H. Nelson dan Jalan Sunyi Kebaikan//Catatan Budaya : Pinto Janir ( Sastrawan & Budayawan)
Malam di Bukittinggi selalu punya cara sendiri untuk menyimpan yang tak selesai diucapkan.
Ia tidak gaduh. Tak berisik. Ia hanya mengirim dingin yang teramat pelan, lalu membiarkan kenangan kembali satu per satu di ruang kenangan.
Udara turun dari antara belahan Gunung Singgalang dan Marapi. Menyentuh kulit. Menyentuh ingatan. Menyentuh sesuatu yang lama tak disentuh: adalah percakapan.
Sudah lama benar saya tak maota-ota dengan abang denai nan satu ini: H. Nelson. Sudah lama tak semeja. Karena, sejak empat tahun belakangan saya menetap di Jakarta.
Sudah lama kami tak saling menakar kata. Sudah lama tak mengaduk malam dengan cerita-cerita tentang ranah, tentang manusia, tentang masa depan yang sering ditinggalkan orang karena sibuk mengejar dirinya sendiri.
Dulu, kalau kami bercakap, waktu sering lupa pulang. Jika dimulai selepas isya, kadang azan subuh yang datang menjemput.
Kata-kata mengalir seperti batang air. Tentang seni yang pelan-pelan kehilangan sarang. Tentang budaya yang mulai asing di tanahnya sendiri. Tentang kampung yang makin ramai dibicarakan, tapi makin sedikit dipikirkan.
Dan dari banyak percakapan itu, saya diam-diam tahu: Haji Nelson bukan orang yang hidup untuk sekadar mengisi hari.
Ia memikirkan sesuatu yang lebih jauh dari dirinya. Lebih jauh dari rumahnya. Lebih jauh dari untung-rugi yang biasa dihitung banyak orang.
Ada orang hidup hanya untuk dirinya saja.
Ada orang hidup sebatas pagar rumahnya.
Ada orang hidup untuk menumpuk, menimbun, menghitung, lalu lupa bagaimana cara menghentikan hitungan.
Tapi ada orang yang hidup untuk membuat orang lain tetap punya alasan bertahan.
Tetap punya alasan sekolah.
Tetap punya alasan bermimpi.
Barangkali, itulah jalan yang dipilih Haji Nelson. Jalan yang tidak ramai. Jalan yang tak minta disorot. Jalan yang kadang hanya dicatat oleh langit.
Mungkin tulisan ini tidak akan membuat beliau senang. Bisa saja beliau tersenyum tipis, lalu berkata, “Ndak usahlah ditulis-tulis.”
Karena saya tahu, beliau bukan orang yang gemar menaruh dirinya di depan pujian. Saya tahu itu, beliau tak suka "diangkat-angkat".
Yang beliau suka, dan mau berhabis habis hari kalau bicara tentang gagasan.
Beliau tak suka diberitakan segala apa apa kebaikan beliau. Kanan memberi, tangan kiri tak boleh tahu. Begitulah adat hidup seorang H Nelson.
Namun ada hal yang tak patut disimpan terlalu lama. Kebaikan, misalnya. Ia harus diberitakan, agar dunia tidak terlalu sibuk pada keburukan.
Maka saya menulis ini. Karena negeri ini butuh teladan yang tidak berteriak. Butuh orang baik yang bekerja tanpa papan nama.
Maaf, Bang... Saya harus menulis tentang abang.
Kamis malam, 14 Mei 2026.
Kami bertemu di hotel miliknya di pusat Bukittinggi. Delapan lantai. Berdiri tegak. Elegan. Arsitektur yang menyatukan Eropa dan Timur dalam satu tarikan garis. Bangunannya mewah.
Tapi malam itu, yang terasa megah justru kerendahan hati tuan rumahnya.
Sore tadi beliau menelepon. Suaranya tetap sama. Tidak berubah. Hangat seperti dulu. Seolah tahun-tahun yang lewat hanya perhentian pendek di antara dua percakapan.
Beliau mengundang saya ke acara syukuran lulusan santri di Pondok Pesantren H. Muhammad Nadis.
Saya datang.
Saya melihat.
Saya lama terdiam.
Pesantren itu berdiri dengan wajah yang tenang. Halamannya tertata indah dan rapi. .Di tengahnya, masjid menjulang, seakan menjadi nadi yang terus mengalirkan doa.
Orang akan mudah mengira semua itu dibangun dengan angka-angka besar. Dengan biaya yang tak sedikit.
Padahal, yang paling mahal bukan semen. Bukan besi. Bukan dinding.
Yang paling mahal adalah niat yang tidak goyah.
Yang paling mahal adalah tangan yang terus memberi tiada henti.
Yang paling mahal adalah hati yang tidak letih memikirkan orang lain.
Di sana, semuanya gratis.
Asrama.
Makan.
Buku.
Pakaian.
Para santri adalah anak-anak yatim dan anak anak dari keluarga berekonomi tak mampu.
Tak ada SPP. Tak ada uang pembangunan. Tak ada. Di Pondok Pesantren H Muhammad Nadis, semuanya gratis.
Santri hanya diminta satu hal: belajar. Membaca. Menata masa depan. Selebihnya, ada tangan yang menanggung.
Tangan mulia H Nelson..!
Mereka datang dari rumah-rumah yang mungkin sering lebih akrab dengan kekurangan.
Dari dapur yang kadang tak sempat mengepul. Dari keluarga yang lebih sering menghitung hari daripada uang.
Tapi mereka punya mata yang terang. Punya akal yang tumbuh. Punya cita-cita yang menunggu pintu dibuka.
Dan Haji Nelson membuka pintu itu.
Bukan dengan pidato.
Bukan dengan poster sagadang gadang antah.
Bukan dengan kata-kata besar.
Melainkan dengan pekerjaan yang senyap. Dengan memberi ruang bagi anak-anak yang nyaris tak punya ruang.
Sepuluh tahun silam, saya pernah membuat dua lagu untuk pesantren itu; mars dan hymne. Lagu yang lahir dari rasa hormat.
Sebelumnya, saya juga menulis lagu untuk Mifan, tempat wisata yang juga lahir dari gagasan beliau.
Dari sana saya mengerti: ada orang yang membangun gedung. Ada orang yang membangun harapan. Haji Nelson tampaknya memilih yang kedua. Membangun harapan untuk orang lain.
Ia paham hidup terlalu singkat untuk sekadar menghitung laba.
Ia paham kata yang salah bisa melukai hati orang.
Ia paham, sesudah kita pergi, yang tinggal bukan rekening, melainkan jejak manfaat.
Malam itu beliau meminta saya bicara di hadapan para lulusan.
Saya melihat wajah-wajah muda.
Wajah yang dulu mungkin pernah merasa kecil. Pernah merasa tak punya jalan. Mungkin pernah merasa dunia hanya milik mereka yang lahir dalam kecukupan.
Kini mereka berdiri.
Tegak.
Lulus.
Siap berjalan ke masa depan yang dulu tampak jauh.
Dan saat itu saya sadar, begitulah Tuhan bekerja.
Tuhan menghadirkan sebagian orang untuk menjaga sebagian yang lain.
Tuhan menitipkan rezeki pada satu tangan agar sampai ke tangan yang lain.
Tuhan menaruh kasih sayang pada hati tertentu agar dunia tak sepenuhnya menjadi keras.
Pak Haji, orang seperti engkau memang tak banyak.
Engkau membangun, tapi tak ramai menyebut jasamu.
Engkau memberi, tapi tak menghitung kembali.
Engkau menolong, tapi tak menunggu orang tahu.
Mungkin begitulah hidup seharusnya dijalani:
tak meninggikan suara,
tak melukai sesama,
tak merasa paling berjasa,
dan tak lupa bahwa manusia lain adalah saudara.
Malam di Bukittinggi itu, di bawah langit yang teduh, saya seperti mendengar kembali kalimat lama yang hampir hilang:
bahwa manusia terbaik bukan yang paling banyak memiliki, bukan yang paling sering disebut,
bukan yang paling keras dipuji,
melainkan yang diam-diam membuat orang lain tetap percaya bahwa hidup ini masih layak diperjuangkan.
Salam bahagia, abang.
Untuk H. Nelson: orang yang memilih menanam manfaat, lalu berjalan pergi seolah tak terjadi apa-apa.
Bukittinggi, 14 Mei 2026
