BREAKING NEWS

IMLF dan 100 Tahun Jam Gadang: Menyelamatkan Kata-kata yang Hampir Punah Diterjang Zaman

 


Armaidi Tanjung, sekretaris dan Soni Drestiana, wakil ketua SatuPena Sumbar


Indokatanews Bukittinggi:Ada kata-kata yang tidak pernah mati. Ia hanya menunggu untuk dipanggil kembali. 


Di tengah keriuhan media sosial yang dipenuhi bahasa singkat dan ungkapan serba cepat, Festival Literasi Internasional Minangkabau (IMLF-4) justru mengajak masyarakat menoleh ke belakang, ke halaman-halaman tua kebudayaan Minangkabau yang menyimpan banyak mutiara bahasa.


Karena itulah tiga nama diumumkan sebagai nomine Lomba Ungkapan Kata Klasik Minangkabau: Ermawati Putri Kusuma, Mufrih Nabil Zulhilmi, dan Shahid Harpen Hendavi.


 Ketiganya akan tampil pada babak final di kawasan Taman Jam Gadang, Bukittinggi, Kamis, 4 Juni 2026.


Mereka tidak sekadar berlomba. Mereka sedang menjemput kembali kata-kata yang mulai jarang terdengar di ruang keluarga, di lapau, bahkan di tengah masyarakat Minangkabau sendiri.


Pada sore hari di bawah bayang-bayang Jam Gadang yang memasuki usia seabad, tiga finalis itu akan berdialog menggunakan ungkapan-ungkapan klasik Minangkabau. 


Ini sebuah pertunjukan yang sesungguhnya lebih dekat kepada perayaan ingatan budaya daripada sekadar kompetisi.


Wakil Ketua IMLF-4, Soni Drestiana, menyebutkan bahwa lomba ini dirancang untuk mendorong masyarakat. Terutama, generasi kreator konten, agar kembali menggunakan kata-kata klasik Minangkabau dalam karya-karya digital mereka.


Langkah ini terasa penting. Sebab bahasa bukan hanya alat bicara. Bahasa adalah rumah tempat nilai, adat, petuah, dan kebijaksanaan leluhur bermaqom. 


Ketika sebuah ungkapan hilang, sering kali yang ikut hilang adalah cara pandang sebuah peradaban terhadap kehidupan itu sendiri. 


Karena itu, dewan juri tidak hanya menilai keindahan kata yang diucapkan peserta, tetapi juga kemampuan mereka menempatkan ungkapan klasik itu ke dalam cerita yang hidup dan bermakna.


Sekretaris IMLF-4, Armaidi Tanjung, berharap kata-kata klasik Minangkabau kembali beredar luas di ruang digital dan menjadi bagian dari percakapan sehari-hari. 


Harapan itu diperkuat oleh dukungan LKAAM Sumatera Barat dan Biznet Home yang menyediakan hadiah bagi berbagai kategori lomba dalam IMLF-4.


Pada akhirnya, yang diperebutkan dalam lomba ini bukan sekadar juara pertama, kedua, atau ketiga.

Yang sedang diperjuangkan adalah agar kata-kata warisan nenek moyang tidak tenggelam digilas zaman.


Sebab sebuah bangsa akan kehilangan sebagian jiwanya ketika ia berhenti mengingat bahasa yang melahirkannya.


Dan di usia 100 tahun Jam Gadang, Minangkabau kembali mengingatkan dunia bahwa kebudayaan selalu menemukan jalan untuk hidupbahkan melalui satu kata yang diucapkan dengan penuh cinta.

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image