Langkah Pagi di CFD Padang, BRI Runners Gaungkan Lari Sehat dan Gaya Hidup Seimbang
Ketika Car Free Day ,26 April 2026 berulang di tengah aspal Padang,Minggu pagi di Padang berubah ritmenya. Menjadi lebih cerah. Lebih sehat. Dan, lebih ceria dalam kegembiraan warga kota. Tak ada deru kendaraan. Tak ada asap. Yang ada adalah kebahagiaan seindah Padang.
Di tengah arus manusia yang bergerak, sebuah simpul terbentuk di sekitar booth BRI,tempat ratusan pelari memulai langkah dalam BRImo Car Free Run Easy Run 5K.
Kegiatan ini digagas oleh BRI Runners Padang, berkolaborasi dengan sejumlah komunitas lari seperti Karambia Runners, PLN Runners, dan WbikeRun.
Mereka datang dari latar berbeda,mulai dari pegawai, pekerja kantoran, hingga masyarakat umum.Mereka disatukan oleh satu hal: kebutuhan untuk bergerak dan bernapas di luar rutinitas.
Lintasan lima kilometer yang ditempuh bukan sekadar jarak. Ia menjadi ruang jeda dari hari-hari yang padat oleh target dan layar. Tidak ada tekanan waktu, tidak ada podium. Hanya lari santai yang membuka ruang interaksi nan saling sapa, berbagi energi, dan membangun jejaring di luar ruang kerja.
“Ini bukan sekadar olahraga, tapi juga wadah silaturahmi dan menjaga keseimbangan hidup,” kata Pembina BRI Runners Padang, Wisnu Rustamaji, di sela kegiatan.
Didampingi Captain Surya Pratama, ia menilai antusiasme komunitas menunjukkan bahwa kebutuhan akan ruang publik sehat kian meningkat.
Kolaborasi lintas komunitas menjadi salah satu kekuatan kegiatan ini. Karambia Runners, PLN Runners, dan WbikeRun tidak hanya meramaikan, tetapi juga mempertegas tren lari sebagai gaya hidup urban di Padang.
Car Free Day pun berubah fungsi,bukan sekadar penutupan jalan, melainkan ruang sosial yang mempertemukan warga dalam aktivitas yang lebih sehat dan produktif.
Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi bagian dari kampanye digital BRI melalui aplikasi BRImo. Namun pendekatan yang diambil cenderung lunak,hadir melalui interaksi komunitas, bukan sekadar promosi langsung. Booth BRI menjadi titik temu, bukan pusat dominasi.
Wisnu berharap kegiatan serupa dapat digelar secara rutin, bahkan menjadi agenda mingguan komunitas lari di Padang. “Kalau ini konsisten, dampaknya bukan hanya ke kesehatan, tapi juga memperkuat jejaring sosial masyarakat,” ujarnya.
Pagi itu, Padang tidak hanya dipenuhi orang yang berlari. Ia diisi oleh orang-orang yang memilih berhenti sejenak dari rutinitas, lalu bergerak bersama. Dari langkah-langkah kecil itulah, sebuah kebiasaan,dan mungkin juga wajah baru kota,perlahan terbentuk.
(Hasnul)
