BREAKING NEWS

Dewan Kebudayaan Bukittinggi–Agam: Menyalakan Kembali Matahari Peradaban di Jantung Luak Nan Tigo//Oleh: Rizal Tanjung (Seniman–Budayawan Sumatera Barat)

 

Di tanah yang dipagari gunung-gunung tua, di mana kabut pagi turun seperti syair yang belum selesai ditulis, dan angin berembus membawa suara nenek moyang dari lembah-lembah yang dalam, berdirilah Bukittinggi dan Agam sebagai dua halaman penting dalam lembaran kitab besar peradaban Minangkabau.

Wilayah ini bukan sekadar bentangan geografis.Ia rumah bagi kata-kata yang dilahirkan adat, bagi petatah-petitih yang tumbuh dari kebijaksanaan zaman, bagi dendang yang mengalun dari sawah-sawah, bagi kaba yang berkelana dari surau ke surau, dan bagi nilai-nilai yang telah berabad-abad menjaga manusia agar tetap menjadi manusia.

Bukittinggi dan Agam adalah bagian dari Luak Nan Tigo, pusat kebudayaan Minangkabau yang sejak dahulu menjadi mata air lahirnya pemikiran, kepemimpinan, sastra, adat, dan peradaban.

Di sinilah banyak gagasan besar dilahirkan.Di sini pula banyak tokoh besar ditempa.

Di sini kebudayaan Minangkabau menumbuhkan akar yang kuat sebelum ranting-rantingnya menjangkau dunia.

Namun zaman, seperti sungai yang tak pernah berhenti mengalir, membawa perubahan yang tidak selalu ramah.

Globalisasi datang dengan kecepatan sekeras dan sekencang badai.

Teknologi bergerak lebih cepat daripada kemampuan masyarakat memahami apa dampaknya.

Budaya populer melintasi batas-batas negeri tanpa izin.Anak-anak semakin akrab dengan layar dibandingkan dengan cerita-cerita lama.

Bahasa ibu perlahan kehilangan ruang.Petatah-petitih mulai terdengar asing di telinga generasi baru.

Sementara nilai-nilai yang dahulu menjadi kompas kehidupan mulai tersisih oleh gemerlap sesaat.

Di tengah kenyataan itulah lahir sebuah kegelisahan.

Kegelisahan yang bukan berasal dari ketakutan terhadap perubahan, melainkan dari kesadaran bahwa perubahan tanpa akar hanya akan melahirkan pohon yang mudah tumbang.Kegelisahan itu mempertemukan para seniman dan budayawan.

Maka ketika tikar dibentangkan dan kopi hangat mengepul di udara malam Bukittinggi yang sejuk, yang hadir bukanlah pertengkaran gagasan sebagaimana sering dibayangkan orang tentang pertemuan para seniman.

Sepertinya,malam itu menjelma menjadi malam yang teduh dan hangat dalam gelora pikiran yang menjernihkan. 

Dari sini saya dapat merasakan kehangatan dan keakraban kawan kawan seniman dan budayawan ketika memperbincangkan dan mengkaji gagasan. 

Malam ketika semangat saciok bak ayam, sadanciang bak basi menemukan maknanya yang paling indah.

Dari pertemuan itulah lahir sebuah ikhtiar bernama Dewan Kebudayaan Bukittinggi–Agam.

Betapa mulianya! 

Sebuah ikhtiar yang digagas oleh tiga tokoh yang telah lama mengabdikan hidup mereka di dunia seni, sastra, kebudayaan, dan organisasi, yaitu Pinto Janir, Asraferi Sabri, dan Indra Utama.

Di belantara sastra dan seni serta budaya, tiga nama itu bukan nama yang lahir kemarin sore.Mereka adalah bagian dari perjalanan panjang kebudayaan di ranah ini.

Mereka memahami bahwa kebudayaan tidak dapat diselamatkan oleh nostalgia semata.Ia butuh kerja.Butuh organisasi, arah dan rumah. 

Dan Dewan Kebudayaan Bukittinggi-Agam diharapkan menjadi rumah itu.

Rumah tempat para seniman berteduh, tempat para budayawan berdialog, tempat ide-ide besar dirawat.

Rumah tempat generasi muda menemukan kembali akar dirinya.

Oleh sebab itu, keberadaan Dewan Kebudayaan Bukittinggi–Agam memiliki arti yang jauh lebih besar daripada sekadar terbentuknya sebuah organisasi.

Saya, secara personal mengapresiasinya. Dewan Kebudayaan Bukittinggi-Agam, patut kita dukung dengan moral bermesin kemuliaan pukiran. 

Karena kelahiran Dewan Kebudayaan Bukittinggi Agam adalah simbol kesadaran kolektif.

Bagi saya, ini adalah tanda bahwa masih ada orang-orang yang berjaga ketika sebagian masyarakat mulai tertidur dalam euforia modernitas.

Dewan Kebudayaan Bukittinggi- Agama dalah titian yang menghubungkan warisan masa lalu dengan kebutuhan masa depan.

Bukittinggi dan Agam memerlukan lembaga seperti ini bukan hanya karena keduanya kaya akan sejarah.

Tetapi karena kekayaan itu sendiri membutuhkan penjaga.Sebagaimana emas membutuhkan peti.Kitab membutuhkan rak.Sebagaimana api membutuhkan tungku.

Maka kebudayaan membutuhkan institusi yang merawatnya.

Tanpa itu, warisan yang besar hanya akan menjadi cerita tentang kejayaan yang pernah ada.

Lebih jauh lagi, Dewan Kebudayaan Bukittinggi–Agam harus mampu menjadi barometer ketahanan budaya.

Sebab tantangan kebudayaan hari ini tidak lagi datang dalam bentuk penjajahan bersenjata.Ia menyergap melalui algoritma,melalui budaya instan.

Jangan sampai kita kehilangan waktu untuk merenung lantaran derasnya arus informasi. 

Karena itu tugas Dewan Kebudayaan bukan sekadar menggelar festival.Bukan sekadar menyelenggarakan lomba.Bukan sekadar membuat seremoni tahunan.

Tugas yang lebih besar adalah merumuskan arah kebudayaan Minangkabau di abad ke-21.

Bagaimana budaya lokal tetap hidup di tengah dunia yang semakin global.Bagaimana generasi muda mencintai akar tanpa harus memusuhi perubahan.

Inilah pekerjaan besar yang menunggu.

Maka lahirnya Dewan Kebudayaan Bukittinggi–Agam patut disambut sebagai kabar baik dari jantung Luak Nan Tigo.

Mari kita dukung bersama sama. Tak perlu kita sinisi. Saling sinis,saling sikut, saling hantam, saling serang, tak mode lagi. Ini adalah masa, masa di mana jalan pikiran menjadi jalan terang kebersamaan.

Mari kita sumbangkan pikiran kebajikan. 

Saya yakin dan percaya, pikiran tiga serangkai ---Pinto Janir , Asraferi Sabri dan DR Indra Utama---serta kawan kawan seniman Bukittinggi-Agam akan mampu menjawab kegelisahan peradaban melalui Dewan Kebudayaan Bukittinggi-Agam. 

Dan mudah-mudahan, kelak ketika anak-anak Minangkabau menoleh ke belakang untuk mencari asal-usul mereka, mereka masih menemukan bahasa yang hidup, adat yang bernapas, sastra yang berbunga, seni yang berdenyut, dan kebudayaan yang tetap berdiri tegak seperti Gunung Marapi yang menjaga ranah ini sejak dahulu kala.

Dan harapan saya, Dewan Kebudayaan Bukittinggi–Agam adalah salah satu ikhtiar mulia untuk menjawab kegelisahan anak zaman di abad kegiliaan teknologi. 

Teruslah bergerak bermesin kejernihan pikiran dan kemuliaan hati! 

Salam Budaya

---Rizal Tanjung---

Sumatera Barat, 2026.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image