Olahraga dalam Percakapan Seindah dan Seterang Bulan //Catatan Budaya : Pinto Janir.
![]() |
| Pinto Janir dan Hamdanus |
Indokatanews Padang : Selasa 26 Mei itu, langit Padang sedang berbulan terang.
Pada sebuah kafe dan resto yang tak jauh dari Simpang Alai , saya dan Hamdanus Bagindo Rajo , Ketua KONI Sumbar bercakap cakap soal olahraga dan budaya dalam nuansa "takbir" jelang hari raya Idul Adha.
Ada nuansa nuansa " pengurbanan" di balik makna percakapan.
Simaklah! @sorotan
PERCAKAPAN SATU
( Jihad Olahraga )
Hamdanus adalah sosok fenomenal--bersama sama dengan segenap pengurus KONI Sumbar terkini, sedang bertotal total untuk mengangkat helat akbar bertajuk Porprov Sumbar 2026.
Helat insan olahraga ini, sudah sekitar 8 tahun tenggelam. Tak terlaksana lagi, dengan berbagai alasan. Pada 2 Oktober 2026 , helat ini dipastikan kembali digelar.
Sebelumnya, banyak orang pesimis dan seolah olah "mencibir" sembari melompatkan ucapan pedas : " Ah,mana mungkin pengurus KONI periode terkini akan mampu mengangkat penyelenggaraan Porprov. Apalagi, kini musim efisiensi anggaran...Mimpi itu!"
Suara suara pesimis,boleh saja menyatakan bahwa semua itu mimpi. Tapi, tidak dengan Hamdanus dan segenap pengurus KONI nan solid.
Dengan totalitas dan kesungguhan hati mereka bergerak. Bergerak meyakin para kepala daerah Kota/Kabupaten.
Tentu saja, semua ini tak terlepas dari dukungan Pak Gubernur dan Wagub.
Hasilnya, 12 kabupaten dan kota di Sumatra Barat telah menyatakan kesanggupan menjadi tuan rumah bersama untuk Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) XVI 2026.
Dikatakan Hamdanus, daerah-daerah ini secara resmi telah mengalokasikan anggaran dan mempersiapkan venue untuk cabang olahraga yang dipertandingkan Porprov.
Saya memandang langit ranah Minang. Ada bulan terang. Ada bintang bintang. Saya yakin, prestasi olah raga Sumbar di PON mendatang akan jauh lebih membaik ketimbang PON yang sudah sudah.
Luar biasa gerakan Hamdanus dalam ikhtiar memajukan olahraga prestasi untuk keharuman aroma nagari di kancah nusantara.
Tidak tanggung tanggung, atlet benar benar diperhatikan ketika dikucurkannya sejumlah dana pembinaan bagi atlet berprestasi.
Kini, demam Porprov makin menggejala kemana mana. Sejumlah daerah dengan serius melakukan persiapan untuk meraih medali. Atlet giat berlatih.
Bahkan, terdengar kabar berita, salah seorang orangtua atlet, rela relaan mengirim anaknya untuk berlatih renang ke Jakarta di bawah asuhan pelatih berkelas dunia. Semua itu, demi meraih medali mengharumkan nama kabupatennya.
Di mata saya, seorang Hamdanus adalah seorang pemikir yang bersunyi sunyi untuk menciptakan gerakan selaras alam. Tak banyak kata. Tak brisik. Ia terus bergerak dalam "suruhan hati" .
Tak berlebihan, bila saya melihat Hamdanus seperti sedang melakukan "jihad olahraga" dalam "dakwah budaya".
Ia mengurus olahraga seperti ia lupa waktu. Lupa istirahat. Bahkan lupa makan. Yang ada di ruang kepalanya adalah " bergerak " dalam kejernihan aksara yang melahirkan sikap positif.
-----
PERCAKAPAN DUA
( Olahraga dan Budaya)
Berikut kesimpulan percakapan kami yang berlangsung dari jam 9 malam hingga pukul 1 dinihari.
Bahkan, lampu resto Damar itu sudah pudur. Kami masih tetap melanjutkan obrolan. Sekitar pukul 23.00, Revdi St Rangkayo Mulie , Waketum KONI Sumbar bidang media hadir melengkapi percakapan kami.
Ini dia, isi percakapan diskusi kami...!
--------
Olahraga dan budaya lahir dari rahim yang sama. Sama sama berkeinginan memberi makna pada kehidupan.
Mana kala ubuh bergerak. Maka saat itu gerak diberi nilai, diberi kehormatan dan ditiupkan ruh agar gerak berjiwa. Hidup.
Dan, dari sanalah budaya bermula.
Olahraga bukan sekadar otot dan kemenangan.Olahraga adalah bahasa purba manusia. Ketika mana kata-kata belum cukup menjelaskan apa dan bagaimana soal api semangat yang menyala.
Bukankah dalam tiap langkah pelari termaktub filsafat perjalanan.
Bukankah pula dlam keringat petinju di atas ring ada tafsir perlawanan?
Bukankah dalam pertandingan ada drama abadi. Yakni: jatuh dan bangkit, kalah dan menang, ego dan solidaritas.
Bicara budaya, sesungguhnya kita sedang mempercakapkan ingatan manusia.
Kita tahu, bahwa olahraga adalah tubuh yang mengingat.
Karena itu, setiap bangsa bergerak dengan rohnya sendiri.
Silat lahir dari alam yang mengajarkan waspada dan hormat.
Sumo lahir dari tradisi ketahanan dan ritus.
Sepak bola Amerika Latin menjelma tarian kaum miskin yang menolak tunduk kepada nasib.
Olahraga membawa cara suatu bangsa memandang dunia.
Di arena olahraga, manusia memperlihatkan kebudayaannya yang paling jujur.Adalah bagaimana menghormati lawan, bagaimana menerima kekalahan, bagaimana memaknai kemenangan.
Budaya sejati tidak lahir saat manusia nyaman,melainkan saat manusia bertarung.
Tubuh bukanlah kumpulan benda hina.
Tubuh adalah rumah dari induk kesadaran.
Pikiran besar memerlukan tubuh yang terlatih.Jiwa yang kuat memerlukan disiplin.
Karena tubuh yang malas sering melahirkan pikiran yang rapuh.
Olahraga adalah seni melawan waktu.
Usia terus berjalan.Akan tetapi manusia terus berlari, berenang, mendaki, menendang bola dan
seolah olah berkata kepada hidup:
“Aku belum selesai.”
Dan budaya memberi semua itu martabat.Mengubah gerak menjadi makna.Mengubah pertandingan menjadi perayaan.Mengubah kemenangan menjadi warisan.
Pada akhirnya, olahraga dan budaya bertemu pada satu titik. Adalah memuliakan manusia dan memanusiakan manusia.
Manusia bukan hanya makhluk yang berpikir,tetapi juga makhluk yang bergerak, bermimpi dan menyalakan gelora jiwanya di tengah kehidupan.
----Padang 27 Mei 2026--


