Mega, Fatmawati, Rumah Gadang, dan Tanah Indrapura // Oleh: Agusmardi
Saya raih foto itu. Saya tatap lama lama. Ada getar di ruang rasa. Walaupun aksara beruntai diksi, gagik saya menjelaskannya.
Saya pandang pandang foto itu kembali. Di belakang kami tergantung lukisan Ibu Fatmawati. Di sebelah saya berdiri Megawati Soekarnoputri, Ketua Umum PDI Perjuangan, putri Sang Proklamator.
Lalu, saya merasa. Mungkin saja bagi sebagian orang, foto itu barangkali hanya dokumentasi seorang kader bersama ketua umum partai.
Bagi saya, tidak begitu. Foto itu menyimpan cerita lain. Tentang seorang perempuan dari Bengkulu yang garis keluarganya bertaut dengan Indrapura.
Kemudian,tentang sebuah rumah gadang yang sudah lama tak berdiri. Tentang tanah yang hingga kini masih disebut sebagai milik keluarga nenek Fatmawati.
Saya bukan orang Jakarta. Saya orang Kambang, Kecamatan Lengayang, Pesisir Selatan. Karena itu, ketika membaca berbagai literatur tentang keluarga Fatmawati, nama Indrapura segera menarik perhatian saya.
Di sana saya menemukan hubungan yang membawa keluarga Megawati ke tanah Pesisir Selatan.
Fatmawati adalah putri Hasan Din dan Siti Chadijah. Hasan Din disebut sebagai keturunan keenam Kerajaan Indrapura dari jalur Putri Galur dan pernah menjadi Konsul Muhammadiyah di Bengkulu.
Siti Chadijah disebut sebagai keturunan Puti Indrapura, keluarga raja dari Kesultanan Indrapura di Pesisir Selatan.
Dari perkawinan mereka lahirlah Fatmawati. Ia kemudian menjadi istri Soekarno dan ibu Megawati Soekarnoputri. Sebuah garis keluarga yang bermula di kawasan pesisir Sumatera kemudian bersambung dengan salah satu keluarga paling penting dalam sejarah Indonesia.
Buya Mas’oed Abidin pernah menyampaikan hal itu dengan tegas. Megawati, katanya, adalah anak Fatmawati, dan karena itu memiliki hubungan dengan Minangkabau melalui garis ibunya.
Ia menyebut Megawati sebagai orang Pesisir Selatan yang merantau ke Bengkulu.
Bagi saya, ucapan itu menarik bukan hanya karena menyangkut seorang tokoh politik. Ia menyentuh cara orang Minangkabau membaca hubungan antara keturunan, kampung asal, dan rantau.
Seseorang dapat lahir jauh dari tanah leluhurnya, tetapi sebuah keluarga tetap membawa cerita asal-usulnya ke mana pun ia bergerak.
Indrapura sendiri memiliki kedudukan penting dalam sejarah pesisir barat Sumatera. Berbagai sumber sejarah mencatat kawasan ini sebagai pusat kekuasaan dan perdagangan.
Pelabuhan Samuderapura pernah menjadi tempat persinggahan saudagar dari berbagai negeri. Laut menjadi jalan bagi barang, manusia, agama, dan kebudayaan untuk bergerak dari satu wilayah ke wilayah lain.
Tradisi pelaut, pedagang, dan ulama tumbuh di kawasan itu. Indrapura tidak hanya hidup sebagai sebuah nama kerajaan, tetapi sebagai ruang pertemuan berbagai kekuatan di pesisir barat Sumatera.
Dari lingkungan itulah, menurut silsilah keluarga yang saya baca, garis keturunan Fatmawati bersambung.
Fatmawati kemudian memasuki panggung sejarah yang jauh lebih besar. Tangannya menjahit Bendera Pusaka Merah Putih. Namanya tercatat dalam kisah kelahiran Republik Indonesia.
Dari Bengkulu, ia menjadi bagian dari keluarga Soekarno. Dari keluarga itu kemudian lahir Megawati, yang bertahun-tahun berada di tengah pusaran politik nasional.
Karena itu, ketika PDI Perjuangan berkali-kali mengalami kekalahan dalam pemilihan di Sumatera Barat, saya tidak pernah menjadikannya alasan untuk menyalahkan orang Minang.
Saya memahami bahwa pilihan politik masyarakat tidak ditentukan semata oleh hubungan genealogis.
Irwan Prayitno, ketika menjadi Gubernur Sumatera Barat, pernah menyampaikan bahwa orang Minang tetap menaruh penghormatan kepada keluarga Bung Karno karena melihat adanya hubungan dengan Minangkabau melalui Fatmawati dan Indrapura.
Bagi saya, cerita itu menjadi semakin konkret pada 2020. Sejumlah pencinta Keminangkabauan bersama DPD PDI Perjuangan Sumatera Barat yang dipimpin Dian Ihkwan melakukan penelusuran ke Indopuro.
Di sana mereka menemukan bekas sandi dan batu umpak yang diyakini merupakan bagian dari tempat berdirinya rumah gadang keluarga Gadijah, ibunda Fatmawati.
Rumah itu sudah tidak ada. Yang tersisa adalah tanah dan beberapa tanda lama yang masih dapat ditemukan di sana.
Keluarga setempat masih menyebut tanah tersebut sebagai milik nenek Gadijah pada masa lalu. Mereka bahkan menyatakan terbuka jika Megawati dan keluarga hendak membangun kembali rumah gadang itu.
Bagi saya, di situlah sebuah kisah sejarah menjadi nyata. Tanah tidak banyak bicara. Batu umpak juga tidak. Tetapi keduanya cukup untuk membuat seseorang bertanya: ke mana sebuah keluarga pergi setelah rumahnya hilang?
Pertanyaan itu yang terlintas ketika saya berdiri di samping Ibu Mega.
Saya tidak menyampaikan apa-apa. Hanya berkata dalam hati, “Bu, rumah nenek kita di Indopuro masih menunggu.”
Saya anak rang Pasisia. Saya pernah menjadi kader Partai Golkar. Saya juga pernah menggunakan kendaraan PDI Perjuangan ketika mencalonkan diri sebagai anggota legislatif.
Pengalaman itu membuat saya tahu bahwa politik memiliki musim, perhitungan, kepentingan, dan batas waktunya sendiri.
Sejarah bekerja dengan cara berbeda.
Ia bertahan dalam nama keluarga, tanah, cerita orang tua, batu umpak, dan ingatan sebuah kampung.
Karena itu saya merasa memiliki alasan untuk mempertahankan kisah hubungan keluarga Fatmawati dengan Indrapura.
Bukan semata karena saya pernah berada di dalam kendaraan politik PDI Perjuangan, tetapi karena saya berasal dari Pesisir Selatan dan merasa ada bagian dari sejarah daerah saya yang pantas dan patut dirawat.
Megawati adalah putri Fatmawati. Puan Maharani adalah cucu Megawati.
Saya, Agusmardi, menyebut diri sebagai dunsanak yang masih menjaga cerita kampung.
Jika kemudian ada yang bertanya mengapa saya tetap setia kepada Ibu Mega, jawabannya bukan sekadar perkara pemilu.
Ada sejarah keluarga yang membuat saya merasa memiliki kedekatan dengan kisah tersebut.
Karena itu saya berharap PDI Perjuangan Sumatera Barat melihat Indrapura bukan hanya sebagai tempat yang disebut dalam buku sejarah atau nama yang muncul dalam percakapan politik.
Ada sebuah rumah gadang yang pernah berdiri di sana. Ada keluarga yang masih mengenali tanahnya. Ada pula sebuah cerita tentang Fatmawati yang dapat dirawat untuk generasi berikutnya.
Rumah itu dapat dibangun kembali. Bukan sebagai monumen partai, melainkan sebagai ruang sejarah dan kebudayaan. Ia dapat menjadi museum kecil tentang Fatmawati, tentang Indrapura, tentang perjalanan sebuah keluarga dari pesisir Sumatera hingga ke pusat sejarah Republik.
Di tempat itu pula orang dapat melihat bahwa nasionalisme dan ke-Minangkabauan tidak harus berdiri berhadap-hadapan. Keduanya pernah bertemu dalam diri Fatmawati, perempuan yang lahir di Bengkulu dengan garis keluarga yang menurut sejumlah sumber terhubung dengan Indrapura.
Rumah gadang boleh saja hilang. Akan tetapi,tanah tidak selalu ikut kehilangan cerita.
Saya ingin cerita itu tetap ada.
Dari Kambang, saya menatap Indrapura sebagai bagian dari halaman yang belum selesai ditulis.
Untuk Ibu Mega.
