (7/6/2026), lahirlah sebuah ikhtiar bersama bernama Dewan Kebudayaan Bukittinggi Agam.

Sebuah lembaga yang diharapkan menjadi rumah bagi kebudayaan. Rumah bagi para seniman. Rumah bagi para budayawan. Rumah bagi gagasan-gagasan yang selama ini seperti  berjalan sendiri-sendiri. 

Dan yang lebih penting, rumah bagi harapan masyarakat tentang masa depan peradabannya.



Karena sesungguhnya yang sedang dibicarakan bukan sekadar kesenian.

Yang sedang dibicarakan adalah masa depan.

Bukittinggi dan Agam berada dalam bentangan sejarah Luhak Agam. Sebuah kawasan yang dianugerahi hampir semua syarat untuk menjadi pusat kemajuan kebudayaan.

Alam dan orangnya elok.Adatnya kokoh.Tradisinya hidup.

Tutur bahasanya indah.Sastranya melahirkan banyak nama besar.

Kuliner dan arsitekturnya menyimpan jejak panjang perjalanan peradaban.

Segalanya ada di sini. 


Namun justru di situlah kegelisahan itu bermula.

Jika semuanya ada, mengapa kesejahteraan belum tumbuh sebagaimana mestinya?

Jika kekayaan budaya begitu melimpah, mengapa ia belum sepenuhnya menjelma menjadi kekuatan pembangunan?

"Kekayaan yang dimiliki itu mestinya bisa menyejahterakan masyarakat. Tetapi kenyataannya belum terlihat. Ada sesuatu yang perlu dicari dan dibenahi bersama. Jangan sampai kita menjadi masyarakat yang kufur nikmat terhadap anugerah yang telah diberikan," ujar budayawan Zul Ifkar Rahim.

Kalimat itu mengendap di ruang pertemuan. Menjadi bahan renungan bersama.

Menurut Pinto Janir, persoalan terbesar selama ini bukan karena daerah kekurangan kebudayaan, melainkan karena kebudayaan belum ditempatkan pada posisi yang semestinya.

Kebudayaan sering hadir sebagai acara.Hadir sebagai festival.Hadir sebagai perayaan.Hadir sebagai seremoni.Namun belum sungguh-sungguh hadir sebagai arah.

"Kebudayaan hadir sebagai kegiatan, bukan sebagai arah. Kebudayaan hadir sebagai program, bukan sebagai visi jangka panjang. Padahal kebudayaan seharusnya menjadi kompas yang membantu daerah menentukan ke mana langkah akan dibawa," ujar penyair, sastrawan, wartawan, dan budayawan Minangkabau itu.

Bagi Pinto, kebudayaan bukan sekadar pertunjukan tari, puisi, bunyi talempong, atau barisan acara yang memenuhi kalender tahunan.

Kebudayaan adalah cara sebuah masyarakat mengenali dirinya sendiri.

Ia adalah ingatan kolektif.Ia adalah identitas.Ia adalah jiwa yang memberi makna pada pembangunan.

Kata Pinto,  jalan raya dapat dibangun dalam hitungan tahun.Gedung dapat didirikan dalam hitungan bulan.

Tetapi peradaban membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang.

Peradaban lahir dari nilai.

Dan dari nilai lahir dari kebudayaan.

" Kerja kerja dan pikiran kebudayaan adalah kerja dan pikiran kesadaran untuk memajukan peradaban! " kata Pinto Janir. 

Kesadaran itulah yang sejalan dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.

Undang-undang tersebut menegaskan bahwa kebudayaan bukan beban pembangunan, melainkan investasi peradaban.

"Kebudayaan adalah kekuatan yang memperteguh jati diri sekaligus membuka jalan menuju kesejahteraan masyarakat. Karena itu kebudayaan harus dilindungi, dikembangkan, dimanfaatkan, dan dibina secara berkelanjutan," kata budayawan Minangkabau, Asraferi Sabri. 

Bagi para peserta pertemuan, amanat itu bukan sekadar rangkaian pasal dalam lembaran negara.

Ia adalah panggilan untuk bekerja.

Sebab adat istiadat, bahasa, seni, tradisi lisan, manuskrip, permainan rakyat, olahraga tradisional, ritus, serta berbagai warisan budaya lainnya tidak akan hidup hanya karena dipuji.

Menurut Asraferi Sabri ,penyair yang juga dikenal sebagai salah seorang senior wartawan ini, "Yang dipuji tanpa dirawat akan perlahan layu.Yang dibanggakan tanpa dipelihara akan perlahan hilang.Dan yang diabaikan akan menjadi kenangan".

Katanya, karena itulah kehadiran Dewan Kebudayaan Bukittinggi Agam dipandang penting.

Lembaga ini diharapkan mampu menjadi suara masyarakat kebudayaan sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan tanpa kebudayaan ibarat perjalanan panjang tanpa kompas.

Ia mungkin bergerak.Tetapi tidak selalu tahu ke mana akan tiba.Pada akhirnya bermuara pada frasa " di mana ketiba sajalah".

Ia mungkin saja bisa maju.

Tetapi belum tentu memuat makna.

Pembangunan yang kehilangan sentuhan kebudayaan pada akhirnya hanya akan melahirkan kemajuan fisik tanpa kedalaman jiwa.

Sementara kebudayaan mengajarkan bahwa manusia tidak hidup oleh bangunan semata, tetapi juga oleh nilai, ingatan, dan makna.

"Kehadiran lembaga yang lahir dari inisiatif masyarakat akan memiliki daya dorong yang lebih kuat untuk menggerakkan kehidupan kebudayaan dibandingkan langkah-langkah yang berjalan sendiri-sendiri selama ini," ujar Dr. Indra Utama.

Di penghujung pertemuan, para seniman dan budayawan memberikan amanah kepada Dr. Indra Utama sebagai Ketua dan Asraferi Sabri sebagai Sekretaris Dewan Kebudayaan Bukittinggi Agam.

Keduanya dipercaya menyiapkan fondasi kelembagaan yang kokoh bagi perjalanan organisasi tersebut ke depan.

Sebab kebudayaan, pada akhirnya, bukanlah warisan masa lalu yang disimpan dalam lemari ingatan.


Kebudayaan adalah suluh yang harus terus dibawa menuju masa depan.

Dan dari Bukittinggi, dari tanah yang kaya cerita, kaya sejarah, dan kaya makna itu, sebuah ikhtiar baru sedang dimulai.

Ikhtiar untuk menjaga ingatan.

Ikhtiar untuk merawat jati diri.

Ikhtiar untuk memastikan bahwa kebudayaan tidak lagi sekadar menjadi pelengkap pembangunan, melainkan menjadi jalan yang menuntun pembangunan itu sendiri.

Karena sebuah bangsa dapat kehilangan banyak hal dan tetap bertahan.

Tetapi ketika ia kehilangan kebudayaannya, sesungguhnya ia sedang kehilangan dirinya sendiri.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image