BREAKING NEWS

Ketika Puisi Menanam Pohon di Tabiang Barasok




Indokatanews Bukittinggi :  Siang itu, Kamis (4/6/2026), angin berembus pelan di lereng Tabiang Barasok Ngarai Sianok. 


Langit menggantung cerah di atas tebing yang memandang jauh ke hamparan alam Minangkabau. Nun jauh di sana, berdiri gagah Gunung Marapi dan Singgalang. Seakan, mereka ikut tersenyum bahagia. 


Hari itu , bukan hanya kata-kata yang ditanam. Bukan hanya puisi yang disemai. Di sana, yang ditanam adalah harapan masa depan yang rimbun. 




Dalam rangkaian International Minangkabau Literacy Festival ke-4 (IMLF-4), Sekretaris Jenderal Kementerian Luar Negeri, Denny Abdi, bersama sejumlah pejabat daerah, tokoh masyarakat, sastrawan, budayawan, dan delegasi dari berbagai negara melakukan penanaman pohon di kawasan wisata Tabiang Barasok Ngarai Sianok, Kota Bukittinggi.


Semula, kegiatan itu dirancang sebagai penanaman 100 bibit pohon. Namun berkat dukungan dari Kapolda Sumatera Barat yang masa itu dijabat Irjen Pol. Gatot Tri Suryanta membuat gerakan itu berkembang menjadi lebih besar: seribu bibit pohon ditanam di kawasan yang menjadi salah satu bentang alam indah Minangkabau tersebut.


Seribu bibit. Seribu harapan.

Seribu akar yang kelak akan mencengkeram tanah agar tidak mudah longsor oleh waktu.


Seribu batang yang suatu hari akan menaungi anak-anak yang belum lahir hari ini.


Seribu daun yang akan bercakap-cakap dengan angin dan mengirimkan oksigen kepada kehidupan.


Bibit pohon diserahkan Kepala Biro SDM Polda Sumatera Barat Kombes Pol. Anissullah M. Ridha kepada Ketua IMLF-4 Sastri Bakry, lalu diteruskan kepada perwakilan ninik mamak Tabiang Barasok. 


Ini, sebuah prosesi sederhana, namun sarat makna.


Dari negara kepada masyarakat.

Dari tangan kepada tangan.

Dari generasi kepada generasi.

Karena pohon tidak akan pernah hidup untuk dirinya sendiri. Pohon hidup untuk masa depan kita dan anak cucu kita nanti. 


Ketua IMLF-4, Sastri Bakry, mengatakan bahwa penanaman pohon menjadi bagian penting dari festival literasi internasional tersebut. 


Sebab,katanya, literasi sejatinya tidak hanya berkaitan dengan membaca buku, tetapi juga membaca tanda-tanda zaman, membaca alam, dan membaca masa depan.


Dan di Tabiang Barasok hari itu, para penyair dunia tidak hanya membaca puisi.


Mereka juga membaca bumi.

Mereka juga membaca hutan.

Mereka juga membaca kecemasan alam yang kian hari kian membutuhkan manusia-manusia yang mau menjaga dan merawatnya.


Usai penanaman pohon, para delegasi dari berbagai negara melanjutkan kegiatan dengan pembacaan puisi.


Kata-kata berterbangan bersama angin yang melintas di dinding tebing. Larik-larik sajak bertemu dengan desir daun. Bahasa bertemu alam. Sastra bertemu kehidupan.


Di antara para pembaca puisi itu hadir pula penyair, sastrawan, wartawan, dan budayawan Pinto Janir asal ranah Minang. 


Dalam kesempatan tersebut, Pinto Janir yang berjulukan " Raja Penyair " ketika diminta tanggapannya, ia menyampaikan pesan yang menggema menyentuh ruang rasa. 


Kata Pinto : "Pada bumi tanamlah pohon, pada manusia tanamlah budi. Jadilah manusia-manusia yang menjaga bumi dengan cinta dan menjaga langit dengan kasih sayang yang tidak membuat ozon makin menipis. Kian tipis ozon, kian terancam bumi dari berbagai penyakit yang menghancurkan kehidupan kita."


Ia melanjutkan bahwa menjaga bumi bukan hanya pekerjaan pemerintah atau aktivis lingkungan semata, melainkan tanggung jawab moral seluruh manusia.


"Untuk menjaga langit dan ozon tidak tipis, pertebal iman, lawan kerakusan atau keserakahan yang menggasak perut bumi, dan jaga hutan dengan hati. Merusak alam berarti menyiksa masa depan anak cucu kita."


Kalimat itu meluncur pelan, namun menghunjam dalam.


Sebab, sesungguhnya kerusakan alam tidak pernah dimulai dari kapak atau gergaji.


Ia dimulai dari keserakahan.

Sebaliknya, pelestarian alam tidak dimulai dari pohon.Ia dimulai dari kesadaran.


Karena itu, penanaman seribu pohon di Tabiang Barasok bukan sekadar kegiatan penghijauan.

Ini adalah penanaman nilai.

Penanaman ingatan.Penanaman tanggung jawab.


Hari itu, para penyair menanam pohon.


Hari itu, para pejabat menanam pohon.


Hari itu, masyarakat menanam pohon.

Namun yang lebih penting, hari itu mereka sedang menanam sesuatu yang lebih dalam dari akar pohon: kesadaran bahwa bumi tidak diwarisi dari nenek moyang semata, melainkan dipinjam dari anak cucu yang akan datang.


Maka ketika senja kelak turun di Tabiang Barasok, dan seribu pohon itu tumbuh meninggi menyentuh langit, mungkin orang-orang tidak lagi mengingat siapa yang menanamnya.

Tetapi bumi akan mengingat.

Angin akan mengingat.


Dan masa depan akan mengingat bahwa pada suatu hari, dalam sebuah festival literasi bernama IMLF-4, puisi dan pohon pernah bertemu untuk merawat kehidupan.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image