BREAKING NEWS

Membangkik Batang Tarandam: Saat PSTS Tabing Menolak Lupa..!

 


Padang seperti sedang mengingat dirinya sendiri.

Di sebuah ruang sederhana di Asrama Haji Tabing, Minggu siang itu, orang-orang berkumpul. 


Berkumpul, bukan sekadar menghadiri pelantikan. Bukan pula sekadar menyaksikan seremoni. Mereka datang membawa sesuatu yang lebih tua dari sekadar jabatan: kenangan, harapan dan keyakinan bahwa sepakbola pernah dan bisa lagi menjadi kebanggaan. 

PSTS Tabing tidak lahir kemarin. Ia tumbuh dari tanah yang keras, dari lapangan yang tak selalu rata, dari keringat anak-anak muda yang berlari tanpa banyak tanya.

 Lebih dari setengah abad, klub ini menanam nama-nama. Melahirkan pemain. Menjaga api. Lalu waktu berjalan.

Dan seperti banyak klub daerah lainnya, PSTS sempat meredup. Tidak hilang, tapi juga tidak bersinar. Tidak mati, tapi juga tak benar-benar hidup.

Hari itu, mereka seperti ingin mengubah kalimat itu.

Pelantikan pengurus PSTS Tabing periode 2025-2029 menjadi penanda. Penanda bahwa sesuatu hendak dimulai kembali.

Desri Ayunda dipercaya memimpin. Desri didampingi Virza Benzani Dt. Rajo Intan sebagai sekretaris umum, bersama jajaran yang diisi wajah-wajah dengan latar beragam,dari pembinaan hingga penggalangan dana.

Ini bukan sekadar struktur. Ini adalah ikhtiar.

Di antara kursi-kursi yang terisi, tampak Wali Kota Padang Fadly Amran, Ketua DPRD Muharlion, dan mantan wali kota Fauzi Bahar yang kini duduk sebagai penasehat.

 Nama-nama itu penting. Bukan hanya karena jabatan, tetapi karena pesan yang dibawa: sepakbola tidak bisa berjalan sendiri.

Ia butuh kota.

Ia butuh sistem.

Ia butuh kepercayaan.

Ketua Askot PSSI Padang, Mastilizal Aye, mengingatkan sesuatu yang terdengar sederhana, tapi sering dilupakan: sepakbola harus dikelola dengan serius. 


Bukan sekadar semangat, tapi pengetahuan. Bukan sekadar gairah, tapi tata kelola.

Kalimat itu menggantung di ruangan. Ringan, tapi berat maknanya. 

Bagi Desri Ayunda, tugas ini bukan romantisme masa lalu. Ini pekerjaan panjang. Ia tahu betul bahwa sejarah saja tidak cukup untuk menang. Tradisi tidak otomatis melahirkan prestasi.

Namun ia juga tahu: tanpa sejarah, sebuah klub kehilangan jiwa.

“Membangkik Batang Tarandam,” katanya.

Sebuah ungkapan lama. Sebuah tekad baru.

Membangkitkan yang pernah tenggelam. Mengangkat yang sempat hilang. Bukan dengan nostalgia, tapi dengan kerja.

Optimisme itu bukan tanpa alasan. PSTS pernah menjadi ruang lahirnya talenta-talenta yang berbicara di level lebih tinggi. Dan dalam sepakbola, memori semacam itu adalah modal ,asal tidak berhenti sebagai cerita.

Fauzi Bahar, yang kini berada di lingkar penasehat, memilih berbicara tentang konsistensi. Tentang pentingnya pertandingan. Tentang denyut kompetisi yang harus terus dijaga.

Sebab sepakbola tanpa pertandingan adalah janji yang tak pernah ditepati.

Sementara itu, Fadly Amran menempatkan sepakbola dalam bingkai yang lebih luas: pembangunan kota. Baginya, olahraga bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari visi Padang Juara, Padang Sehat.

Pernyataan itu terdengar normatif. Tapi di tangan yang tepat, ia bisa menjadi arah.

Masalahnya selalu sama: siapa yang benar-benar berjalan?

Acara ditutup dengan tausiyah. Suasana menjadi lebih hening. Lebih dalam. Seolah mengingatkan bahwa di balik ambisi dan rencana, ada nilai yang ingin dijaga: yakni kebersamaan! 

Sebab pada akhirnya, klub seperti PSTS tidak hanya hidup dari strategi. Ia hidup dari rasa memiliki.

Dari orang-orang yang datang tanpa diundang.

Dari yang tetap percaya meski lama tak menang.

Dari mereka yang menolak lupa.

Kini, kepengurusan baru telah disahkan. Nama-nama telah ditetapkan. Struktur telah dibentuk. Program akan disusun.

Namun satu pertanyaan tetap tinggal diam, tapi penting:

Apakah ini akan menjadi awal kebangkitan?

Atau sekadar satu lagi pelantikan yang berlalu?

Waktu yang akan menjawab.

Dan sepakbola, seperti biasa, tidak pernah bisa dibohongi. ( Agus Mardi) 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image