33 Tahun Amanah Lubuk Basung: Membuka Langit, Memecah Tempurung Catatan: Yasnaroza (Guru SDN 15 Parit Panjang, Lubuk Basung)
Setiap daerah sesungguhnya tidak hanya dibangun oleh jalan yang baik, gedung-gedung yang menjulang, atau deretan angka pertumbuhan yang tercatat dalam laporan pembangunan.
Sebuah daerah hidup karena ingatan kolektif warganya. Ia tumbuh dari harapan, perjuangan, dan kesediaan banyak orang untuk menitipkan masa depannya kepada sebuah tempat yang mereka cintai.
Bagi masyarakat Agam, terutama warga Lubuk Basung, nama Agam bukan sekadar penanda administratif dalam peta pemerintahan.
Ia adalah bilik batin tempat sejarah, adat, dan cita-cita bertemu. Sebuah nama yang mengandung jejak perjalanan panjang masyarakatnya dalam merawat kehidupan bersama.
Tiga puluh tiga tahun silam, Lubuk Basung ditetapkan sebagai ibu kota Kabupaten Agam. Keputusan itu bukanlah peristiwa yang lahir dalam ruang hampa.
Di belakangnya terdapat ikhtiar panjang, perdebatan yang matang, serta keterlibatan banyak tokoh yang memikirkan masa depan daerah ini dengan sungguh-sungguh.
Para cadiak pandai, ninik mamak, alim ulama, pemuda, dan berbagai unsur masyarakat telah menanamkan tenaga serta pemikiran mereka agar Lubuk Basung mampu memikul amanah sebagai pusat pemerintahan Agam.
Karena itu, memperingati hari jadi tidak semestinya berhenti pada seremoni. Hari jadi adalah kesempatan untuk menoleh ke belakang tanpa terjebak nostalgia, sekaligus memandang ke depan tanpa kehilangan pijakan.
Ia menjadi bilik kontemplasi yang mengajak kita bertanya dengan jujur: sejauh mana perjalanan telah ditempuh, pelajaran apa yang diperoleh, karya apa yang telah dihasilkan, dan manfaat apa yang telah dirasakan masyarakat.
Pertanyaan-pertanyaan semacam itu penting. Sebab sebuah daerah, sebagaimana manusia, tidak diukur dari usianya semata. Umur hanyalah hitungan waktu. Yang memberi makna adalah jejak yang ditinggalkan.
Dalam kebudayaan Minangkabau, kemuliaan tidak lahir dari panjangnya gelar, tingginya pangkat, atau banyaknya harta. Semua itu hanya pelengkap kehidupan saja. Nilai seseorang ditentukan oleh apa manfaat yang dapat ia berikan kepada sesamanya.
Untuk apa gelar sepanjang tali beruk? Untuk apa pangkat setinggi langit? Untuk apa harta yang berlimpah? Semua itu akan kehilangan arti bila tidak menghadirkan kemaslahatan bagi orang banyak. Hidup yang mulia adalah hidup yang menjadi rahmat bagi lingkungan sekitarnya.
Karena itu, orang yang dikenang bukanlah mereka yang sekadar hidup pada zamannya, melainkan mereka yang meninggalkan sesuatu yang membuat kehidupan orang lain menjadi lebih baik.
Jangan sampai kita terlempar dari kehidupan sosial hingga keberadaan kita tak lagi dianggap penting oleh lingkungan. Pada akhirnya orang akan berkata:
"Kok kayo, kayo surang se lah, aden indak ka mamintak. Kok bagak, bagak surang se lah, aden indak ka malawan. Kok bapangkek, bapangkek surang se lah, aden indak ka baurusan."
Kalimat itu sesungguhnya bukan sindiran tentang kekayaan, kekuasaan, atau kedudukan. Ia adalah penilaian sosial terhadap seseorang yang gagal menghadirkan manfaat bagi masyarakatnya.
Di sinilah arti penting refleksi. Pembangunan yang kehilangan kemampuan untuk bercermin sering kali hanya menghasilkan kemajuan yang tampak di permukaan, tetapi rapuh dalam jangka panjang. Sebaliknya, pembangunan yang disertai kesadaran budaya akan melahirkan kemajuan yang memiliki akar.
Lubuk Basung memegang peran penting dalam perjalanan Agam. Sebagai ibu kota kabupaten, ia bukan hanya pusat administrasi, melainkan simpul pertemuan berbagai gagasan, kepentingan, dan harapan masyarakat. Dari tempat inilah arah kebijakan dirumuskan, pelayanan publik dijalankan, dan berbagai ikhtiar pembangunan digerakkan.
Namun kemajuan sebuah daerah tidak cukup ditopang oleh sumber daya alam yang melimpah. Alam hanya menyediakan berlapis-lapis kemungkinan.
Yang menentukan hasil akhirnya adalah kualitas manusia yang mengelolanya. Kekayaan alam dapat menjadi berkah, tetapi dapat pula berubah menjadi beban jika tidak dikelola dengan kebijaksanaan.
Karena itu, kesejahteraan menuntut lebih dari sekadar potensi ekonomi. Ia membutuhkan tata kelola yang baik, kepemimpinan yang berintegritas, kebijakan yang berpihak kepada kepentingan masyarakat, serta kemampuan membaca perubahan zaman tanpa tercerabut dari akar budaya sendiri.
Di tengah perubahan yang berlangsung semakin cepat, masyarakat Agam memiliki warisan nilai yang tetap relevan.
Falsafah Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah bukanlah semboyan yang cukup dipajang di dinding atau diucapkan dalam pidato.
Ia adalah pedoman moral yang harus terus dihidupkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Nilai itu mengajarkan bahwa kemajuan tidak boleh memisahkan kecerdasan dari keadilan, kekuasaan dari tanggung jawab, ataupun pembangunan dari kemanusiaan.
Integritas pada akhirnya bukan sekadar kejujuran pribadi. Integritas adalah kesediaan menempatkan kebenaran di atas kepentingan sesaat, menjaga amanah ketika tidak ada yang mengawasi, serta memastikan bahwa setiap keputusan membawa manfaat yang lebih luas bagi masyarakat.
Maka ketika kita memperingati tiga puluh tiga tahun Lubuk Basung sebagai ibu kota Kabupaten Agam, sesungguhnya yang kita rayakan bukan hanya perjalanan sebuah wilayah.
Ingat, bahwa sebenarnya kita sedang merayakan daya tahan sebuah cita-cita bersama. Sebuah keyakinan bahwa daerah ini dapat terus tumbuh tanpa kehilangan jati dirinya, maju tanpa melupakan akar budayanya, dan berkembang tanpa meninggalkan nilai-nilai yang selama ini menjadi penyangga kehidupan masyarakatnya.
Jika Lubuk Basung mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan dan kebijaksanaan, antara profesionalitas dan nilai budaya, antara pembangunan dan kemanusiaan, maka kesejahteraan bukan lagi sekadar harapan. Ia akan menjadi kenyataan yang dirasakan masyarakat.
Dan ketika kesejahteraan itu hadir, Agam tidak hanya menjadi daerah yang berkembang. Agam akan menjadi rumah gadang yang membahagiakan bagi anak-anaknya.
Terakhir, mari kita singkirkan cara pandang yang mempersempit ruang pikir. Jangan berlangit tempurung juga lagi. Sudahi itu.
Sebab, tempurung yang menutupi langit akan membuat dunia tampak sempit. Jangan pula merasa paling tahu, paling santiang, atau paling berhak atas setiap jengkal tanah ini sehingga menutup diri terhadap gagasan yang menawarkan kemajuan.
Sudah bukan masanya lagi ketika seseorang datang membawa sekeranjang pikiran baru, lalu kita menolaknya hanya karena ia dianggap orang luar.
Kemajuan tidak pernah lahir dari ketakutan terhadap beragam rupa perbedaan. Ia lahir dan bertumbuh dari keberanian mendengar, belajar, dan menerima kemungkinan-kemungkinan baru.
Oalah, mari kita berubah.
Salam badunsanak.
