Peluh, Pikiran, Ranah ; Hamdanus dalam Napas Budaya//Catatan Pinto Janir
Langit sore di Jakarta berwarna perak kelabu, bergurat jingga, seakan matahari dan awan saling berebut kuas. Berebut, bukan untuk menang, hanya untuk meninggalkan jejak semata. Udara agak lindap. Memang, siang tadi rinai jatuh sebentar.
Ia sempat menyiram debu di jalanan, mungkin ini sekadar mengingatkan bahwa bumi masih mau menerima air. Air kehidupan !
Aku membuka jendela sedikit. Langit tampak seperti sabak tua, hitam keabu-abuan, tempat guru-guru masa kecil dulu menulis angka dan huruf dengan kapur putih. Sedikit angin masuk. Merasuk.Tapi, tidak menikam.
Segelas kopi hangat mengepul pelan. Di antara uap kopi dan desir sore, pikiranku kembali menjalar ke bilik-bilik “entah” yang tak pernah selesai kupahami.
Memang, pikiran sulit dijinakkan. Ia selalu berlari lebih dulu dari tubuh.
Dari keterkyusukan itu, sekelabat wajah sahabat terhampar di ruang batinku. Hamdanus namanya. Ia hadir bukan sebagai nama.
Bukan pula sebagai jabatan, melainkan sebagai simbol kegelisahan yang mengurai pikiran menjadi peaksanaan.Menjadi kerja.
Ia tokoh muda, kata orang. Tapi bagiku, ia lebih tepat disebut atlet pikiran dan etika, di mana seseorang yang melatih batinnya setiap hari, sebagaimana atlet melatih ototnya.
Ia mengurus olahraga seperti orang mengurus keyakinan: dengan totalitas. Ia menerjemahkan olahraga bukan sebagai lomba semata, melainkan sebagai cara hidup, sebagai latihan panjang membentuk watak dan integritas anak nagari.
Ia memahami bahwa kemenangan tanpa adab hanyalah bunyi kosong.
Beberapa bulan silam, ia diamanahkan menjadi Ketua Umum KONI Sumatera Barat. Aku tahu, amanah itu bukan kalung kehormatan, melainkan beban moril yang berat.
Terlebih ketika ia harus mengurai benang kusut masa lalu: hampir delapan tahun PORPROV Sumbar tenggelam, tak pernah ada. Atlet kehilangan panggung, prestasi kehilangan rumah. Di PON, medali emas menjauh, seperti kenangan yang enggan pulang.
Ranah ini seperti menahan luka, tapi diam. Seperti orang Minang yang pandai menyembunyikan perih di balik senyum dan kata-kata halus.
Yang Hamdanus inginkan sederhana, tapi berat: prestasi kembali bernapas, kebanggaan kembali berumah, keharuman kembali singgah di ranah bundo.
Untuk itu ia mewakafkan waktu, tenaga, bahkan materi. Ia bekerja bukan untuk sorak-sorai, melainkan untuk sesuatu yang lebih hening, yakni harga diri kolektif.
Sore makin condong saja ke senja. Aku membakar sebatang rokok. Asapnya naik perlahan, mengabur lalu lenyap. Di antara kepulan asap itu, pikiranku berbelok meninggalkan Jakarta, meninggalkan kopi, dan memasuki lorong lain--- lorong para filsuf dan pujangga, mereka yang sejak lama berpikir tentang tubuh, gerak, seni dan makna.
Aku teringat pada Plato.
Ia seakan duduk di sudut ruang. Jubahnya tenang. Matanya tajam tapi penuh kasih. Dalam batinku ia berkata pelan: “Gymnastics for the body, music for the soul.” Gymnastik untuk tubuh, musik untuk jiwa.
Aku paham, bahwa Plato tidak sedang membicarakan olahraga sebagai lomba, melainkan sebagai pendidikan jiwa. Tubuh, baginya, bukan sekadar daging, melainkan jalan masuk menuju ketertiban batin.
Tanpa olahraga, kata Plato, jiwa menjadi lembek. Tanpa seni dan budaya, tubuh menjadi liar. Aku mengangguk dalam diam. Oke Plato, aku dan kau sepakat. Di ranah Minang, di nagari kami tacinto, sudah sejak lama kami diajarkan tahu di nan ampek. Tahu diri. Tahu adat. Dan, tahu batas!
Lalu Aristoteles datang menyusul, lebih membumi. Lebih sistematis, tapi tak kalah bijak. Seakan bayangannya berbisik ke daun telingaku. Katanya, “Hei Bro Pinto, keutamaan lahir dari kebiasaan.Dari pengulangan.Dari latihan yang setia…!”.
Aku mengangguk-angguk balam.
Baginya, tubuh adalah medium untuk melatih kebajikan. Olahraga yang tepat akan mendidik watak. Namun yang berlebihan akan merusak jiwa.
Aku melihat wajah Hamdanus di sini, seseorang yang melatih konsistensi, bukan sekadar hasil. Di Minangkabau, kita menyebutnya alam takambang jadi guru. Di mana segala sesuatu mengajar, asal kita tekun membaca. Segala sesuatu memberi tanda, asal kita arif menyimaknya.
Asap rokokku kian menipis jua. Pikiranku melompat lebih jauh, ke Nietzsche, filsuf yang menertawakan kelemahan dan memuja daya hidup itu. Ia seakan berdiri tegak di hadapanku dan berkata lantang: “There is more wisdom in your body than in your deepest philosophy.”
Oh ya, ada lebih banyak kebijaksanaan di dalam tubuhmu daripada dalam filsafatmu yang terdalam.
Nietzsche mengingatkanku: budaya yang memusuhi tubuh adalah budaya yang sakit. Olahraga, baginya, adalah perayaan daya hidup.Will to power…!
Atlet adalah seniman tubuh, pencipta makna lewat gerak, keberanian dan risiko.
Aku kembali melihat para atlet Sumbar, yang berlatih dalam keterbatasan, menantang sunyi, menantang nasib.
Lalu Johan Huizinga muncul, membawa kata permainan. Dalam Homo Ludens, ia berkata:
“Culture arises and unfolds in and as play.”
Ya, aku paham Johan, bahwa kebudayaan lahir dan berkembang di dalam dan sebagai permainan.
Olahraga, kata Johan , adalah permainan yang disakralkan. Penuh aturan, simbol, ritus, dan kehormatan. Stadion adalah panggung budaya. Atlet adalah pelaku ritual modern. Aku teringat gelanggang silat di kampungku, tempat gerak bukan hanya teknik, tapi adab dan falsafah.
Pierre de Coubertin menyusul, dengan semangat persaudaraan. Ia berkata:
“The important thing is not winning but taking part.”
Yang penting bukan menang, melainkan ikut serta..!
Olahraga baginya adalah proyek peradaban, bahasa universal kemanusiaan. Aku berpikir: bukankah ini sejalan dengan pepatah Minang, basamo mangko manjadi? Bersama barulah bermakna !
Dan di ujung lorong batin itu, Chairil Anwar berdiri pula. Kurus. Matanya cekung. Chairil keras dan menyala.
“Aku ingin hidup seribu tahun lagi,” katanya.
Menanggapi kelantangan Cahiril, apa aku harus bilang wow, gitu. Tak lah !
Bukan tentang umur, tapi tentang keberanian menantang batas. Tubuh sebagai medan perlawanan terhadap takdir. Begitulah Charil.
Di titik ini, semuanya bertaut.
Atlet adalah penyair keberanian yang menulis dengan peluh.
Pujangga adalah penyair keberanian yang menulis dengan rasa yang dipertaruhkan, rindu yang dipendam, cinta yang dilukai dan pikiran yang tak pernah selesai-selesai. Ini persis seperti omabk menghampai pantai.
Hamdanus, dalam diamnya, berada di antara keduanya: atlet pikiran, penyair etika, yang menulis dengan kerja teramat hening di induk sunyi.
Sumatera Barat, dengan PORPROV yang lama terdiam, adalah tubuh yang lelah tapi belum menyerah. Ranah ini terluka, tapi berharap. Seperti orang Minang yang tahu: patah tumbuah, hilang baganti.
Sore benar-benar menjadi senja. Kopi tinggal ampas. Asap rokok telah habis. Tapi satu hal tinggal menetap di dadaku:
Olahraga bukan sekadar pertandingan. Olahraga adalah napas budaya.Ia mengajarkan kita bagaimana bergerak dengan adab,berjuang dengan makna dan menang tanpa kehilangan jiwa.
Dan di sanalah aku melihat Hamdanus, bukan sebagai ‘pejabat olahraga’ melainkan sebagai manusia yang sedang menulis sajak panjang tentang ranah yang ia cintai, dengan peluh, pikiran dan keberanian untuk tetap setia.
Salam Olahraga di maqom budaya !
(Pinto Janir ; Kembangan Jakarta 4 Februari 2026)
