BREAKING NEWS

Penjaga Kitab dan Bara yang Tak Pernah Padam//Catatan Budaya: Pinto Janir


Penjaga kitab itu hidup jauh dari nagari. Jauh sekali. Bahkan, terlampau amat jauh.

Saking jauhnya, sampai-sampai suara talempong dan alunan bansi yang dulu menenangkan hatinya kini hanya tinggal gema palsu di tengkoraknya. 

Namun justru dari jarak sejauh itulah ia seolah-olah merasa paling rajin berbicara tentang tanah dan air. 

Tentang asal-usul. Tentang akar. Tentang budaya. Tentang rumah gadang yang katanya selalu ia bawa ke mana-mana, padahal tak lagi ia pijak,jarang ia singgahi. Tak tersilau seperti rindu yang ia gembar-gemborkan. 

Ia pulang kalau ada pesta atau event. Datangnya harus dijemput, pulangnya wajib  diantar panitia. Kalau ada yang membayar ongkos,ia akan datang. Ia akan tiba segera, bila ada “kepentingan”. Katanya, kepentingan akademis !

Ia sering benar mengulang-ulang menyebut nama negeri yang konon dicintainya sepenuh jiwa dan segenap hati. 

Seolah-olah, dengan menyebutnya terus-menerus, cinta akan ranum sendiri.Seranum anggur sirah yang masak di dada yang kering dan tumbuh di kepalanya yang masik. 

Padahal ia sendiri telah lama ragu: apakah itu kasih, atau sekadar hafalan yang diwarisi tanpa pernah benar-benar dipahami. 

Hafalan yang diulang agar terdengar hidup. Hafalan yang diulang agar dirinya terdengar penting. Apakah begitu? 

Nan sebenar-benarnya kaji, ia hanya ingin diakui. Hanya itu. Ingin namanya dicatat pula oleh zaman. Dicatat seperti zaman mencatat Bung Hatta, Haji Agus Salim, Syahrir, Natsir, Chairil, dan Tan Malaka. 

Nama-nama mana yang katanya berbuat bagi kampung dan tanah air tacinto. Ia ingin sebaris dengan mereka. Tidak lebih. Tidak kurang. Keinginan itu halus. 

Nyaris tak terdengar. Tapi menetap, seperti embun yang tampak suci, padahal pelan-pelan membuat daun membusuk.

Ia lupa satu hal: yang ia ukur bukan bayang, melainkan cermin nan sudah rarak. Sudah bercindawan.Empat jangkar di kepala ia rawat dengan rapi. Satu jangkar di pusat ia anggap cukup diberi makan tiap patang kamih malam jumahaik  .

Semangat harus tegak berdiri, katanya. Birahi tak boleh tersumbat. Bila macet, ia takut terancam kanker prostat. 

Begitu pula cintanya pada nagari. Ya, harus tegak berdiri mengepakkan sayap seperti burung garuda yang gagah berani menembus badai. 

Mau hujan petus sekalipun, cintanya, katanya, takkan kandur. Cintanya,cinta  sejati.Cintanya,cinta yang  baranak pinak , seperti paku tersusun rapi. 

E… bala !

Ia sering menyebut dirinya pejuang sejati. Pembela bumi. Pembela langit. Penjaga keadilan semesta. Katanya, apa pun akan ia lakukan demi negeri yang ia cintai. Sekalipun tubuhnya jauh, perjuangannya takkan pernah surut. 

Ia mendoktrin dirinya sebagai pejuang yang unik. Tak apa. Suka-suka dia sajalah. Tapi ketika orang berjuang dengan pikiran, tenaga, waktu, bahkan materi, nan ia berjuang hanya dengan muncung yang jauh dari “mulut”. 

Muncung yang aman.Mulut yang tersumbat. Muncung yang tak berkeringat.  Muncung yang tak pernah menanggung akibat. Yang penting,ia dianggap hebat ! 

Teya, nggak tuh?

Kini ia gemar merenung. Atau lebih tepatnya, gemar memperagakan renungan. Ia ingin tampak seperti filsuf. Padahal filsuf menenun pikiran agar dunia tak robek. Ia justru merenung untuk mencabik-cabik tenunan. 

Negerinya yang damai ia anggap gaduh. Ia tidak merenung seperti air kolam. Ia merenung seperti lumpur berluluk lalu diaduk-aduk sampai berbelit, kusut masai dan marasai.

Ia hanya ikut-ikutan merenung. Merenung orang, merenung pula dirinya. Ia merenung-renungkan badan supaya tampak “berat” dan “barat”. 

Berat oleh istilah. Barat oleh kutipan. Ia terbiasa memberat-beratkan badan, supaya tampak berwibawa. Kepalanya penuh, hanya saja jiwanya hampa. Dadanya sesak, tapi melompong.

Sejak kecil, ia tersansam sembilu yang hingga kini masih nancap di dagingnya. Tak besar, tapi setia. Saat dingin, bernanahlah ia. 

Saat bunga mekar, memerih. Luka tanpa nama itu ia rawat dengan imajinasi asap rokok yang tak pernah diisap, keberanian yang hanya hidup di kepala. 

Ia pemarah. Kepalanya sendiri pernah hendak ia tarah. Karena, pada sebuah panggung ia hendak dipasangkan topi kehormatan. Ruang gedung gemuruh.Orang sudah mulai bertepuk tangan. 

Tapi, apa yang tejadi? 

Topi itu tak muat di kepalanya.  

Ingin sekali ia mengambil kapak untuk menarah kepalanya sendiri. Sejak itu, ia benci pada kepalanya sendiri. Tak diurus-urusnya. 

Ia biarkan rambutnya bergerai-gerai kusut ,biar seperti rambut Albert Einstein. Ia biarkan kutu berpekurajaan di atas kepalanya. 

Kini ia sedang terjangkit wabah skena. Skena orang, skena pula dirinya. Skena orang, skena muda bermuda. Sementara skena dia, skena sembarang kena. Ia tak tahu apa yang diperjuangkan.

Ia hanya tahu apa yang ingin ditampilkan. Ia memang penganut fomo. Bukan homo. Ia bukan pengadu pedang. Ia hanya pengadu halaman-halaman usang  yang ia hamburkan ke mana-mana. Biar,ia dianggap “pemegang kunci” riwayat. 

Ia ingin benar dianggap berjasa oleh nagari, sebab ia merasa dirinya penjaga kitab tua yang dirampok penjajah zaman. 

“Hancur kitab kita dimakan rayap, siapa yang bertanggung jawab, wa ang? Indak! Waa den!” katanya dengan mata membulalak, seperti orang yang takut tak didengar.

“Aden penjaga kitab. Tanggung jawab den berat. Aden tak ingin riwayat negeri kita lenyap. Ini adat. Ini kebudayaan. Jangan main-main. Yang aden urus sejarah bangsa bukan dongeng”

Ia marah kalau dibantah. Gampang benar ia naik suga. Ia meraba-raba sendiri. Tapi tidak seperti meraba-raba bini yang sangat ia cintai. 

Ia seperti orang meraba luka batin yang tak kunjung cegak. Air liurnya melompat-lompat ke sana kemari. Seolah-olah suara keras bisa menggantikan kerja senyap yang sebenarnya tak sebesar yang ia gembar-gemborkan. 

“Kalau mau membaca kitab, datanglah ke tempat den,” katanya suatu kali saat pulang kampung di tahun ketumbar, lantaran ia taragak benar dengan lontong kulik tunjang. “Akan saya layani dengan segelas kopi.”

Jauh dari negeri sendiri, ia merasa paling tahu. Bahkan paling benar. Jarak memberinya martabat palsu. Ilmu dari rantau ia pakai untuk membatalkan kewajiban pulang dengan rendah hati. 

Ia lupa,atau pura-pura lupa,bahwa adab lebih tinggi dari ilmu.

Suatu waktu di sebuah coffee shop, ia memperagakan gambar hewan yang sedang marengge. Dua telapak tangannya,ia dempetkan dan digerakkannya. Orang-orang asing itu terkekeh-kekeh. 

Terkekeh bukan karena lucu.  Ia tak sadar. Yang ditertawakan orang bukan gambar. Bukan peristiwa. Yang ditertawakan adalah ketimpangan antara laku dan ilmu. Antara gaya dan isi.

Penjaga kitab itu percaya pada layar, sinyal, angka, grafik dan kecepatan. Ia menyangka,  meninggalkan kampung dan jarang pulang adalah tanda kemajuan.

Tanda orang hebat.Tanda orang pintar. Tanda orang terpakai di mana-mana. Padahal hasratnya sederhana: ingin dianggap ada. Hanya itu saja.

Bila namanya mulai pudar di nagari sendiri, itu lebih menyakitkan baginya daripada kehilangan apa pun, kecuali kehilangan bini. 

Ia bagak, tapi penakut ke bini. Mulut bini cipas. Bininya pelekat tangan. Salah sedikit, tangkai sanduk lekat di kuduknya. Mungkin inilah apa yang disebut dengan : “takut pada kuasa domestik,tapi agresif di ruang publik”.

Suatu hari, ia membuka kitab usang. Membaca pelan. Takut membangunkan sesuatu dalam dirinya. Di sana ada pesan kebudayaan dari seorang pujangga yang baru pulang dari pertapaan di puncak gunung kata dan pikiran serta hati.

Pujangga itu menulis  dengan marah yang telah dijinakkan dan ditawa-tawai dengan mantra bernuklis raso jo pareso.

“Hei…Penjaga Kitab,pulanglah ke jalan hati,” bisik kata pujangga. “Berkumur-kumurlah, jangan berkumuh-kumuh. Menjahit lebih susah daripada mencabik. Belanda sudah dekat.”

Ia tersintak. Menyalakan catus. Sebentar. Ada bau hangit. Lekas-lekas  ia padamkan api catus itu. Selain takut pada bini, ia juga takut pada api. Ia takut, api membakar kitabnya.  

Tapi mengapa di telapak tangannya, ia menimang bara? Bara itu memang  tidak menyala. Tidak pula riuh. Tapi, tekun membakar. Akibatnya, tangannya melepuh pelan.

Ketika tangannya terpanggang, ia teringat rumah gadang. Teringat amak. Hampir saja ia tapakik mahimbau amak. Hampir. Tapi pekik dan ratap itu ia tahan. Ratap baginya tanda kalah. Jangankan kalah, podoh saja ia tak mau. Ia terus melawan, tanpa tahu siapa yang dilawan .

Ketika pikirannya mulai melemah, angan-angannya menguat. Ia rindu pulang. Ia rindu rumah gadang. Ia rindu pepatah kampung: nan barek samo dipikua, ringan samo dijinjiang.

Namun dendam membuatnya memikul beban sendiri. Bahu terasa paling berat. Ia berang; mana yang barek samo dipikua nan ringan samo dijinjiang tu? 

Ia merasa ditinggalkan di saat mana ; ia sudah berulang kali minta  diajak ! 

Ia marah.  Ia tahu: amarah sering disangka keberanian. Membenci lebih mudah daripada mengakui tak berdaya. Luka menjelma kebenaran. Dendam menjadi mahkota. 

Ia dan dirinya memang benang kusut.Rumit untuk diurai. Ia dan pikirannya.Ia dan batang tubuhnya seperti sarang tampuo. 

"Kusuik sarang tampuo, api manyalasaian". 

Pepatah ini mengiang kembali di anak telinganya.Mendengar api,ia menggigil.  Tapi, ia terus melawan. Terus memberontak. 

“Aku benar karena tersakiti.Aku benar karena marah,” bisiknya. Berulang. Hingga ia percaya.

Ia tidak sadar, bahwa kebencian yang dipelihara terlalu lama, justru tak menyerang lawan. Yang ia serang malah batang tubuhnya sendiri. 

Napasnya memendek. Ia seperti beruk bertali pendek yang meratap melihat pohon kelapa yang tinggi. Ini yang membuat tidurnya ramuak-ramuak. Mimpinya tak jelas. Tak lagi berwarna. 

Marah dan benci menyusup hingga ke dalam mimpi, mengundang penyakit jiwa dan tubuhnya yang sudah mulai melemah.

“Datanglah… datanglah…”

Suara itu seperti suara horor di filem. Pintu sudah lama ia buka.

Dan kini, di ruang paling haniang: penjaga kitab itu membusuk dalam lukah kebencian dan amuk amarah yang ia rawat terus-menerus. 

Buku-buku jiwanya tak lagi terpelihara. Rayap silih berganti, leluasa menggerogoti halaman perasaannya yang kacau. Sudut batinnya dijajah, seperti penjajah menggisa nagarinya …

Ia teringat pesan gaek: alam tak menyukai marah yang dipelihara. Dendam bukan tanda kuat. Amarah bahasa terakhir dari jiwa pekak dan pangana yang pendek.

Penjaga kitab itu masih memegang kunci. Kunci penjara yang dibangunnya sendiri. Tapi ia tak berani membuka dengan kasih sayang dan berkata tanpa melukai orang !

Dengkurnya makin keras, pertanda jiwanya sudah Lelah,luka bathinnya makin menganga. 

Ia terlelap di antara buku-buku tua, rayap menggerogoti dan bara yang tak pernah padam.

Ia terpanggang sendiri. 

Api kebencian makin menjadi-jadi ketika cecak-cecak di dinding yang diam-diam merayap itu ikut pula menghambus-hambusnya. 

Sementara, tikus-tikus berbaris antri menggigit kaki dan mengoyak-ngoyak buku dan mimpi-mimpinya. 

Ia membusuk !

(Jakarta, 5 Februari 2026)


Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image