Ota Jalang Sanjo di Kadai Kopi Uwo Kardi Dtk Saridano dalam Keluh Perih Ranah Bundo//Catatan Budaya Pinto Janir
Baitu tibo dari Bandara Internasional Minangkabau, saya di sore itu, melepas rindu dulu ke taman budaya.
Rindu maota di kadai kopi Uwo Kardi Datuk Saridano.
Uwo, aktor di panggung teater ranah bundo tacinto. Dari monolog hinggo baco puisi, sampai ke garak garik alam teater, putus makrifatnya oleh Mak Datuk kita ini.
----
Ya, Senin di rambang patang itu, 4 Mei 2026, angin di Taman Budaya Padang sedang berhembus membawa kabar, membawa resah. Membawa gelisah. Gelisah dan risau mana yang tak lagi bisa disurukkan di bilik paling kecil sekalipun.
Saya duduk, berbincang, bertukar rasa dengan saudara-saudara sejiwa. Saudara saudara sepersenian.
Di sana ada Rizal Tanjung, aktor yang suaranya mampu menggetarkan dinding-dinding sejarah dengan pikiran pikiran melangit-membumi.
Ada Ardi, sutradara filem Iko Minang yang matanya tiada henti merekam setiap rarak di wajah zaman.
Ada Boyke Sulaiman, penyair yang merangkai kata semanis doa. Dan, ada perempuan penyair bernama Mutiara Rimba.
Yara, begitu panggilan akrabnya, bila ia membaca puisi, maka panggung menjadi miliknya dalam totalitas jiwa terdalam.
Ia salah seorang padusi pembaca puisi terbaik yang pernah ada di ranah ini.
Pembacaannya liar.Liar seperti akar beringin yang menancap di tanah leluhur.
Sore, di saat mana langit sirah timbaga, kami berbincang. Kami berkeluh. Kami meratapi.
Kami meratap, bukan tentang hujan yang tak kunjung reda. Bukan pula tentang padi yang gagal panen dikisai langkisau, digerogoti tikus...tapi tentang darurat moral yang sedang mencekik leher "bumiku Minangkabau, Langitku Indonesia.
Lihatlah!
Lihatlah bagaimana LGBT meruyak bak banjir bandang yang menghanyutkan batas fitrah kita di ranah yang bermaqom mulia dalam kesepakatan " Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah ".
Dengarlah!
Dengarlah bagaimana narkoba menjajah dan menyelinap diam-diam, membunuh akal sehat anak nagari, mematikan nurani generasi emas.
Ini bukan lagi cerita tetangga sebelah. Ini luka kita bersama. Ini sakit kita. Ini kerisauan bersama yang harus ditanggung bersama sama pula.
Pinto Janir dan Aktor Kardi Datuk Saridano
Jika tonggak rumah gadang lapuk, guyah maka bukan hanya satu tiang yang harus diperbaiki.
Jika perahu pacah, bukan hanya satu dayuang nan harus dikayuh.
Maka, solusinya haruslah sepakat, haruslah seirama, haruslah sejalan.
Sasakik sasanang, sahino samalu.
Dari ninik mamak nan duduk di atas hamparan lapik pusako.
Dari pemuka masyarakat yang menjadi teladan di surau dan masjid.
Dari Pemerintah Nagari yang menjaga pintu gerbang adat,hingga Pemerintah Kota, Kabupaten, dan Provinsi yang memegang kendali kebijakan,semua harus satu suara. Semua harus satu langkah. Semua harus satu gerak.
Gerakan apa?
Gerakan "Anti-LGBT".
Gerakan memulihkan martabat. Gerakan menyelamatkan masa depan anak nagari.
Kami di kadai kopi ini, dengan sagaleh kopi nan hampiang tadadak, menyatakan: Kami mendukung!
Kami mendukung dan ikut bergerak segagah langkah LKAAM Sumbar.
Berikan sanksi!
Ya, berikan hukuman!
Bukan dengan penjara besi semata, tapi dengan sanksi sosial yang mamanggang malu, dengan sanksi adat yang mengembalikan mereka ke jalan nan luruih.
Kepada mereka yang terindikasi, kepada mereka yang mulai "malambai" ke arah yang salah, tegakkan kembali marwah itu.
Ini adalah Gerakan Anti-Malambai.
Malambai ka suok ka Kido, ciek goyang ciek lenggok, ciek kecek ciek basah bibia, ciek kato ciek manggatik rambuik hingga lupa arah kiblat, lupa arah pulang... Sadarlah!
Semua ini, demi siapa? Demi masa depan sebuah bangsa. Demi agar Minangkabau tidak kehilangan nurnya sendiri.
Lalu, ota kami bergulir seperti roda waktu. Malatuih latuih bak dantum kareh bom peradaban...
Kemudian, beralih ota, kita bicara soal sastra.
Suka atau tidak suka, terima atau tolak, fakta ini pahit namun nyata: bahwa bangsa ini sedang krisis sastra.
Krisis membaca.
Krisis merenung.
Krisis bertenggang rasa.
Kita terlalu bersibuk-sibuk dengan layar kaca, hingga lupa pada lembaran kata yang meneduhkan jiwa.
Kemudian, kita bicara soal film. Soal propaganda sosial dan prahara budaya dihempas badai peradaban yang menggila.
Bagaimana layar perak bisa menjadi cermin yang memantulkan kebenaran, bukan sekadar hiburan yang meninabobokan tanpa pesan yang diselipkan.
Dan akhirnya, kita kembali pada puisi.
Di sinilah, di tengah asap rokok dan aroma kopi, Pinto Janir berbisik, lalu berseru lantang:
"Bila bangsa sedang sakit, puisi obatnya."
Ya, puisi adalah obat.
Puisi adalah perban pembalut luka moral yang menganga.
Puisi adalah air bagi jiwa yang nelangsa di telaga fatamorgana.
Puisi adalah pengingat, bahwa kita pernah besar, kita pernah ada dan kita pernah mulia, serta kita pernah jaya.
Maka, dari Taman Budaya Padang, dari sudut kadai kopi uwo Kardi , mari kita nyalakan lagi suluh budaya penerang jalan peradaban kita.
Mari kita tulis ulang nasib negeri dengan tinta emas keberanian ber pondasi hati nurani.
Bumiku Minangkabau, Langitku Indonesia menunggu gerakan dan pikiran mulia sebelum lantai patah dan batang hanyut!
---Taman Budaya Padang 4 Mei 2026---

