BREAKING NEWS

Ujian Mental di Tatami Makassar: Karateka Eternal Champion Menantang Piala Gubernur Sulsel



INDOKATANEWS Makassar -- Setiap turnamen adalah ujian.Bukan hanya kekuatan. Bukan pula sekadar teknik.Tetapi juga keteguhan hati.

Itulah yang akan dihadapi 28 karateka Dojo Eternal Champion Karate Club saat mereka turun gelanggang pada Goju Ass Open Turnamen Piala Gubernur Sulawesi Selatan, Jumat hingga Minggu, 6–8 Februari 2026, di GOR UMI Makassar.

Mereka datang bukan untuk sekadar hadir.Mereka datang untuk mengukur diri.Mereka datang untuk menjawab pertanyaan paling hening dalam diri seorang karateka: sudah sejauh mana latihan menempa mental?

Keikutsertaan para atlet ini bukan keputusan mendadak. Ia lahir dari proses. Dari latihan rutin. Dari disiplin yang dijaga. Dari evaluasi yang panjang. Hal itu ditegaskan melalui surat rekomendasi pelatih, Apriagung Yusuf, SH, Nomor 006/RKM/E-CKC/KL/II/2026.

“Yang kami turunkan adalah karateka yang aktif berlatih, disiplin dan siap secara mental,” ujar Apriagung Yusuf, Selasa (3/2).

Dojo Eternal Champion Karate Club, yang bermarkas di Pampang 2 Lorong 7, Kota Makassar, menjadikan turnamen ini sebagai ujian pembinaan. Ujian atas kerja senyap di dojo. Ujian atas nilai yang diajarkan sejak awal: hormat, berani dan sportif.

Target boleh saja medali. Tapi yang lebih utama adalah cara bertanding. Cara berdiri di tatami. Cara menerima menang dan kalah.

“Kami berharap para atlet mampu mengharumkan nama dojo dan menjunjung tinggi nilai-nilai sportivitas karate,” kata Apriagung.

Para karateka yang akan turun membawa nama dojo adalah: Siti Rabiatul Adawiyah, Eleveebia Eccelscis Catelyne, Nur Afifah, Muh Aqhil Algivari, Nur Al-Ghazali, Ken Januario Biu Pasapangan, Aisyah Aula Varisha, Myesga Athillah Callysta Haris, Nadia Azzahra Suharman, Aidan Syahmi Asman, M Ibrahim Yahya Raba, M Ibrahim, Muh Zavier Alfaro, Oviel Elvio, M Ragil Hidayat, Muh Yusuf Ramadhan, dan Syakila Suci Aras.

Selain itu, turut pula M Rifki Alam, Muh Nur Adakan Gibran, Revalia Kairatun Khizan, M Al Qadri, Afifah Suci Dayanti, Ghadira Rivania Syauqiyah, M Fahril Alfarizki, Farid Nabhan Hamsar, M Alfarizi, M Hossein Ridho, dan Qwinta Liang Pakiding.

Nama-nama itu bukan sekadar daftar.

Ia adalah potret generasi.

Anak-anak latihan. Anak-anak disiplin. Anak-anak yang belajar mengendalikan diri di tengah kerasnya pertandingan.

Di tatami nanti, mereka akan diuji.Oleh lawan. Oleh wasit. Oleh tekanan.Dan terutama, oleh diri sendiri.

Karena dalam karate, medali hanyalah hasil.Yang utama adalah proses.Dan keberanian untuk terus berdiri, meski gugup, meski lelah, meski gentar.

Makassar menjadi saksi.

Tatami menjadi saksi.

Apakah mereka pulang membawa piala, atau pulang membawa pelajaran.Dan,keduanya adalah kemenangan. (Agusmardi) 

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image