BREAKING NEWS

Tentang Arta Naluriza Putra, Anak Muda Pebisnis yang Terpikat Partai//Catatan Budaya : Pinto Janir

 


Arta Naluriza Putra


Ini tentang Arta Naluriza Putra.


Tentang seorang anak muda yang memilih berjalan dengan kesadaran, bukan dengan kegaduhan. Tentang seorang perintis yang meyakini bahwa hidup tidak sekadar soal sampai, melainkan bagaimana cara melangkah. 


Harta utama Arta bukanlah timbunan angka, melainkan arti dan hati yang ia rawat di ruang-ruang kemanusiaan. Dari sanalah kepedulian sosial tumbuh,bukan sebagai slogan, melainkan sebagai naluri yang bekerja pelan, namun sabar dan setia.


Naluri bisnis Arta tajam memang. Tetapi, ia tidak rakus. Ia tahu kapan harus menanam, kapan menunggu, dan kapan membiarkan waktu bekerja. Maka wajar bila kantong-kantong usahanya terus bertumbuh dan menjalar ke berbagai ruang. 

Namun  begitu, Arta Naluriza Putra bukanlah putra mahkota yang sekadar mewarisi. Ia adalah anak lelaki Minangkabau yang merintis, membuka jalan dan berharap jalan itu kelak lapang bagi banyak orang.



Lalu, siapa sebenarnya Arta?


Menjelang Pemilu 2024 dulu, lelaki berusia 31 tahun ini dipinang sejumlah partai politik. Ia menolak. Bukan karena menutup diri, melainkan karena ia tahu: tak semua undangan harus segera dijawab. Saat itu, ia memilih memusatkan tenaga pada bisnis yang sedang ia bangun. 


Kini, ketika beberapa usahanya mulai stabil, satu pertanyaan kembali mengetuk: apakah Arta masih akan menolak berpolitik? Dan, partai apa yang diam-diam mengetuk hatinya?



Sebelum menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, ada baiknya kita berhenti sejenak pada sesuatu yang sering kita lewatkan: adalah soal nama. Sebab nama bukan sekadar sebutan. Ia adalah alamat doa, harapan yang disematkan sejak awal kehidupan.


Arta Naluriza Putra.

Lafaskan nama ini dalam hati, sekali lagi! 


Namanya terdengar teduh. Arta bukan semata harta, melainkan kesadaran akan tujuan. Naluri menandai kepekaan batin,intuisi yang kerap lebih jujur daripada logika. Riza menghadirkan ridha: sikap lapang menerima hidup dengan martabat. Dan, Putra adalah simbol penerus, pemikul tanggung jawab yang tak ringan. 


Nama itu terasa utuh, seolah menandai pribadi yang tak hanya mengejar capaian, tetapi juga mengolah makna kehidupan.


Jumat siang, 23 Januari 2026, saya menunggunya di rumah kami di kawasan Puri Indah, Jakarta Barat. Langit Jakarta lindap, seperti menahan hujan. Namun wajah Arta cerah. 


Perawakannya gagah, pandangannya tajam namun teduh. Ada kharisma yang bekerja diam-diam melampaui usia 31 tahun yang baru ia pijak.


Pertemuan kami bukan untuk membicarakan perkara besar. Ini silaturahmi: seorang adik menemui abang. Saya sempat menawarkan pertemuan di kafe atau rumah makan Padang. Arta menolak dengan cara yang halus. Ia memilih datang ke rumah.


“Bang,” katanya, “silaturahmi di rumah punya keistimewaan yang tak selalu sanggup dihadirkan kafe. Bukan soal tempatnya, tapi rasa yang lahir darinya.”


Benar kata Arta. Di rumah, silaturahmi tak mengenal jam. Tak ada hitungan kursi. Tak ada pula  tenggat pesanan. Waktu mengalir apa adanya. Percakapan boleh melambat, diam pun boleh panjang, tawa tak perlu dijaga volumenya. Di kafe, kita sering bicara seperlunya; di rumah, kita diberi ruang untuk menjadi diri sendiri.


“Silaturahmi di kafe itu praktis dan cepat,” lanjutnya. “Silaturahmi di rumah itu personal dan berkesan. Yang satu mempertemukan orang, yang lain mengikat hati.”


Saya mengangguk. Oke, Arta.


BISNIS SEBAGAI RUANG YANG TUMBUH 


Arta adalah pebisnis, entrepreneur, sekaligus promotor event. Lulus dari Universitas Bina Nusantara Jakarta pada 2017, ia merintis Sawadicup Bistro,sebuah konsep yang cepat digemari anak muda Sumatera Barat. 


Tahun 2020, ia mendirikan Situ Satu Group. Dari satu kafe, tumbuh beberapa. Situ Kopi menjelma ruang temu yang nyaris tak pernah sepi di Padang.


Bisnisnya terus bergerak. Ollo Coffee & Eatery melesat. Ia merambah agribisnis perikanan lewat tambak udang vannamei. Di sektor hiburan, namanya lekat dengan event musik. 


Lewat Swarnaland Fest dan Menfest Padang, ia mempromotori konser berskala besar, menghadirkan puluhan artis lokal dan nasional. Tiap event, ia selalu menggandeng UMKM sebagai bagian dari denyut ekonomi rakyat.


Kini Arta tengah membangun  kafe barunya di kawasan  GOR Haji Agus Salim, Padang. Lahan itu ia kontrak dua puluh tahun. Desainnya artistik. Soal biaya, ia hanya tersenyum. 


Yang jelas, tempat ini bukan sekadar ruang nongkrong, melainkan simpul pertemuan kreativitas anak muda Sumatera Barat ; para influencer, konten kreator dan musisi.


Ia juga membangun studio musik. Di kafenya, Arta membuka ruang audisi, mencari bakat-bakat muda. Bahkan ia merencanakan pembentukan sebuah band, yang kelak menjadi pembuka di setiap konser nasional yang ia gelar.


JALAN PIKIRAN SEORANG ARTA 


Bagi Arta, bisnis bukan semata urusan harta.


“Bisnis adalah ikhtiar merawat kreativitas anak muda Sumatera Barat,” katanya. “Agar mereka tidak hanya menjadi penonton di tanah sendiri, tetapi pelaku yang memberi nilai.”


Keuntungan penting, tentu. Namun bukan itu satu-satunya. Yang lebih utama, baginya, adalah lahirnya generasi yang berani berkarya, berakar pada budaya dan siap bersaing di dunia yang terus berubah.


MEMBACA TOKOH MENIMBA NILAI


Lulusan SMA Negeri 3 Padang ini pernah mengikuti Student Exchange Program di National Sun Yat-sen University, Taiwan. Sejak muda, ia gemar membaca sejarah. Dari sana ia menimba nilai, bukan sekadar pengetahuan.


Ia terpikat Haji Agus Salim nan intelektual moderat, diplomat ulung, sederhana, berintegritas. Ia mengagumi Bung Hatta yang jujur, disiplin, demokratis dan bersahaja. Ia membaca Tan Malaka dengan semangat revolusionernya. Ia kepincut Sutan Sjahrir nan humanis, anti-kekerasan dan percaya pada diplomasi.


Jarang ada pebisnis muda yang menyebut tokoh-tokoh sejarah dengan pemahaman nilai, bukan sekadar hafalan nama.


JALAN POLITIK SEBAGAI AMANAH


Menjelang Pemilu 2024 dulu, beberapa partai meminang Arta. Ia menolak. Bukan karena tak paham politik, melainkan karena tak ingin gegabah memilih. Saat itu, ia masih memusatkan tenaga pada bisnis. Kini, ketika usahanya relatif stabil, ia mulai melirik politik tanpa gegap gempita.


“Kekuasaan bukan tujuan,” katanya sambil menyeruput kopi, “ia hanya alat. Amanah untuk membuat kebaikan bekerja, bukan sekadar diucapkan.”


Menurut Arta, nilai kekuasaan bukan pada besar wewenang, melainkan pada arah: membuka akses bagi yang suaranya tak terdengar, melindungi yang lemah tanpa merendahkan martabat, menegakkan keadilan tanpa kehilangan nurani.


MENGAPA PSI ?


Ketika saya bertanya partai apa yang ada di kepala dan hatinya, Arta terdiam sejenak. Lalu ia menjawab lugas: Partai Solidaritas Indonesia.


“PSI menghadirkan politik sebagai ruang gagasan, bukan sekadar perebutan kuasa,” ujarnya.


Baginya, PSI tampil sebagai wajah politik yang berani berbeda dan mencoba menjauh dari hiruk-pikuk kosong. Ia melihat PSI sebagai simbol pergeseran: dari politik elite ke partisipasi, dari kuasa lama ke gagasan baru.


“Di PSI,” katanya, “politik dicoba untuk kembali masuk akal.”


Sejak remaja, Arta hidup di Jakarta. Ia pernah bersekolah setahun di SMA Negeri 50 Jakarta Timur, lalu menamatkan SMA di  SMA N 3 Padang, kemudian  melanjutkan kuliah di Binus Jakarta. Ia mengikuti perjalanan PSI, terutama di DKI Jakarta, sebuah partai anak muda yang berpikir logis, kreatif, dan berhati nurani.


Ia heran ketika di kampung halamannya, Sumatera Barat, PSI belum sepenuhnya mendapat tempat. Padahal spirit solidaritas berakar kuat di ranah Minang.


“Apalagi PSI didirikan oleh Bang Jeffrie Geovanie, putra asli Kabupaten 50 Kota,” katanya. “Saya yakin, PSI akan mendapat tempat di hati masyarakat Sumatera Barat pada Pemilu 2029 bila gerakan partai diselaraskan dengan filosofi hidup Minangkabau nan berkearifan lokal, semangat kesurauan, kreativitas dan kemanusiaan.”


SENJA DAN LANGKAH 


Sore turun perlahan. Arta bergegas ke bandara, kembali ke Padang.


“Kalau tak ada janji malam ini di Padang, sudah saya hanguskan tiket,” katanya sambil tertawa.


Senja menutup perbincangan kami. Seperti namanya, Arta melangkah bukan sekadar bergerak dengan naluri, makna dan kesadaran akan tanggung jawab. Sebuah perjalanan yang masih panjang, namun telah tahu ke mana ia hendak menuju. 

( Pinto Janir :  Jakarta 28 Januari 2026 )


Potret pertemuan Arta dan Pinto Janir








Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image