BREAKING NEWS

Batang itu Tak Pernah Tarandam//Opini Kultural : Pinto Janir



Ada kata-kata yang tanpa kita sadari, pelan-pelan melemahkan ingatan kita sendiri. Kata-kata yang terdengar arif, tapi menyimpan rasa kalah. Salah satunya: mambangkik batang tarandam.


Bagi orang Minangkabau, kadang kala, kata itu kerap diucapkan dengan nada bangga. Seolah kita sedang merayakan kebangkitan. Padahal, di baliknya terselip pengakuan diam-diam: bahwa pernah ada masa ketika batang itu tenggelam, ketika kita kalah oleh zaman, ketika kita tertinggal oleh dunia. 


Saya, sejak lama, tak pernah sepenuhnya nyaman dengan frasa itu. Yakni, frasa mambangkik batang tarandam. 


Sebelum menulis catatan ini, saya berbincang dengan Pak Gamawan Fauzi lewat telepon. Percakapan kami singkat. Tapi, cukup untuk menegaskan kegelisahan yang selama ini mengendap. 


Kami sepakat menolak frasa itu, bukan karena menafikan sejarah, melainkan karena kami percaya: batang itu tak pernah tarandam.


“Orang Minangkabau selalu bangkik,” kata Gamawan Fauzi dari balik gagang telepon, siang itu.


“Tatap barani hidup, bukan barani mati.”


Kalimat itu sederhana. Namun begitu,  di sanalah seluruh filsafat hidup Minangkabau berdiam. Berdiam dalam sunyi menggali fakta kebenaran narasi. 


Ya, begitulah. 


Hidup bukan soal heroisme kematian, melainkan keberanian untuk terus berjalan. Bukan tentang jatuh dan bangkit berulangkali, tetapi tentang daya lentur, di mana menekuk tanpa patah, mengalah tanpa kehilangan arah.


Batang pikiran orang Minangkabau adalah batang yang berakar dalam. Ia mungkin diterpa badai. Digerus arus. Kadang miring.Kadang retak. Namun, akarnya tak pernah tercerabut. 


Dari sanalah tumbuh daya cipta, akal budi, dan keberanian merantau.Merantau bukan untuk melarikan diri, tetapi untuk belajar, menimba, lalu memberi makna pada kehidupan ini. 


Masa ini, batang itu berbuah di banyak ladang.

Di dunia energi dan sains, ia menjelma menjadi Archandra Tahar dan Oki Muraza . Arcandra memegang paten-paten perminyakan dunia, Oki tercatat sebagai salah satu ilmuwan paling berpengaruh versi Stanford. 


Mereka bekerja jauh dari hiruk-pikuk tepuk tangan, tapi karyanya menembus batas negara. Gemanya, bagai sinar.Tak ada bunyi, namun menerangi. 


Di dunia teknologi dan ekonomi kreatif, batang itu mengambil bentuk Ferry Unardi dengan Traveloka, Iman Usman dengan Ruangguru, dan Alfatih Timur dengan Kitabisa. 


Mereka membaca zaman, lalu menulis ulang cara manusia bepergian, belajar dan bergotong royong. Inovasi menjadi bahasa baru dari adat yang lama: barek samo dipikua,ringan samo dijinjiang,sasakik sasanang,sahino samalu. 


Semangat solidaritasnya tak pernah lenyap. Nan saciok bak ayam,sadanciang bak basi. Sakik samo dikao,sanang samo diraso. 


Di ruang global, batang itu juga tumbuh tanpa brisik. Andari Gusman berkiprah sebagai talenta dunia di raksasa teknologi internasional. Wempy Dyocta Koto memimpin perusahaan di Eropa. Rio Vamory membawa Sate Padang ke Swiss.Ia membuktikan bahwa identitas tak selalu harus disuarakan keras-keras untuk diakui.


Di seni dan budaya, batang itu hidup dengan caranya sendiri. Ia bernyanyi, menulis, berakting, dan berkarya.Kadang gaduh, kadang lirih. Namun, tak pernah berhenti mencari bentuk. 


Cobalah masuk ke kamar lain. Ke bilik politik misalnya. Lalu,buka pintunya. Di kamar ini,  di dunia politik dan sosial, ia hadir dengan wajah yang beragam: dari Jeffrie Geovanie, Fadli Zon, hingga generasi yang lebih muda seperti Endang Tirtana, Giring Ganesha dan Faldo Maldini. 


Disukai atau tidak, mereka tetap bagian dari denyut zaman.


Semua ini bukan untuk membanggakan diri, apalagi menepuk dada. Ini sekadar pengingat: bahwa kejayaan bukanlah monumen masa lalu yang beku, melainkan proses panjang yang terus bergerak. Kejayaan bukan tentang mengulang cerita lama, melainkan tentang keberanian menulis bab baru di medan yang berbeda.


Karena itu, saya selalu curiga pada nostalgia yang berlebihan. Pada puja-puji masa silam yang membuat kita lupa melihat sekitar. Masa lalu memang penting sebagai penanda arah. 


Tapi, ia tidak seharusnya menjadi tempat tinggal. Orang Minangkabau sejak dulu adalah pengembara. Di kepalanya tersandang pikiran-pikiran. Di bahunya, terpikul tanggung jawab zaman dan amanah kehidupan.  


Ia orang arif. Ia tahu  kapan menetap, kapan bergerak, kapan diam dan kapan melangkah lebih jauh.


Maka bila hari ini masih ada yang berkata orang Minangkabau hanya hebat di masa lalu, barangkali yang perlu diperiksa bukan kenyataan, melainkan cara pandangnya. 


Dunia sudah berubah. Medan juang telah berpindah. Tapi batang itu tetap sama; berakar, bangkik dan terus mencari ‘matahari’ pencerah siang dan mencari bulan penerang kelam. 


Kesimpulannya sederhana, nyaris dangkal, tapi perlu terus diulang:

batang itu tak pernah tarandam.

Ia hidup dalam akal, dalam kerja, dalam keberanian untuk tetap barani hidup di tengah dunia yang terus berubah.


Dan bila masih ada yang ragu, tak perlu berdebat panjang. Dunia hari ini gemar menyimpan data. Biarkan angka dan jejak kerja yang bicara. Kita cukup melangkah, berkarya dan membiarkan waktu menjadi saksi.


Habis cerita.


----Jakarta 27 Januari 2026----

Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image