Sembilan Tokoh Minangkabau Bersedia Menjadi Pembina Dewan Kebudayaan Bukittinggi–Agam
DR. Indra Utama dan Asraferi Sabri
Indokatanews Bukittinggi; Dalam sejarah sebuah bangsa, mana pernah peradaban lahir dari gedung-gedung megah atau jalan-jalan yang membelah kota. Peradaban lahir dari pikiran jernih yang dirawat, dari nilai hati yang dijaga, dan dari para insani yang bersedia menjadi penjaga batang jiwa kebudayaan ketika zaman bergerak semakin cepat meninggalkan akar yang tercerabut dihoyak badai teknologi yang kian tak terhambat.
Karena itu, kesediaan sembilan tokoh masyarakat Minangkabau untuk menjadi Pembina Dewan Kebudayaan Bukittinggi-Agam bukan sekadar dukungan untuk organisasi ini. Ia adalah penegasan moral bahwa kebudayaan Minangkabau masih memiliki para penjaga yang rela mewakafkan pikiran, pengalaman, dan kewibawaannya demi masa depan ranah ini.
Ketua Umum Dewan Kebudayaan Bukittinggi-Agam, Dr. Indra Utama, didampingi Sekretaris Umum Asra Feri Sabri, menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada para tokoh tersebut. Menurutnya, kesediaan sembilan tokoh itu menjadi pembina merupakan energi batin yang memperkuat langkah organisasi kebudayaan yang baru saja lahir melalui pertemuan seniman dan budayawan di Restoran Labrazzo Bukittinggi, Minggu, 7 Juni 2026.
"Ketika para tokoh menyatakan dukungan, sesungguhnya yang mereka dukung bukan sebuah organisasi semata. Melainkan, mereka sedang menjaga kesinambungan peradaban Minangkabau agar tetap berdiri tegak di tengah gelombang dahsyat perubahan zaman," ujar Indra.
Sembilan tokoh Minangkabau yang menyatakan kesediaan menjadi Pembina Dewan Kebudayaan Bukittinggi-Agam adalah Drs. H. Mas'oed Abidin, ulama dan budayawan; Brigjen Pol. Dr. Riki Yanuarfi, SH, M.Si, Datuak Rajo Agam, Kepala BNNP Sumatera Barat; Laksamana Pertama TNI (Purn.) Hargianto, SE, MM, M.Si(Han), Datuak Bagindo Malano Nan Hitam; Dr. Dirwan Ahmad Darwis, Deputy Presiden MDN; Ir. Belly Datuak Djano, tokoh masyarakat Minangkabau di rantau; Afridian Wirahadi Ahmad, SE, M.Sc, Ak, CA, Rektor Universitas Mohammad Natsir Bukittinggi; Firdaus HB, Ketua Forum Minang Maimbau; Astri Asgani, Ketua Indojalito Peduli sekaligus tokoh Bundo Kanduang di rantau; serta Pinto Janir, sastrawan, budayawan, penyair, wartawan, dan Ketua Umum Lembaga Masyarakat Budaya Minangkabau.
Kehadiran 9 pembina itu menghadirkan simbol yang lengkap tentang Minangkabau itu sendiri: ada ulama yang menjaga suluh nilai. Ada pemimpin yang menjaga ketertiban. Ada akademisi yang merawat pengetahuan. Ada tokoh rantau yang menghubungkan kampung dengan dunia.Ada Bundo Kanduang yang menjaga marwah adat. Dan, ada para budayawan yang memastikan suara kebudayaan tidak tenggelam oleh hiruk-pikuk zaman.
Bagi Dewan Kebudayaan Bukittinggi-Agam, dukungan sembilan tokoh tersebut merupakan pertanda bahwa gerakan kebudayaan bukanlah pekerjaan segelintir orang, melainkan panggilan kolektif untuk merawat rumah gadang bernama Minangkabau.
"Bangsa yang kehilangan kebudayaan adalah bangsa yang kehilangan cermin untuk mengenali dirinya sendiri. Sebab, kebudayaan bukan hanya warisan masa lalu, melainkan kompas yang menunjukkan arah masa depan," kata DR Indra Utama maestro koreografer Indonesia sekaligus akademisi terkemuka di bidang seni tari tradisional maupun kontemporer yang telah melanglang buana ke berbagai belahan dunia.
Indra penulis buku tentang Komposisi Tari / Koreografi ini menegaskan bahwa Dewan Kebudayaan Bukittinggi-Agam memiliki cita-cita menjadikan Bukittinggi dan Agam sebagai pusat peradaban budaya yang berakar kuat pada falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, sekaligus mampu melahirkan kreativitas, daya saing, karakter, dan keberlanjutan bagi generasi mendatang.
Sementara itu, Sekretaris Umum Dewan Kebudayaan Bukittinggi-Agam, Asra Feri Sabri, menyebut lembaga tersebut sebagai rumah besar tempat seluruh anak kebudayaan berteduh dan berkarya.
Menurutnya, Dewan Kebudayaan Bukittinggi-Agam bukan sekadar organisasi. Ia adalah ruang tempat sejarah berbicara kepada masa depan. Tempat sastra menyimpan pikiran. Tempat seni mengajarkan kehalusan budi. Tempat adat menjaga martabat manusia.
"Dewan Kebudayaan Bukittinggi Agam dibangun bukan dengan batu dan semen, tetapi dengan gagasan, kecintaan, dan kesadaran bahwa kebudayaan adalah jiwa pembangunan. Tanpa sentuhan kebudayaan, pembangunan akan kehilangan jiwa, peradaban akan kehilang induk. Kita merawat akar agar tidak tercerabut. Kita menjaga ingatan agar tidak kehilangan identitas sebagai manusia berbudaya," ujarnya.
Dalam pandangan para pendirinya, kebudayaan bukanlah benda mati yang dipajang dalam lemari sejarah. Kebudayaan adalah sungai yang terus mengalir, membawa nilai dari masa lalu menuju masa depan. Karena itu, tugas generasi hari ini bukan hanya mewarisi kebudayaan, melainkan memastikan warisan itu tetap hidup, bernapas, dan relevan bagi anak cucu.
Dikatakan Asraferi Sabri, kesediaan sembilan tokoh Minangkabau menjadi Pembina Dewan Kebudayaan Bukittinggi-Agam menjadi pesan yang terang: bahwa di tengah perubahan dunia yang serba cepat, masih ada orang-orang yang percaya bahwa peradaban harus dijaga dengan kesadaran, ilmu pengetahuan dan kebijaksanaan.
Sebab seperti kata para filsuf, manusia mungkin membangun kota dalam hitungan tahun, tetapi membangun peradaban memerlukan kesetiaan berabad-abad. Dan hari ini, di Bukittinggi dan Agam, kesetiaan itu menemukan para penjaganya. (***)
